PRESIDEN SOEHARTO : TIAP PENGORBANAN TAK SIA-SIA

PRESIDEN SOEHARTO : TIAP PENGORBANAN TAK SIA-SIA[1]

 

Jakarta, Kompas

Bangsa Indonesia saat ini masih dalam perjuangan. Perjuangan berarti pengorbanan.

“Percayalah, setiap pengorbanan itu tidak akan sia-sia, dan Tuhan Yang Maha Kuasa akan selalu memberi petunjuk dan bimbingan kepada kita yang rela berkorban untuk kepentingan negara, bangsa, dan agama.” kata Presiden Soeharto dalam pernyataan spontan sebelum memukul beduk besar pada Gema Dzikir dan Takbir Akbar 1 Syawal 1418 H di bawah Tugu Monas, Jakarta, Kamis (29/1) malam.

Setelah memukul beduk berdiameter dua meter asal Yogyakarta, Kepala Negara mengalunkan takbir pada acara yang megah. Alunan takbir itu lalu disambung Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Hasan Basri, Wakil Presiden Try Sutrisno, Menteri Agama Tarmizi Taher, penyanyi dangdut H. Rhoma Irama, dan seterusnya.

Sebelum memukul beduk dan mengalunkan takbir, Presiden menyampaikan ucapan selamat kepada segenap Muslimin dan Muslimat di seluruh penjuru Nusantara yang telah menyelesaikan ibadah puasa selama bulan Ramadhan.

“Bulan Ramadhan yang penuh ampunan dan berkah, semoga ibadah kita berpuasa diterima Tuhan Yang Maha Kuasa.” kata Presiden.

“Saudara-saudara sekalian, hakikat dari puasa adalah pengendalian diri dan percaya atas dasar iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi bangsa Indonesia yang selalu mendasarkan kekuatannya pada persatuan dan kesatuan bangsa, telah disinari hikmat dari ibadah puasa, dan ini akan merupakan kekuatan untuk dapat menghadapi segala tantangan-tantangan serta hambatan dari perjuangan, khususnya dalam pembangunan. Termasuk, menghadapi krisis-krisis yang sekarang melanda negara dan Tanah Air kita.” tutur Kepala Negara.

Selanjutnya Kepala Negara juga menyerukan,

“Saudara-saudara sekalian pada kesempatan ini saya menyampaikan selamat Idul Fitri 1418 H, maaf lahir dan batin. Untuk selanjutnya marilah kita mengumandangkan kebesaran Asma Allah dengan dzikir dan takbir yang akan saya dahului dengan memukul beduk sebagai tanda pembukaannya.”

Ketika mengalunkan takbir, Presiden didampingi Wapres Try Sutrisno, Ketua Umum MUI KH. Hasan Basri, Menteri Agama Tarmizi Taher, Ketua Umum Gema Dzikir dan takbir 1418 H Probosutedjo, Ketua Badan Kontak Majelis Taklim Dra. Hj. Toety Alawiyah dan lain-lain. Hadir pada acara ini para Menteri Kabinet Pembangunan VI, para pejabat tinggi lembaga tinggi/tertinggi negara, Ny. Try Sutrisno, ratusan santri/santriawati dan para anak yatim piatu serta ribuan umat Islam dari berbagai tempat. Dalam kesempatan ini Menteri Agama Tarmizi Taher, Ketua Umum MUI KH. Hasan Basri, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dan Ketua Umum Gema Dzikir dan Takbir Akbar, Probosutedjo ikut memberi sambutan. Sebelum acara dimulai, hujan deras mengguyur wilayah Monas dan sekitarnya, tapi begitu dimulai, langit terang benderang. Tidak lama acara usai, sekitar pukul 21.00 WIB hujan turun kembali.

Kolosal

Pernyataan spontan, gema suara beduk dan alunan takbir yang dikumandangkan Presiden Soeharto pada malam itu menciptakan suasana tersendiri bagi hadirin. Rhoma Irama yang juga berdiri di panggung bersama Presiden mengatakan, bagaimanapun siraman rohani dari Kepala Negara, apalagi dalam krisismoneter saat ini, sangat penting dan menentukan.

Dien Syamsuddin, Ketua Litbang DPP Golkar mengatakan,

“Saya sangat terharu.”

Senada dengan itu, artis Dorce Gamalama dan Nia Dhaniaty yang hadir saat itu juga menyatakan terharu.

Acara ini juga ditandai pembacan puji-pujian kepada Allah SWT dan dzikir munajat secara kolosal oleh para ibu-ibu di bawah koordinasi Badan Koordinasi Majelis Taklim dan anak-anak yatim piatu pimpinan Hj. Toety Alawiyah. Pelaku utama pagelaran, sekitar 2.350 santri/santriawati serta anak yatim piatu. Pemain gendang rampak sekitar 100 orang. Tampil pula 200 artis Muslim.

Pagelaran berlangsung di atas panggung utama 3.000 meter persegi berbentuk tiga dimensi dengan sembilan kubah mesjid dan disiram dengan permainan warna dengan sinar laser. Tampil pula penyanyi vokal dengan judul Bila tiba Hari Raya oleh Nona, pelajar Pesantren Khusus Yatim As-Syafiyah asal Nusa Tenggara Timur. Sedangkan pergelaran puisi ditampilkan Syifa Fauzia Toety Alawiyah yang membawakan judul Yatim.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Gema Dzikir dan Takbir H. Probosutedjo mengatakan, Gema Dzikir dan Takbir ini sengaja dibuat megah namun tetap sederhana agar terkesan bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah SWT dan bagaimana mengagungkan Asma Allah SWT seperti yang dilakukan MUI dalam pergelaran ini.

“Gema Dzikir dan Takbir ini juga merupakan ungkapan permohonan ampun kepada Allah SWT, semoga bangsa Indonesia segera dapat terbebas dari berbagai kesulitan. Gema Dzikir dan Takbir menjauhkan kita dari setiap perbuatan mungkar dan mendekatkan diri dan selalu ingat akan kekuasaan Allah Yang Maha Esa.” kata Probo.

Menurut Probo, meski pergelaran Dzikir dan Takbir ini besar manfaatnya bagi umat dalam menjauhi kekafiran dan kemunafikan, namun biayanya tidak membebani rakyat, juga tidak membebani pemerintah pusat maupun daerah.

“Seluruh biaya. dihimpun berdasarkan kerelaan, terutama dari para pengusaha Muslim.” kata Probo.

Mungkin, kata Probo, karena pengaruh ‘krisis moneter’ himpunan terhadap para pengusaha Muslim kurang berhasil, surat imbauan yang dikirimkan kepada 18 pengusaha, baru empat pengusaha yang berpartisipasi dengan jumlah Rp.570.000.000 sedangkan lima pengusaha lainnya akan membayar sesudah Hari Raya sebanyak Rp.250.000.000. Seluruh biaya acara ini sekitar Rp.1,5 milyar. Menurut Probo, seluruh biaya itu terlalu besar, namun jika dibagikan dengan jumlah umat Islam di In­donesia paling banyak hanya Rp.10 perorang.

“Kalau disumbangkan kepada fakir miskin atau anak yatim piatu di seluruh Indonesia, juga tidak merata, bahkan bisa menimbulkan iri.” tuturnya.

Meski dana yang dihimpun hanya separuh dari keseluruhan anggaran, kata Probo, namun Gema Dzikir dan Takbir Akbar dapat diselenggarakan sesuai rencana. Kekurangan dana ditanggung MUI, Probosutedjo, dan Sudwikatmono. Seluruh biaya acara ini lebih murah dibanding Gema Dzikir dan Takbir tahun lalu, karena pada pagelaran tahun ini keikutsertaan para artis adalah sumbangan mereka secara suka rela. Pagelaran ini mengutamakan keikutsertaan para anak yatim piatu dan remaja masjid, serta para alim ulama dari berbagai daerah di DKI Jakarta tanpa bayaran. Jumlah peserta dalam pagelaran tidak kurang dari 3.000 orang.

Saling Memaafkan

Usai melaksanakan sholat Ied di masjid Istiqlal, Presiden Soeharto kembali ke kediaman Jalan Cendana. Di hari yang Fitri itu, Kepala Negara mengadakan acara sungkeman dengan sanak-saudara, kerabat, dan semua pihak untuk saling memaafkan, diawali para putra-putri. Dimulai dari keluarga putri sulung, Nyonya Siti Hardiyanti Rukmana bersama Indra Rukmana. Kemudian, keluarga Sigit Hatjojudhanto, lalu keluarga Bambang Trihatmodjo, keluarga Nyonya Siti Hedijati Harijadi Prabowo, keluarga Hutomo Mandala Putra, dan Nyonya Siti Hutami Endang Adiningsih. Presiden Soeharto satu persatu menerima ungkapan maaf dari putra-putri, cucu, dan cicit. Di ruang dalam Jalan Cendana itu, suasana tetap hangat, meski di luar, hujan mengucur deras. Namun, derasnya hujan tak menyurutkan para menteri dan seluruh kerabat untuk bersilaturahmi dengan Presiden Soeharto. Dan para tetamu pun dijemput satu persatu oleh para petugas yang membawa payung cukup besar dan lebar. Tepat pukul 09.35, Wakil Presiden Try Sutrisno beserta Nyonya Tuti Try Sutrisno tiba di Jalan Cendana.

Begitu tiba, Wapres dan Nyonya langsung bersilaturahmi dengan Presiden Soeharto. Seolah tak ingin membuang waktu lebih lama, usai bersilaturahmi, Wapres dan Nyonya langsung meninggalkan tempat untuk kembali ke kediaman dan mengadakan acara serupa. Di kediaman, Wapres dan Nyonya disambut Men PAN TB Silalahi.

Beberapa saat setelah kehadiran Wapres di Jalan Cendana, tampak mantan Wapres Sudharmono didampingi Nyonya EN Sudharmono, mantan Wapres Umar Wirahadikusumah disertai Nyonya Wirahadikusumah, para pengusaha, dan seluruh kerabat lain. Untuk memperlancar acara silaturahmi, para pejabat tinggi dipersilakan masuk melalui pintu depan, sedang para kerabat dekat melalui pintu belakang.

Pukul 09.55, masih di tengah derasnya hujan, pintu gerbang Jalan Cendana resmi ditutup. Walau begitu, masih banyak pula para kerabat dan para menteri yang hadir. Antara lain, Menparpostel Joop Ave, yang langsung dipersilakan lewat pintu belakang. Terakhir, tampak hadir Menristek BJ Habibie yang didampingi Nyonya, kedua putera, Ilham Habibie dan Tarek Habibie beserta istri masing-masing dan seorang cucu. Seperti halnya Menparpostel Joop Ave, Menristek Habibie dan keluarga pun langsung dipersilakan lewat pintu belakang.

Sumber : KOMPAS (01/02/1998)

_________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 10-13.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.