PRESIDEN SOEHARTO TERIMA BAIK TAWARAN MAJELIS ULAMA PUSAT

PRESIDEN SOEHARTO TERIMA BAIK TAWARAN MAJELIS ULAMA PUSAT [1]

Jakarta, Berita Buana

Presiden Soeharto menerima baik tawaran Majelis Ulama Pusat untuk ikut menjernihkan ekses2 di bidang kerohanian setelah Pemilu 1977. Demikian dijelaskanoleh Ketua MU Pusat Buya Hamka Sabtu siang lalu di Bina Graha selesai para pimpinan Pusat MU diterima Presiden Soeharto.

Buya Hamka mengatakan, Majelis Ulama Pusat ingin berpartisipasi dalam usaha menjernihkan perasaan ummat yang dinilai telah terjadi ”kortsluiting” dalam masalah kerohanian. Dan masalah ini ingin diselamatkan bersama. Bukan dari segi politik, tetapi segi kerohanian.

Hal2 yang dikatakan “kortsluiting” itu menurut Hamka antara lain misalnya ada ummat Islam yang tidak berani pulang ke kampung halamannya sendiri. Tidak boleh berkotbah dan lain2.

“Macam-macamlah ….,”ujar Hamka.

Langkah2 MU dalam usaha ke arah itu antara lain MU akan mengadakan rapat kerja seluruh Indonesia dan dalam rapat tahunan itu akan dibahas langkah2 apa yang akan diambil untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“Agama mencari jalan penyelesaian, bukan meruperuncing …,”ujar tokoh ulama dan sastrawan angkatan tua itu.

Diharapkan dengan jalan itu pelaksanaan Pemilu yang akan datang akan lebih baik. Pelanggaran2 mudah2an akan berkurang.

“Dengan teratur dan tidak serampangan”.

Dalam hubungan ini, menurut Hamka, dalam kesempatan itu Presiden juga mengemukakan konsepnya yakni memberi kesadaran bernegara yang lebih baik dari yang sudah2, jangan hanya berkesadaran berpartai saja.

Ketika ditanya darimana MU mengetahui adanya “kortsluiting” itu, dijawab oleh Hamka dari “public opinion” yang dimuat di koran2.

“ltu berarti Majelis Ulama percaya kepada koran?” tanya seorang wartawan. “Kalau tidak percaya kepada pers, ya susah juga …,” jawab Hamka. Tapi ditambahkan, Majelis Ulama juga punya sumber2 sendiri. (DTS)

Sumber: BERITA BUANA (27/06/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 529-530.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.