PRESIDEN SOEHARTO : SAYA SEHAT-SEHAT SAJA

PRESIDEN SOEHARTO : SAYA SEHAT-SEHAT SAJA[1]

 

Cilacap, Kompas

“Sampaikan salam saya kepada seluruh penduduk Wuryantoro, semoga dalam keadaan sehat. Dan, saya juga dalam keadaan sehat.” ujar Presiden Soeharto dalam dialog dengan Ny. Sukami, warga Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, pada acara temu wicara dengan Ketua-ketua Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (17/4).

Temu-wicara ini berlangsung pada upacara peresmian Pekan Promosi UPPKS yang berlangsung di tepi pantai yang berhadapan dengan Pulau Nusakambangan dan dihadiri 25.000 undangan. Meskipun tidak dikatakan, tetapi pernyataan tentang kesehatan Presiden itu menepis spekulasi tentang kesehatannya sebagaimana dilansir media massa akhir-akhir ini. Dan kemarin, Presiden nampak segar, banyak tertawa, dan tidak nampak lelah.

Secara singkat Presiden kemudian menceriterakan mengenai masa kecilnya di Desa Wuryantoro.

“Wuryantoro dulu adalah tempat tinggal saya. Saya dulu dibesarkan di Wuryantoro. Kira-kira umur 8 tahun sampai 15 tahun.” tuturnya.

Menurut Presiden, kehidupan di Wuryantoro di masa lalu cukup memprihatinkan.

“Jangankan ada listrik, teplok (lampu minyak tanah) saja tidak ada.” katanya. Kepala Negara juga minta kepada para pelanggan listrik dari PLN untuk rajin membayar tagihan, jangan sampai menunggak. Dikemukakan,

“Kalau menunggak PLN bisa bangkrut, seperti yang terjadi belum lama ini, listrik mati. Kalau listrik mati, baru semua merasa listrik itu penting. Tapi waktu membayar, pura-pura lupa.”

Dalam dialog ini, Presiden juga menekankan listrik masuk desa yang kini telah berlangsung. Bukan hanya untuk para lurah dan beberapa orang saja, melainkan juga untuk penduduk yang tergolong keluarga prasejahtera.

Enam Pabrik

Presiden Soeharto juga meresmikan enam pabrik. Keenam pabrik yang diresmikan itu adalah Pabrik Tepung Terigu Citra Flour Mills Persada di Cilacap, Pabrik Polypropylene PT Polytama Propindo dan pabrik katalis PT Katalis Indotama keduanya di Indramayu, Pabrik Semen Nusantara Cilacap, serta pabrik semen Tuban, PT Semen Gresik dan pabrik semen Unit X PT Indocement Tunggal Perkasa.

Ia dalam kesempatan itu didampingi oleh Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN Haryono Suyono, Mensesneg Moerdiono, Menlu Ali Alatas, Menteri Negara/Ketua BPN Sony Harsono, Menkop/PPK Soebiyakto Tjakrawerdaya, Mentamben IB Sudjana, Menteri Perdagangan dan Perindustrian Tunky Aribowo, Menteri Pertanian Sjarifudin Baharsyah, Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI Prabowo, Siti Hardiyanti (Mbak Tutut), Indra Rukmana, Siti Hutami Pratikto (Mamiek), Gubernur Jateng Suwardi, dan Bupati Cilacap HM Supardi. Presiden dalam kunjungannya ke Cilacap juga sempat membuka lelang massal sapi hasil inseminasi buatan. Saat membuka acara lelang sapi itu, Presiden menetapkan harga patokan lelang sapi seberat 820 kg milik seorang warga Wonosobo. Sapi itu dibeli pengusaha Hasyim S Djoyohadikusumo dengan harga Rp.13 juta.

Kerja Keras

Dalam sambutan tertulis ketika meresmikan pabrik, Kepala Negara menekankan, meski ekonomi Indonesia terus tumbuh dari tahun ke tahun, inflasi dapat dikendalikan hingga tidak mengganggu ekonomi. Pertanian juga maju pesat, bahkan industri maju lebih pesat lagi. Keuangan negara bertambah sehat dan kuat, ekspor berlipat ganda, kesempatan kerja meluas, dan kesejahteraan rakyat bertambah baik, jumlah penduduk miskin berkurang.

Akan tetapi, lanjutnya, kerja keras masih perlu. Sebab, diantara negara-negara ASEAN, Indonesia masih berdiri di belakang mereka. Penduduk miskin saat ini masih 22 juta jiwa.

Salah satu tantangan besar yang harus segera diatasi, menurut Kepala Negara, meningkatkan mutu kehidupan masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, yaitu mereka yang masih tergolong dalam Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I.

Pekerjaan besar ini, lanjut Presiden, tidak bisa ditunda-tunda lagi.

“Selama masih ada di antara bangsa kita yang hidup miskin, maka masyarakat adil makmur belum terwujud.” tandas Kepala Negara.

Selesainya pembangunan tiga pabrik semen yang terletak di Cilacap, Palimanan (Cirebon, Jabar), dan Tuban (Jatim), menurut Kepala Negara, meningkatkan kapasitas produksi semen nasional dalam tahun 1997 akan mencapai lebih 33 juta ton/tahun. Jumlah produksi semen ini cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang diperkirakan sekitar 29 juta ton/tahun.

“Mudah-mudahan kita tidak akan lagi kekurangan semen, seperti yang pernah dialami beberapa tahun yang lalu ujarnya.

Sumber : KOMPAS (19/04/1997)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 791-793.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.