PRESIDEN SOEHARTO TEMU WICARA PETANI TAMPUSU SULUT

PRESIDEN SOEHARTO TEMU WICARA PETANI TAMPUSU SULUT

 

 

Tampusu, Manado, Antara

Presiden Soeharto membantah pendapat yang menyebutkan bahwa semua petani atau kelompok petani wajib menjadi anggota KUD, namun diingatkan ketidaksediaan seorang petani menjadi anggota mencerminkan kurangnya kesetiakawanan sosial.

Keanggotaan petani dalam KUD tersebut ditekankan Kepala Negara ketika berbicara dengan para petani dalam acara temu wicara yang berlangsung di Tampusu, Kabupaten Minahasa, Selasa sore. Presiden mengunjungi Sulawesi Utara selama dua hari untuk meresmikan beberapa proyek pembangunan serta membuka musyawarah besar nasional Angkatan 45.

“Ada pengertian bahwa seolah-olah rakyat dipaksa menjadi anggota KUD. Sebetulnya tidak demikian.Kita memberikan petunjuk agar petani menjadi anggota KUD, mereka boleh saja tidak menjadi anggota. Tapi jika pada suatu wilayah sebagian besar petani menjadi anggota, sedangkan ada satu atau dua orang tidak menjadi anggota maka kurang kesetiakawanan sosialnya,” kata Presiden.

Pada acara yang dihadiri Menko Ekuin dan Wasbang Radius Prawiro, Mentan Wardojo, Menteri PU Radinal Moochtar, Mendagri Rudini, serta Pangab Jenderal TNI Try Sutrisno itu, Kepala Negara mengingatkan KUD dibentuk justru untuk memenuhi kebutuhan para petani yang menjadi anggotanya.

KUD berdiri untuk membantu petani memperoleh berbagai jenis sarana produksi dan juga kemudian menolong memasarkan hasil produksi tersebut. Untuk menunjang ucapannya, Kepala Negara menunjuk keluhan seorang petani tentang kurangnya alat pemroses, yang bisa diatasi dengan meminta KUD menyediakan kebutuhan itu.

Seorang petani yang bemama Yan memanfaatkan kesempatan langka ini untuk meminta bantuan Kepala Negara agar mendorong para pengusaha bersedia menanarnkan modal bagi pembangunan pabrik pakan ternak.

Petani tersebut mengatakan Sulawesi Utara memiliki bahan yang cukup bagi pembuatan makanan ternak. Namun hingga sekarang kebutuhan terpaksa didatangkan dari daerah lain.

Presiden Soeharto ketika menjawab pertanyaan ini mengatakan sebaiknya para petani bersama penyuluh pertanian memikirkan berbagai upaya untuk memproduksi sendiri pakan tersebut, karena dapat mengurangi biaya produksi pemeliharaan khususnya ayam ternak.

Akibat hujan yang turun dengan derasnya sejak pagi hari, maka Presiden Soeharto, Ibu Tien, serta rombongannya menggunakan kendaraan untuk menempuh perjalanan sekitar 35 km, dan bukannya menaiki helikopter seperti rencana semula. Hingga Kepala Negara meninggalkan Tampusu, air hujan terus mengguyur daerah ini.

Seorang ibu rumah tangga, Ny. Supit Boroni mengajukan keluhan tentang kesulitan petani setempat memasarkan produksinya seperti jagung, ubi, serta sayur-mayur. Walaupun produksi melimpah, namun harganya sering terlalu rendah, misalnya kubis hanya Rp25/kg.

Presiden ketika menjawab pertanyaan itu mengatakan penganeka ragaman produksi pangan tetap diperlukan karena pertambahan penduduk masih di atas dua persen/tahun.

“Tapi kalau pada suatu saat peningkatan produksi beras mengalami kejenuhan, maka bisa terjadi kekurangan beras, karena itu produksi jagung , dan ubi kayu masih perlu ditingkatkan,” kata Presiden.

Untuk mengatasi kesulitan pemasaran, disarankan agar petani mengolah produksinya, misalnya sagu dioleh menjadi tepung sagu sehingga “usaha menganekaragamkan bahan makanan bisa berhasil.”

 

 

Sumber : ANTARA (19/07/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 642-644.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.