PRESIDEN SOEHARTO: TAK PERLU CARI KAMBING HITAM IMF PLUS, KONSEP MENSTABILKAN NILAI TUKAR RUPIAH

PRESIDEN SOEHARTO: TAK PERLU CARI KAMBING HITAM IMF PLUS, KONSEP MENSTABILKAN NILAI TUKAR RUPIAH[1]

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mengatakan, sejak pertengahan kedua tahun lalu, gelombang gejolak moneter datang menghantam. Seakan-akan semua yang ada bangun dengan su sah-payah, kadang-kadang dengan kepedihan dan pengorbanan, tiba -tiba saja tergoyang-goyang. Kita bukannya tidak tabu akan kemungkinan yang ternyata datang itu.

“Kita tidak perlu mencari kambing hitam. Juga tidak ada gunanya mencari kambing hitam. Jauh lebih berguna kita mawas diri. Kita mencari hikmah dari musibah ini,” kata Presiden Soeharto.

Hal tersebut dikatakan Kepala Negara, Presiden Soeharto ketika menyampaikan Pidato Pertanggungjawaban selaku Mandataris MPR di depan Sidang Umum MPR­ RI di Senayan Jakarta, Minggu (1/3) pagi.

Presiden mengatakan lebih jauh, di waktu-waktu yang lalu telah dikatakan bahwa satunya perekonomian  dunia. Pengaruh itu datang lebih cepat dari yang kita perkirakan. Akibat-akibat buruknya jauh lebih besar dari yang kita dapat bayangkan.

Ternyata ketahanan ekonomi kita tidak cukup kuat menghadapi pukulan dari luar. Lagi pula, di samping pengaruh di luar, sebagian dari kesulitan yang kita derita hari ini adalah juga karena kelemahan dalam tubuh kita sendiri.

Untuk itu, dengan penuh kesadaran kita harus berani melihat kelemahan dan kekurangan kita sendiri.Dari kelemahan itu kita cari kekuatan. Jika kita berhasil keluar dari kesulitan ini,maka tubuh kita sebagai bangsa akan lebih kuat. Sebab kelemahan­-kelemahan yang ada selama ini akan terkikis, ujar Kepala Negara.

“Kita harus bersedia melakukan apa saja yang harus kita lakukan untuk membebaskan bangsa kita dari krisis ini. Dengan penuh kesadaran, kita harus mengutamakan kepentingan nasional dan kepentingan bersama di atas kepentingan masing-masing,” kata Presiden Soeharto.

 

IMF Plus

Kepala Negara juga mengatakan, dalam menstabilkan nilai rupiah, telah diminta kepada IMF dan para kepala pemerintahan lainnya untuk dapat membantu Indonesia menemukan altenatif yang lebih tepat, yang disebut konsep IMF Plus.

“Saya tidak akan ragu sedikitpun melakukan apa saja untuk mengatasi keadaan, untuk meringankan beban kehidupan rakyat yang bertambah berat. Saya telah mulai melaksanakan dan terus melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi ekonomi yang mendapat dukungan IMF,” ujar Kepala Negara.

Tetapi, tanda-tanda perbaikan belum juga tampak. Kunci utamanya adalah stabilisasi nilai tukar rupiah pada tingkat yang wajar.

“Selama ini belum tercapai, saya tidak dapat melihat perbaikan keadaan dalam waktu dekat ini.Itulah sebabnya saya meminta IMF dan para kepala pemerintahan lainnya kiranya dapat membantu kita menemukan alternatif yang lebih tepat. Saya namakan konsep yang lebih tepat itu sebagai konsep IMF Plus,” kata Presiden.

 

Dewan Mata Uang

Presiden Soeharto mengatakan, sedang menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian kemungkinan menerapkan Sistem Dewan Mata Uang. Langkah-langkah apa pun yang akan kita ambil, kita memerlukan dukungan IMF sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan mempunyai reputasi tinggi. Sangat jelas, pada akhirnya, nasib kita berada di tangan kita sendiri, ujar Kepala Negara.

Mencari jalan keluar yang terbaik itu, telah menjadi perbincangan yang luas di kalangan masyarakat. Dengan niat baik, Presiden menilai positif perbincangan itu. Ini adalah bagian yang dinamis dari proses demokrasi kita. Artinya, sebagai sikap melu handarbeni, rasa ikut memiliki masa depan bersama. Dengan minat yang penuh, Presiden memperhatikan semua pandangan yang dikemukakan.

“Saya mengajak kita semua agar jangan membesar-besarkan perbedaan pandangan, apalagi yang malah membingungkan masyarakat awam. Perbedaan pendapat jangan menjadi benih perpecahan di antara kita. Lebih-lebih, pada saat kita memerlukan persatuan yang sekuat-kuatnya di antara kita agar dapat bersama-sama keluar dengan selamat dari kemelut sekarang ini,” kata Presiden.

Kepala Negara juga mengatakan, hilangnya kepercayaan itulah sumber utama berbagai masalah berat yang dihadapi sekarang ini. Dengan melaksanakan sungguh­-sungguh program-program IMF, diharapkan pulih pula kepercayaan pelaku-pelaku ekonomi di negeri sendiri maupun di luar negeri. Untuk menjamin pelaksanaan yang sebaik-baiknya dari program itu, Presiden telah membentuk dan memimpin sendiri Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan.

Sesuai dengan jadwal waktunya, sebagian program telah dilaksanakan dan sebagian lainnya menyusul kemudian.

“Kita berbulat hati melaksanakan sepenuhnya program ini,” kata Presiden Soeharto.

Langkah-langkah yang telah diambil adalah merevisi RAPBN 1998/ 1999, yang sekarang telah disetujui DPR. Langkah berikutnya adalah melaksanakan program rehabilitasi perbankan dalam rangka membangun kembali sistem perbankan yang sehat.

Program ini meliputi dua unsur utama. Yang pertama adalah penyediaan jaminan penuh oleh pemerintah kepada seluruh nasabah, deposan dan kreditor bank-bank umum nasional. Yang kedua adalah pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional, yang bertanggungjawab untuk memperbaiki bank-bank yang pada saat ini dalam kondisi tidak sehat dan tidak memiliki prospek yang baik, untuk dipulihkan kesehatannya.

Presiden mengatakan pula, telah disetujui penggabungan empat bank milik negara, yaitu BDN, BBD, Bapindo dan Bank Eksim. Bank baru sebagai hasil penggabungan itu diberi nama Bank Catur. Untuk menyehatkan dan memperkuat daya saing bank­ bank swasta, pemerintah telah menetapkan jumlah modal minimal dan mendorong penggabungan di antara mereka.

Langkah-langkah penting lainnya adalah memperlancar perdagangan luar negeri dan perdagangan dalam negeri, memperlancar modal, menghapus monopoli, serta menghapus kemudahan-kemudahan khusus untuk Mobil Nasional dan Industri Pesawat Terbang Nusantara.

“Walaupun kita telah mempunyai dan mulai melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi yang jelas dan mendasar, namun belum ada tanda-tanda bahwa keadaan bertambah baik. Malahan, keadaan kehidupan rakyat bertambah berat,” kata Presiden Soeharto.

Secara menyeluruh, nilai tukar rupiah tetap saja lemah. Sebentar saja menguat, kemudian melemah lagi. Hari-hari terakhir ini nilai tukar satu dolar Amerika berkisar antara Rp9.000 sampai Rp10.000. Akibatnya, perusahaan-perusahaan mengalami kesulitan besar dan menurunkan kegiatannya. Bahaya pengangguran mulai tampak. Harga barang impor atau barang produksi dalam negeri dengan komponen impor yang tinggi menjadi mahal, termasuk harga obat-obatan. Harga barang kebutuhan hidup sehari-hari terdorong bertambah mahal pula.

“Saya merasakan betapa sedihnya hati ibu-ibu rumah tangga dan keluarga­-keluarga yang berpenghasilan rendah menghadapi harga-harga yang membumbung tinggi ini. Masyarakat gelisah. Kesalahpahaman sedikit saja telah menyulut kerusuhan yang lebih besar. Keadaan bertambah buruk karena ada saja mereka yang mengail di air yang sedang keruh. Keadaan perekonomian kita bertambah berat, karena LIC kita tidak diterima oleh kalangan perbankan di luar negeri,” kata Kepala Negara.

Keadaan perekonomian Indonesia, menurut Presiden Soeharto, mengundang keprihatinan sejumlah kepala pemerintahan negara lain. Mereka berdatangan menemui saya. Beberapa lainnya lagi mengadakan pembicaraan telepon dengan saya. Mereka memberi pandangan mengenai cara yang mereka anggap baik untuk mengatasi keadaan kita. Mereka juga memberi uluran tangan. Semuanya itu kita terima dengan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya.

 

Lebih Berat

Dikatakan pula, sampai pertengahan tahun lalu suasana umum di dalam negeri serta suasana regional dari internasional memberi dukungan yang baik bagi kelancaran dan kelanjutan pembangunan nasional. Tetapi, ternyata tahun 1997 adalah tahun keprihatinan bagi Indonesia.

Tahun lalu Indonesia mengalami kecelakaan di darat, di laut dan di udara yang datang silih berganti. Urat nadi perekonomian mulai terganggu. Indonesia juga dilanda musim kering yang panjang. Lahan dan hutan yang terbakar sangat luas. Akibatnya adalah menurunnya produktivitas tanaman, terutama tanaman pangan dan perkebunan. Pada tahun 1997, produksi padi, jagung, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang hijau diperkirakan turun antara 1,3 persen sampai 5,6 persen. Bencana alam ini mengganggu angkutan dan ketersediaan pangan di sejumlah daerah.

Kepala Negara juga mengemukakan tentang datangnya cobaan yang jauh lebih berat lagi, sejak pertengahan tahun ini dengan munculnya krisis keuangan. Kemudian ternyata krisis itu lebih dalam, lebih luas dan lebih lama dari perkiraan siapa pun juga. Padahal, waktu itu fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat. Malahan banyak kalangan ahli yang menganggap merosotnya nilai rupiah sangat tidak wajar.

Krisis itu lalu menyebar dikawasan Asia Timur. Beberapa negara di luar Asia mulai merasakan akibat tidak langsung dari krisis ini.Dunia internasional sadar, bahwa jika tidak benar cara menanganinya, maka krisis ini dapat berkembang menjadi krisis yang berskala global.

Langkah-langkah regional dan internasional telah dilakukan. Tetapi pada akhirnya, pemecahannya terletak ditangan masing-masing negara.

“Tekad kita sudah bulat untuk mengatasi masalah yang kita hadapi ini. Kita akan berjuang habis-habisan untuk melepaskan diri dari krisis,” kata Presiden Soeharto.

Dengan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya, Indonesia menerima bantuan dari lembaga-lembaga internasional dan dari negara-negara sahabat. Semuanya itu jelas membantu upaya Indonesia. Namun, di pundak kita sendirilah terletak beban tanggung jawabnya. Langkah-langkah kita sendirilah yang menentukan keberhasilan atau ketidak-stabilan kita mengatasi krisis ini, kata Presiden.

“Kita sadar bahwa langkah-langkah ini pasti berat. Mungkin sangat berat dan menyakitkan. Kita harus yakin akan kemampuan kita sendiri. Kita harus memusatkan seluruh kekuatan kita untuk memecahkan masalah yang kita hadapi. Kita harus ikhlas berbagi beban seadil-adilnya antara kita sendiri,” tambah Kepala Negara.

Untuk mengatasi krisis moneter ini, pada tanggal 15 Januari 1998 yang lalu, menurut Kepala Negara dia telah menulis surat kepada Direktur Pelaksana IMF disertai dengan program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan. Pro­gram ini mendapat dukungan IMF. Dukungan juga datang dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan sejumlah negara lainnya.

Tujuan pokok program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan itu adalah untuk memulihkan kepercayaan terhadap mata uang rupiah, terhadap lembaga­-lembaga keuangan nasional dan terhadap masa depan perekonomian Indonesia. Memulihkan kepercayaan ini sangatlah penting. (M-5)

Sumber: SUARA PEMBARUAN (01/03/1998)

___________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 30-34.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.