PRESIDEN : SUMBANGKAN GAJI UNTUK ATASI KEMISKINAN

PRESIDEN : SUMBANGKAN GAJI UNTUK ATASI KEMISKINAN[1]

 

Jakarta, Media

Guna membantu upaya pemerintah mengatasi masalah kemiskinan, Presiden Soeharto kemarin mempelopori untuk menyumbangkan gajinya bagi program tersebut.

Pak Harto, menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Saadilah Mursjid, tidak hanya akan menyumbangkan gaji pokoknya saja, tetapi juga tunjangan­ tunjangan lainnya sebagai Kepala Negara.

“Ini berarti gajinya sebagai Presiden disumbangkan seluruhnya untuk mengentaskan kemiskinan.” kata Saadilah saat menjelaskan hasil Sidang Kabinet Pembangunan VII yang pertama bersama Menteri Penerangan (Menpen) Alwi Dahlan dan Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita di Bina Graha kemarin.

Mengapa Pak Harto rela menyerahkan seluruh gajinya untuk pengentasan kemiskinan? Karena, begitu penjelasan Mensesneg, gaji Kepala Negara dari pensiunnya sebagai Jenderal Besar TNI AD sudah cukup untuk hidup sehari-hari.

“Pensiunan saya sebagai Jenderal Besar TNI AD sudah cukup untuk hidup saya karena saya tidak punya tanggungan lagi.” tutur Presiden seperti dikutip Mensesneg.

Menurut Peraturan Menteri Keuangan yang dikeluarkan tahun 1993, gaji berikut tunjangan yang diterima Presiden berkisar Rp.15 juta. Sedangkan gaji pembantu Presiden (menteri) berkisar Rp. 3-5 juta. Menurut Saadilah gaji pokok yang disumbangkan ini antara lain adalah untuk membantu para pengelola warung-warung kecil sehingga mereka bisa menjual makanannya dengan murah, namun tetap bergizi.

“Ini akan sangat berarti bagi kalangan yang untuk bisa makan tiga kali sehari saja masih sulit.” ujarnya.

Menteri Setahun

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Soeharto juga menginstruksikan agar para menteri, Gubernur, dan pejabat eselon I menyumbangkan gaji pokoknya selama setahun untuk membantu mengentaskan kemiskinan.

Menteri Sekretaris Negara menjelaskan bahwa penjabaran mekanisme operasional, pengaturan cara pengumpulan dananya dan mekanisme pemanfaatan penyumbangan gaji ini akan diatur oleh Menteri Sosial Siti Hardiyanti Rukmana.

“Pelaksanaan sumbangan gaji pokok ini akan dimulai Maret ini.” tambah Saadilah Mursjid.

Pada Sidang Kabinet yang juga dihadiri Wakil Presiden BJ Habibie dan seluruh Menteri Kabinet Pembangunan VII ini, Kepala Negara memanfaatkan sebagian besar waktu untuk menjelaskan situasi ekonomi terakhir, termasuk hubungan dengan IMF (Dana Moneter Internasional).

Tanggapan Positif

Langkah yang diambil Pak Harto segera saja mendapat tanggapan positif dari para anggota DPR. Persoalannya, apakah para anggota DPR, khususnya pimpinan MPR/DPR, akan mengikuti langkah Pak Harto?

Ditanya soal ini, Ketua DPR Harmoko mengatakan pihaknya akan melakukan rapat untuk membahas masalah tersebut. Ia menjelaskan dalam waktu dekat pimpinan DPR bersama pimpinan fraksi mengadakan rapat untuk membahas rencana menyumbangkan gajinya kepada negara.

Ditanya berapa besar potongan gaji yang akan di serahkan kepada negara, Harmoko mengatakan,

“Saya tidak bisa memutuskan sendiri karena pimpinan dewan itu kolektif”

Namun Wakil Ketua MPR/DPR Syarwan Harmid mengingatkan memberi sumbangan itu harus sesuai dengan kemampuan. Yang penting, kata dia,

“Kita perlu kerja keras di bidang masing-masing dan menggunakan waktu secara maksimal. Kalau ada yang mempunyai uang banyak, ya boleh-boleh saja menyumbang. Tetapi kalau menyumbang dari gaji, sedangkan gajinya lebih kecil, lantas apa yang diberikan kepada anak.” katanya.

Ditanya apakah anggota F-PP juga perlu menyumbangkan gajinya untuk negara, Wakil Ketua MPR/DPR (dari F-PP) Ismail Hasan Metareum mengatakan.

“Tetapi kalau kita minta gaji mereka untuk disumbangkan kepada negara, lalu apa yang mereka makan? Itu yang perlu dipertimbangkan. Kalau dalam bentuk pengabdian yang lain bisa dilakukan.” kata Metareum.

Sumber : MEDIA INDONESIA (18/03/1998)

__________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 853-855.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.