PRESIDEN SOEHARTO: SOLIDARITAS PEJUANG PERLU TERUS DIPELIHARA

PRESIDEN SOEHARTO: SOLIDARITAS PEJUANG PERLU TERUS DIPELIHARA

[1]

Yogyakarta, Kompas

Solidaritas pejuang dan kebanggaan yang lahir dalam suasana perjuangan bersenjata, perlu terus-menerus dipelihara sebagai salah satu sumber kekuatan semangat kebangsaan dalam era globalisasi dunia. Kelangsungan hidup bangsa di masa depan tergantung pada keberhasilan membangkitkan, menggerakkan, menata dan mengarahkan seluruh potensi nasional menjadi bagian dari dunia baru yang saling tergantung satu sama lain. Demikian antara lain dikemukakan Presiden Soeharto dalam sambutan tertulis pada Musyawarah Kerja dan Ulang Tahun ke-48 “Wehrkreise III” Yogyakarta, di Hotel Garuda, Yogyakarta Senin (36/12). Sambutan Presiden disampaikan Ketua Umum Paguyuban Wehrkreise (Daerah Perlawanan) III Yogyakarta, Jenderal TNI (Pum) Soesilo Soedarman. Dikemukakan Kepala Negara, dalam hal tersebut, peranan pemerintah pusat adalah memelihara dan menjarnin persatuan dankesatuan nasional serta merumuskan kebijaksanaan nasional berdasar Garis-Garis Besar Haluan Negara yang ditetapkan MPR. Sedang peranan warga negara dan golongan-golongan dalam masyarakat adalah meningkatkan peluang yang terbuka dalam era baru yang akan datang. “Dalam situasi demikian, nilai kejuangan sebagaimana yang dahulu kita miliki sungguh penting,” ungkap Presiden.

“Lebih lanjut, Bersamaan dengan itu, kita perbaiki kelemahan dan kekurangan yang masih menghambat  agar semua sumber daya yang kita miliki dapat kita manfaatkan sebesar-besarNya.”

Serangan Umum 1 Maret ’49

Presiden juga menyatakan, sebagai sesama pejuang selalu mengikuti perkembangan paguyuban ini. Pertemuan akhir tahun ini, dikatakan mengingatkan pada Serangan Balas Gerilya Pertama pada tanggal 30 Desember 1948. Serangan seperti itu kemudian dilakukan bemlang kali, yang berpuncak pada Serangan Umum 1 Maret 1949. Meskipun dengan Serangan Umum 1 Maret 1949, menurut Presiden hanya berhasil menduduki  Ibu Kota Perjuangan selama beberapa jam, namun membawa dampak yang tidak keciI bagi perjuangan bangsa selanjutnya. Khususnya dukungan terhadap perjuangan diplomasi, sehingga tujuan utama Serangan Umum 1 Maret benar-benar tercapai.

“Wehrkreise III” mempakan salah satu komando perlawanan dalam suasana yang amat genting. daerah tanggungjawabnya yang meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta dan juga mencakup lbukota Perjuangan, menyebabkan para pejuangnya langsung terlibat dalam saat-saat yang menentukan sejarah negara. Posisi bersejarah inilah yang menimbulkan rasa solidaritas tinggi dari seluruh pejuang yang pemah tergabung dalam “Wehrkreise”, serta melahirkan rasa bangga masyarakat yang mendiami daerah ini. Karena itulah menurut Presiden dibentuk Paguyuban “Wehrkreise III” Yogyakarta. Paguyuban ini merupakan wadah kemkunan yang lebih ditujukan menggalang persatuan dan kesatuan di antara mantan  warga “Wehrkreise III” Yogyakarta. “Namun, sebagai Paguyuban Pejuang Kemerdekaan, di manapun kita berada dan kegiatan apapun yang kita lakukan,langsung atau tidak langsung kita sama sekali tidak boleh bembah, ialah jiwa dan semangat kita sebagai pejuang, “ungkap Presiden. Jiwa dan semangat pejuang itu dikatakan tetap diperlukan sepanjang zaman, karena pembangunan bangsa memerlukan sikap kepahlawanan dan kegigihan pejuang. Yang juga tidak kalah penting adalah, dengan memelihara dan mempertebal semangat sebagai pejuang, berarti terus menerus menjaga agar arah pembangunan tetap menuju cita-cita kemerdekaan, terbentuknya masyarakat Pancasila.

Menurut Soesilo Soedarman, hidup di suatu masyarakat yang terus bergerak dinamis, menghadapi implikasi utama, yaitu semakin susutnya para pelaku, dan semakin jauhnya jarak antara peristiwa sejarah tersebut dengan generasi di masa depan. Karena itu ia menilai tidak berlebihan implikasi itu menjadikan Muker kali ini memiliki arti strategis untuk masa depan Paguyuban Wehrkreise III Yogyakarta.

Sumber: KOMPAS (31/12/1995)

_______________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 326-328.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.