PRESIDEN SOEHARTO: WATAK DAN MORAL HARUS JADI PEMBIMBING SAINS DAN TEKNOLOGI

PRESIDEN SOEHARTO: WATAK DAN MORAL HARUS JADI PEMBIMBING SAINS DAN TEKNOLOGI

Watak dan moral harus menjadi pembimbing dan pemberi arah kepada sains dan teknologi. Sains dan teknologi sendiri bersifat netral. Ia akan menjadi baik dan berguna bagi manusia serta dapat membuat orang mdup lebih sejahtera apabila berada di tangan orang yang baik. Sebaliknya, sains dan teknologi dapat menjadi ganas dan kejam apabila berada di tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Bimbingan watak dan moral menjadi semakin penting bagi bangsa Indonesia karena bangsa ini sedang membangun dan mutlak memerlukan pemanfaatan sains dan teknologi untuk memperlancar pelaksanaan pembangunan.

Hal itu dikemukakan Presiden Soeharto ketika membuka Konvensi Alumni Institut Teknologi Bandung 1981 yang berlangsung di Istana Negara, Jumat pagi kemarin.

Dikatakannya, pembangunan merupakan gerak dinamis dan memerlukan gerak gairah masyarakat. Penggerak-penggerak umumnya para sarjana dan dunia sains dengan pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan.

Sains dan teknologi telah membawa perubahan dan loncatan kemajuan yang luar biasa bagi masyarakat. Ada sejumlah bangsa yang tidak memiliki cukup kekayaan alam namun sekarang berada di barisan negara maju berkat kemauan mereka mengembangkan sains dan teknologi. Sebaliknya, banyak bangsa yang sekalipun memiliki kekayaan alam yang berlimpah, namun tetap bergulat melawan keterbelakangan karena belum dapat memanfaatkan sains dan teknologi.

Indonesia berada dalam barisan bangsa yang sedang membangun, malahan baru pada tahap-tahap awal pembangunan. Karenanya pengembangan sains dan teknologi merupakan hal yang mutlak.

"Di sinilah letak tantangan yang besar bagi dunia ilmu pengetahuan bagi kalangan pendidikan tinggi dan bagi para lulusan universitas dan institut kita," kata Presiden.

Diingatkannya, kita sekarang berada dalam Repelita III yang merupakan tahap pertengahan pembangunan jangka panjang 5-6 Repelita yang akan merupakan jangka waktu untuk meletakkan landasan bagi terciptanya masyarakat maju dan sejahtera yang berkeadilan.

Menentukan Pola Pembangunan

Diingatkan oleh Presiden, dalam tahap permulaan pembangunan ini, kita masih mempunyai kesempatan seluas luasnya untuk membangun bangsa dan negara sesuai cara-cara yang kita tentukan sendiri untuk kesejahteraan bersama dan untuk generasi mendatang. Kita masih mempunyai kesempatan sebaik-baiknya untuk melaksanakan pembangunan menurut pola kita sendiri.

"Dalam usaha kita memperoleh dan menerapkan keahlian dan teknologi yang berasal darinegara-negara majujangan hendaknya kita meniru cara hidup mereka yang kurang selaras dengan kebutuhan dan kepribadian kita sendiri," kata Kepala Negara.

Kita harus dapat mengembangkan mutu hidup rakyat kita sesuai dengan martabat kehidupan dan ciri-ciri kepribadian bangsa kita sendiri, yang memuat dalam dirinya hubungan keselarasan antara manusia dengan Tuhan Penciptanya, hubungan keselarasan antara manusia dengan sesama manusia dan hubungan keselarasan antara manusia dengan lingkungan alamnya, yang kesemuanya itu telah dirangkum secara bulat dalam dasar negara dan kepribadian bangsa Pancasila.

Presiden mengharapkan, agar mutu hidup rakyat sebagai hasil proses pembangunan yang memuat unsur-unsur tenggang rasa, pengendalian diri dalam usaha mengolah sumber alam sehingga tidak terkuras habis. Sumber alam wajib dijaga kelestariannya demi generasi mendatang.

Disarankan pula oleh Kepala Negara, pengembangan dan penerapan teknologi harus tepat pada setiap tahap pembangunan. Dalam tahap sekarang ini pengembangan dan penerapan teknologi harus sangat memperhatikan terbukanya kesempatan kerja bagi setiap orang dan dalam memeratakan pembangunan, dalam jangka panjang akan berarti bahwa kita belum sepenuhnya berhasil dalam membangun bangsa.

Sumbangan Pemikiran

Ketua Konvensi Alumni ITB Ir. Kuntoadji, dalam laporannya menyatakan, konvensi diikuti 830 peserta, 240 di antaranya hadir dalam upacara pembukaan itu. Mereka itu merupakan bagian dari sekitar 8 ribu anggota alumni ITB dengan keahlian meliputi 22 disiplin ilmu. Mereka ini telah tersebar di berbagai bidang profesi baik pemerintah maupun swasta, baik di bidang perencanaan penelitian maupun pelaksanaan.

Dari seluruh alumni itu, kini sudah bisa dihimpun sejumlah dana yang mampu memberikan beasiswa kepada 10 mahasiswa.

Konvensi yang akan berlangsung di Hotel Indonesia selama dua hari itu bertemakan "Peranan sains dan teknologi untuk pembangunan guna kelangsungan hidup bangsa". Empat permasalahan akan dibahas dalam konvensi yaitu pola pendidikan sains dan teknologi, pola alih teknologi, membangun masyarakat yang produktif dan efisien serta pola pembangunan yang sekaligus meningkatkan mutu lingkungan hidup.

Ke empat masalah itu akan disajikan sebagai makalah oleh Menteri Perindustrian Ir.AR. Suhud, Menteri PU Ir.Purnomosidi, Rektor ITB Ir. Hariadi P. Supangat dan Gubernur Sumatera Barat Ir.Azwar Anas.

Basil yang akan dicapai a.l. memberikan sumbangan pemikiran untuk menunjang pembangunan nasional dalam hal strategis dan berjangka jauh.

Para isteri alumni dalam program kewanitaan akan meninjau beberapa proyek industri, mengunjungi Taman Minidan Taman Anggrek.

Selesai peresmian pembukaan, Presiden menerima plakat ITB yang diserahkan oleh Ketua Konvensi Ir.Kuntoadji yang kini juga memegang jabatan sebagai Dirut Bapindo. Hadir dalam kesempatan itu sejumlah Menteri Kabinet. (DTS).

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (20/06/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 549-551.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.