PRESIDEN SOEHARTO TERIMA UN POPULATION AWARD 1989: PERHATIAN PBB AGAR DIARAHKAN KE MASALAH KUALITAS PENDUDUK

PRESIDEN SOEHARTO TERIMA UN POPULATION AWARD 1989: PERHATIAN PBB AGAR DIARAHKAN KE MASALAH KUALITAS PENDUDUK

 

 

New York, Sinar Harapan

Presiden Soeharto pada hari ulang tahunnya yang ke-68 Kamis petang 8 Juni mengusulkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mulai mengarahkan perhatian kepada masalah kualitas penduduk, karena jumlah penduduk yang besar dapat merupakan modal yang sangat besar, andai kata dapat dikembangkan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, yang dapat memanfaatkan sumber daya alam secara, arif.

Kepala Negara dari Indonesia mengemukakan hal itu dalam pidatonya setelah menerima penghargaan, medali dan cek sebesar US$ 12.500 dari Sekretaris Jenderal PBB Javier Perez de Cuellar dalam suatu upacara yang khidmat di ruangan Trnsteeship Council markas besar organisasi dunia itu.

Pemberian penghargaan “United Nations Population Awards 1989” itu diberikan kepada Presiden Soeharto atas jasa, usaha dan peranannya dalam meningkatkan kesadaran tentang kependudukan di Indonesia sehingga tingkat pertumbuhan penduduk menurun mendekati 1,98, meskipun angka kematian juga menurun dan dalam 20 tahun terakhir ini angka kematian kasar menurun dari 44 menjadi 29 per-1.000 penduduk.

Hari Kamis, 8 Juni, bukan saja bersejarah bagi bangsa Indonesia karena pemimpinnya mendapat penghargaan, tetapi juga bagi keluarga Soeharto dengan ulang tahunnya. Ulang tahun Kepala Negara diperingati secara sederhana di Hotel Plaza, New York, di mana keluarga menginap bersama rombongan. Pemotongan nasi tumpeng kecil dengan sejumlah karangan bunga antara lain dari Wakil Presiden dan lbu Sudharmono, mewarnai upacara sederhana itu. Peringatan inihanya dihadiri oleh keluarga, Dubes/Watap RIuntuk PBB Nana Sutrisna dan Nyonya, Dubes RIuntuk AS A. Rarnli dan Nyonya, Mensesneg Moerdiono dan Menlu Ali Alatas masing­-masing juga dengan Nyonya serta wartawan yang mengikuti rombongan ini.

lbu Tien Soeharto mencium suaminya pada peringatan yang berlangsung siang hari itu setelah ia mengunjungi suatu taman bunga di Long Island, demikian laporan wartawan Pembaruan Bachtiar Sitanggang, Moxa Nadeak dan Jennifer C. Mandagie dari New York.

Setelah Sekjen PBB menyerahkan penghargaan kepada Presiden Soeharto, ia menyerahkan penghargaan yang sempat kepada lembaga Program Nasional dan Kependudukan Togo, yang diterima oleh seorang Menteri Agbetra. Menteri Agbetra menyampaikan pidatonya dalam bahasa Perancis setelah Presiden Soeharto dalam bahasa Indonesia.

Ruangan Trusteeship Council yang cukup besar ini, yang berdekatan dengan ruang sidang Dewan Keamanan penuh sesak ketika upacara ini berlangsung. Empat pemain biola, satu diantaranya wanita memainkan lagu klasik ringan sebelum dan di antara pidato serta pada akhir upacara.

Upacara ini dibuka oleh Ketua Komite United Nation s Population Award Mailo Moya Palencia, yang kini adalah duta besar Mexico untuk Jepang, dilanjutkan dengan sambutan singkat Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar yang menjelaskan maksud dari upacara ini. Sejumlah 700 undangan terdiri dari para duta besar/ perwakilan berbagai negara diundang ke upacara ini dan setelah itu sebagian dari mereka di undang pula menghadiri resepsi di lantai 4. Para undangan memberikan ucapan selamat kepada Presiden Soeharto dan Menteri Agbetra dari Togo.

Sebelum upacara ini dimulai Presiden Soeharto dan Sekjen PBB de Cuellar mengadakan pembicaraan singkat sekitar setengah jam sementara Ibu Tien Soeharto bertemu Ny. Cuellar selama sekitar sepuluh menit sebelum bersama-sama bergabung dengan suami masing-masing memasuki ruangan upacara, Ibu Tien Soeharto yang mengenakan kebaya hijau tua duduk di deretan pertama bersama Ny. Cuellar, Ny. Nana Sutresna dan pejabat-pejabat Indonesia lainnya.

 

Pendekatan Terpadu

Kepala Negara dalam pidatonya mengatakan, yang dituntut dari penduduk Indonesia menjelang abad ke-21 tidak saja terbatas pada keseimbangan jumlah penduduk, tetapi juga kualitas yang lebih memadai dan sesuai dengan perubahan zaman yang terjadi dengan cepat. Tuntutan dan tantangan seperti itu sudah tentu harus dihadapi dengan pendekatan yang lebih terpadu, kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif melihat jumlah manusia yang besar sebagai kendala dan membatasi diri pada usaha mencegah kendala itu.

“Sebenarnya, yang haruss kita tanggulangi bukan hanya j urnlah penduduk yang besar, tetapi kualitas yang melekat pada jumlah itu. Penduduk yang besar memang akan merupakan kendala bagi pembangunan atau beban bagi lingkungan, yaitu apabila tidak mempunyai kualitas yang memadai”, kata Kepala Negara dan segera melanjutkannya, “Namun jumlah yang besar itu sebenarnya dapat dikembangkan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, yang dapat memanfaatkan sumber daya alam secara arif dan berkelanjutan seraya menopang kehidupan manusia itu sendiri.”

“Bagi kami di Indonesia, hal ini sangat penting, karena tujuan akhir dari pembangunan karni adalah membangun manusia seutuhnya : tidak hanya dari segi kuantitatif tetapi juga kualitatif. Tidak hanya sebagai kendala, tetapi juga sebagai sumber daya”, Kepala Negara melanjutkan.

Karena itu, kata Presiden Soeharto, dalam menyongsong Pembangunan Jangka Panjang 25 Tahun yang kedua Indonesia, strategi kependudukan akan mencakup pula pendekatan kualitatif yang lebih tertuju pada pengembangan potensi penduduk dalam pembangunan.

“Saya mengusulkan”, kata Presiden Soeharto, “agar perhatian kita bersama juga sudah parus diarahkan pada masalah tersebut. Bantuan negara maju dan badan internasional akan lebih membawakan hasil yang lebih bermanfaat, apabila juga ditujukan pada pemecahan masalah kualitatif ini”.

“Saya menghimbau agar kita bersama-sama memikirkan bagaimana menjadikan penduduk dunia ini sebagai modal bagi pembangunan yang berkelanjutan, yang Sama­ sama sepakat untuk menciptakan kehidupan umat manusia yang lebih baik”.

 

Kunci Pokok

Sebelumnya Kepala Negara mengemukakan, dalam menangani masalah kependudukan, upaya seseorang biarpun seorang pemimpin pemerintah yang populer dengan seluruh pemerintahannya tidak akan ada artinya tanpa partisipasi dari penduduk itu sendiri.

Kunci pokok dalam perkembangan penduduk terutama terletak pada sikap dan perilaku manusia yang menjadi penduduk negara itu, baik sebagai perorangan, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat maupun sebagai warga negara, kata Kepala Negara.

“Karena itu izinkan saya, Yang Mulia Sekretaris Jenderal, menggunakan kesempatan yang berbahagia petang hari ini untuk menyampaikan rasa hormat saya yang sangat dalam dan penghargaan saya yang setinggi-tingginya kepada semua lapisan, golongan dan generasi bangsa saya yang berdiam ribuan mil jauhnya dari tempat upacara ini”.

“Izinkan saya juga menyampaikan ucapan selamat yang sehangat-hangatnya kepada mereka semua, karena saat ini, Presiden mereka, atas nama mereka, menerima anugerah penghargaan yang mereka nilai sangat tinggi ini. Termasuk di dalamnya para ulama, tenaga penyuluh, tenaga kesehatan yang memberi pelayanan, pemuka-pemuka masyarakat, pimpinan organisasi wanita dan pemuda, dalam daftar deretan panjang lainnya Sesungguhnya, anugerah dan kehormatan ini tertuju kepada mereka semua,” kata Kepala Negara.

Menyinggung masalah kependudukan di Indonesia, Presiden Soeharto mengatakan bukanlah hal yang sederhana, tetapi mempunyai banyak segi. Pada waktu memulai pembangunan berencana 20 tahun lalu,penduduk Indonesia berjumlah sekitar 120juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 2% setahun. “Dewasa ini jumlah itu telah mencapai 178 juta, dan untuk dasawarsa ke depan masih akan bertambah terus,” kata Kepala Negara.

Menjelaskan berbagai program kependudukan yang dilakukan, dikatakan, terutama adalah keluarga berencana atau pengendalian kelahiran, dan juga peningkatan kesehatan, peningkatan pendidikan, transmigrasi serta program-program lain yang mendorong gerak perpindahan penduduk ke daerah yang relatif masih kosong.

Menyinggung program keluarga berencana, Kepala Negara mengatakan, dikembangkan strategi dasar pelembagaan dan pembudayaan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Lompatan yang berhasil dilakukan bangsa Indonesia dalam masalah kependudukan ini, kata Presiden Soeharto, merupakan hasil peranan para pemangku norma sosial budaya yang dipercaya masyarakat yaitu para pemuka agama serta pemuka masyarakat lainnya.

“Mereka mengingatkan kami semua bahwa anak bukanlah hanya milik  orang tua yang dapat dianggap sebagai jaminan untuk hari tua, tetapi merupakan titipan Tuhan yang menjadi tanggungjawab setiap orang tua.” (SA)

 

 

Sumber :SINAR HARAPAN (9/06/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 878-881.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.