PRESIDEN SOEHARTO SETUJU: 20 FEBRUARI HARI BURUH INDONESIA

PRESIDEN SOEHARTO SETUJU: 20 FEBRUARI HARI BURUH INDONESIA [1]

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto dalam amanat tertulisnya yang dibacakan oleh Menteri Tenaga Kerja Transkop Prof. Subroto semalam pada ulang tahun ke-4 Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) di Balai Kota DKI Jakarta mengemukakan, hubungan perburuhan yang tidak berdasarkan Pancasila tidak cocok dengan kehidupan masyarakat kita dan pasti tidak menunjang pembangunan yang terus kita lancarkan.

Presiden mengatakan, sejak beberapa tahun lalu, kita telah menciptakan Hubungan Perburuhan Pancasila. Hubungan Perburuhan Pancasila katanya, menempatkan buruh sebagai manusia pembangunan yang tak boleh dianggap semata­mata sebagai faktor produksi, lebih-lebih tak boleh merosot martabatnya hanya sebagai bagian dari mesin besar industri.

Pada bagian permulaan amanatnya Presiden mengemukakan, FBSI yang dibentuk pada 20 Pebruari 1973 merupakan kebangkitan baru dari pada buruh di Indonesia, oleh karena sejak saat itu seluruh buruh di Indonesia telah bersatu ke dalam FBSI. Karena itu, demikian Presiden,

“saya setuju sepenuhnya usul dari FBSI untuk menjadikan tanggal 20 Pebruari sebagai Hari Buruh Indonesia.”

Dengan itu Presiden mengharapkan bahwa kaum buruh dapat menemukan tempat yang tepat dan berperanan secara lebih besar dalam pembangunan bangsa. Harapan itu juga ditujukan pada para usahawan, baik dari perusahaan nasional maupun asing, agar mengambil sikap yang sama terhadap buruh dalam perusahaan.

Lahirnya FBSI, kata Presiden, bukan merupakan akhir dari pada perjuangan kaum buruh. Perjuangan itu masih panjang untuk dapat mencapai tingkat kesejahteraan yang merata dan meluas. Untuk itu pemerintah senantiasa melindungi buruh, sedang dari pihak FBSI sendiri diminta langkah-langkah lanjut yang lebih banyak danlebih baik dalam mengusahakan kesejahteraan anggotanya.

Perkembangan FBSI

Ketua DPP FBSI Sukijat, sementara itu dalam pidatonya mengungkapkan, FBSI dewasa ini mempunyai 2.500.000 anggota, 4.000 basis SBLP, 152 PC SBLP, 118 PD SBLP, 21 PP SBLP, 211 DPC FBSI dan 26 DPD FBSI tersebar pada 26 propinsi.

Meskipun agak terlambat, sampai sekarang telah ada 98 CLA (Perjanjian Kerja Buruh) yang mencakup kurang lebih 1.000 perusahaan.

FBSI telah pula membangun poliklinik buruh yang sekaligus menjadi Pusat-pusat Pendidikan KB di Jakarta dan Bandung. Lain-lainnya menyusul. Selain itu telah pula dibentuk koperasi buruh di Medan, Semarang, Solo, Kudus, Bandung, Sukabumi dll, kata Sukijat menyebut beberapa contoh kemajuan yang telah dicapai selama 4 tahun berdirinya FBSI.

Acara peringatan semalam dihadiri oleh lk. 2.000 orang, terdiri dari buruh tingkat basis di wilayah DKI Jakarta hingga para anggota DPP FBSI. Hadir pula beberapa tamu dari perwakilan ILO, pengurus Puspi dsb.

Pada permulaan acara, Ketua Umum DPP FBSI, Agus Sudono, telah membacakan sebuah pernyataan atas nama kaum buruh seluruh Indonesia yang berisi

”Tanggal 20 Pebruari adalah sebagai Hari Buruh Indonesia”.

Dasar pertimbangannya antara lain disebutkan bahwa tanggal 20 Pebruari  1973 merupakan saat bersejarah di mana kaum buruh seluruh Indonesia telah dipersatukan ke dalam satu wadah, yakni FBSI. (DTS)

Sumber: SUARA KARYA (21/02/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 583-584.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.