PRESIDEN SOEHARTO : SAYA TIDAK MERASA SENDIRI

PRESIDEN SOEHARTO : SAYA TIDAK MERASA SENDIRI[1]

 

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

Bagi Haji Muhammad Soeharto, pengucapan sumpah sebagai Presiden Republik Indonesia pada 11 Maret 1998 merupakan yang ketujuh kalinya. Dengan sumpah tersebut, pria kelahiran desa Kemusuk, Yogyakarta, 8 Juni 1921 itu harus memimpin negeri ini hingga lima tahun kedepan.

Memasuki jabatannya yang ketujuh, Presiden Soeharto akan memimpin 200 juta manusia Indonesia menerjang badai yang menggerogoti ekonomi sejak paruh kedua tahun silam.

Begitu HM Soeharto dipastikan terpilih lagi sebagai presiden, sekitar 1.000 anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) langsung berdiri dan menyampaikan aplaus.

Gemuruh tepuk tangan dari anggota MPR itu mengisyaratkan keyakinan wakil rakyat atas kemampuan HM Soeharto untuk menyelesaikan krisis.

Presiden Soeharto menyadari keberhasilan kepemimpinannya tidak terlepas dari dukungan rakyat Indonesia. Dia pun tidak memungkiri masih adanya kekurangan dalam pembangunan. Dia mengharapkan kekurangan itu bisa terus diperbaiki.

Dalam pidato selepas pengucapan sumpah, Presiden Soeharto meminta anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melakukan kontrol dalam bentuk kritik halus maupun tajam terhadap langkah-langkah kepemimpinannya. Beberapa kalangan menilai sikap Presiden itu menunjukkan keinginannya untuk lebih terbuka.

Bagi Jendral Besar Soeharto, badai krisis bukan barang baru. Ketika menerima Surat Perintah 11 Maret 1966, lelaki yang beroleh sebutan Bapak Pembangunan itu harus berjuang mengangkat negeri ini dari kebangkrutan.

Saat memulai menjabat Presiden, HM Soeharto harus membangun dari nol karena perekonomian Indonesia telah porakporanda. Berbagai kerusuhan sosial, ketidakstabilan politik dan kelangkaan barang telah mendongkrak harga-harga barang. Bahkan, memasuki era 1970-an, laju inflasi sempat melejit hingga 500%. Dengan dukungan rakyat, secara perlahan ekonomi Indonesia mulai bangkit. Melihat fakta sejarah itu, Presiden Soeharto kembali menegaskan badai yang melanda kali ini juga hanya bisa diatasi dengan dukilllgan rakyat.

Presiden Soeharto mengajak rakyat Indonesia untuk bersama-sama berjuang mengatasi krisis kali ini dengan menjalankan hidup prihatin untuk mencapai kebahagiaan di kemudian hari.

“Kalau perlu kita mulai lara lapa dan tapa brata untuk menghadapi tantangan yang kita hadapi saat ini.” ujarnya menjelang acara syukuran keluarga atas terpilihnya kembali HM Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia periode 1998-2003.

Presiden Soeharto menyadari tugas yang akan diembannya kian berat. Namun dia percaya bisa mengatasinya karena tidak berjuang sendirian.

“Saya tidak merasa sendiri. Saya percaya seluruh rakyat pasti tidak akan membiarkan saya berjuang sendiri.”

Dalam pidato pertanggungjawaban yang disampaikan di hadapan MPR 1 Maret silam, Presiden Soeharto menyatakan akan menjalankan 50 poin kesepakatan yang telah ditandangani dengan Dana Moneter Internasional (IMP) 15 Januari 1998 dengan beberapa tambahan.

“Langkah ini saya sebut IMF-Plus.”

Namun, pekan lalu, Presiden Soeharto menilai sejumlah kesepakatan dengan IMF itu tidak sesuai dengan UUD 1945. Pernyataan itu membuat petinggi IMF sewot. Meski begitu, IMF mengisyaratkan kesediaannya meninjau kembali butir-butir kesepakatan yang telah ditandatangani itu.

Kemampuan HM Soeharto mengatasi berbagai masalah yang menghimpit negeri ini, mengantarkan mantan Pangkostrad itu meraih berbagai penghargaan. Baik atas nama pribadi maupun negara, HM Soeharto telah menerima sedikitnya 61 penghargaan.

Komitmennya yang besar untuk mengentaskan kemiskinan, United Nations Development Program (UNDP) memberikan penghargaan atas prestasi anak bangsa itu. Penghargaan dari lembaga dunia itu merupakan yang terbaru. Nama HM Soeharto juga melambung berkat keberhasilannya dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk lewat program Keluarga Berencana. Keberhasilan itu menjadikan Indonesia sebagai tempat berguru bagi negara sedang berkembang lainnya.

Dalam soal Sembako (sembilan bahan pokok) pun nama Indonesia mencuat. Food and Agricultural Organization (FAO) memberikan penghargaan karena di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, Indonesia berubah dari negara pengimpor beras terbesar menjadi swasembada beras.

Di meja politik Internasional, Indonesia kerap menjadi penengah negara-negara bermasalah dalam politik terutama di kawasan Asia Tenggara. Dalam organisasi sembilan negara Asean, nama Indonesia cukup disegani. Nama negeri ini semakin dikenal ketika menjadi tuan rumah pertemuan petinggi negara anggota-anggota APEC. Di mata pemimpin dunia, Pak Harto juga sempat dikenal sebagai Ketua Gerakan Non-blok (1992-1994). Pada masa itu, untuk pertamakalinya organisasi itu diajak duduk bersama dengan negara-negara maju (Kelompok G-7).

Berbeda dengan enam periode sebelumnya, untuk 1998-2003, sorotan pimpinan negara telah bergeser. Sorotan itu banyak terkait dengan krisis ekonomi, khususnya upaya yang akan ditempuh untuk menstabilkan rupiah.

Berbagai komentar tentang Indonesia kian tajam setelah pemerintah berencana memancang dolar dengan menerapkan sistem Dewan Mata Dang (CBS). Hingga sidang umum berakhir, rencana pemancangan itu belum terwujud. Meski banyak yang menyerang, banyak pula yang menantikan pemancangan dolar itu. Bahkan, DPR telah menyatakan dukungannya terhadap langkah yang akan diambil Presiden Soeharto untuk menstabilkan rupiah.

Sosok Presiden Soeharto juga tidak luput dari bahan pergunjingan. Bahkan, gunjingan itu dimanfaatkan untuk menggerakkan perdagangan rupiah-dolar. Tahun 1996, rupiah sempat anjlok saat beredar isu mengenai kesehatan Presiden Soeharto. Tahun lalu, gunjingan itu lebih seru lagi ketika beliau diisukan meninggal dunia.

Ucapan selamat

Kini dengan terpilihnya kembali HM Soeharto sebagai presiden, ucapan selamat dari berbagai negara juga dikaitkan dengan situasi ekonomi Indonesia dan kawasan di masa mendatang, baik yang bernada positif maupun negative. Presiden Filipina Fidel Ramos menyebutkan terpilihnya kembali HM Soeharto sebagai presiden RI akan membuat perbaikan ekonomi di kawasan Asia.

Ramos adalah salah satu pemimpin negara asing yang mengucapkan selamat kepada Soeharto. Dia menuturkan ucapan itu Rabu silam, bertepatan dengan hari pengambilan sumpah HM Soeharto.

“Saya yakin kebijakan, visi dan kepemimpinan anda akan secepatnya memulihkan perekonomian Indonesia dan kemakmuran untuk seluruh rakyat.” tulis Ramos dalam surat khusus untuk Presiden Soeharto.

Ramos juga berharap Soeharto dalam kondisi kesehatan yang baik dan sukses. Dukungan Ramos juga berkaitan dengan upaya Indonesia dalam menyelesaikan masalah dengan Front Pembebasan Nasional Moro, daerah dengan penduduk Muslim terbesar di wilayah selatan Mindanao.

Peranan Presiden Soeharto telah menghasilkan penyelesaian konflik secara damai. Penandatanganan persetujuan damai dilakukan September 1996 sekaligus mengakhiri kekerasan separatis selama seperempat abad yang telah membuat 120 ribu orang tewas.

Pemimpin Cina Jiang Zemin dan PM Li Peng pun menjadi negarawan yang pertama mengirim telegram berisi ucapan selamat kepada Pak Harto.

“Kami ingin menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya kembali.” kata juru bicara kementerian luar negeri Zhu Bangzap seperti yang diberikan kantor berita AP.

Namun dia tidak menjelaskan isi dari telegram tersebut lebih lengkap. Yang pasti ucapan selamat diberikan di tengah pertemuan legislative Cina. Pada kesempatan itu, Kongres Rakyat Cina mengharapkan Jiang Zemin terpilih kembali untuk kedua kalinya. Dia masih mempunyai kesempatan lima tahun lagi menjadi pemimpin. Seperti halnya Li, harus turun sebagai perdana menteri setelah 10 tahun.

Perdana Menteri Jepang Ryutaro Hashimoto direncanakan akan terbang ke Jakarta untuk membicarakan masalah ekonomi dan keuangan dengan Presiden Soeharto. Menurut staf Kementerian Luar Negeri Jepang, pertemuan itu akan berlangsung hari ini dan malam ini pula Hashimoto akan kembali ke negeri.

“Ini acara sangat penting dari kedua pemimpin untuk saling bertukar pandangan secara jujur tentang kestabilan ekonomi Indonesia dan perkembangan hubungan kedua negara.” sambungnya.

Dia mengatakan Jepang berharap Indonesia bisa mengatasi kesulitan keuangan dengan melakukan reformasi ekonomi. Sebelumnya, media massa Jepang melaporkan bahwa Jepang akan menunda pemberian pinjaman sebesar 20 miliar yen (US$156 juta) kepada Indonesia hingga April. Tetapi Menlu Keizo Obuchi mengatakan bantuan akan diberikan sesuai dengan jadwal yang dijanjikan.

Terlama di Asia

Dengan terpilihnya kembali Pak Harto secara aklamasi oleh 1.000 anggota MPR, menjadikannya sebagai pemimpin negara terlama di Asia.

Komentar yang sedikit berbeda muncul dari peraih penghargaan Nobel 1996, Ramos Horta. Ramos yang bersikap kontra penggabungan Timor Timur ke Indonesia itu menyebutkan terpilihnya HM Soeharto sebagai presiden RI merupakan hal mencemarkan nama negara.

Dia mengatakan pemilihan kembali Pak Harto bisa memperburuk krisis ekonomi.

“Indonesia akan semakin tenggelam. Kesulitan ekonomi dan moneter tidak hanya disebabkan faktor ekonomi saja, tetapi juga kekurangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Soeharto.”

Pro dan kontra, tampaknya tidak hanya muncul dari pihak luar negeri. Aksi keprihatinan mahasiswa di dalam negeri digelar di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Ujung Pandang, Bogor, Tegal, Purwokerto, Jember. Aksi itu bukan hanya melibatkan mahasiswa namun juga dosen hingga pimpinan perguruan tinggi tersebut.

Mereka umumnya melontarkan tuntutan penurunan harga-harga, reformasi politik dan ekonomi serta pembentukan pemerintah yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Di tengah himpitan dari luar dan dalam negeri, rupanya tak ada istilah pantang menyerah bagi Pak Harto. Dalam pidatonya 11 Maret silam, Presiden Soeharto menyatakan akan melaksanakan tugas hingga 2003. Pernyataan itu sekaligus menepis spekulasi bahwa Presiden Soeharto akan melepaskan tugasnya di tengah jalan.

Dia menyatakan siap untuk melaksanakan tugas yang terberat sekalipun. Padahal Desember lalu, pasar modal di Indonesia sempat diguncang karena kondisi isu tentang kondisi kesehatannya.

Sekalipun kondisinya membaik, masih banyak kalangan yang meragukan Soeharto bisa menuntaskan kewajibannya hingga masa tugasnya berakhir.

“Rasanya tidak realistis bahwa dia bisa bertahan lama. Bagaimanapun dia sudah tua.” ucap Ariel Haryanto, pengamat politik yang sekarang berada di Singapura itu.

Sumber : BISNIS INDONESIA (15/03/1998)

___________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 244-248.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.