PRESIDEN SOEHARTO: SAYA MENGERTI PENDERITAAN RAKYAT

PRESIDEN SOEHARTO: SAYA MENGERTI PENDERITAAN RAKYAT

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mengatakan percaya bahwa rakyat menyadari betapa pentingnya stabilitas nasional terlebih dalam mengatasi krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini.

Hal itu dikatakan Kepala Negara di Halim Perdanakusuma Sabtu pagi sebelum meninggalkan Jakarta untuk melakukan kunjungan kerja ke Mesir, menghadiri KIT G-15 di Kairo.

Dikatakan, untuk mengatasi krisis seperti sekarang ini dibutuhkan ketenangan, keamanan dan ketenteraman yang semuanya akan dinilai luar, terutama dalam memperbaiki perekonomian nasional. Kita memerlukan investasi. Investor asing tidak mungkin akan tertarik menanamkan modalnya di Indonesia jika stabilitas nasional dan politik tidak terjamin.

Kalau kita tidak memperhatikan stabilitas politik dan stabilitas keamanan akan lebih sulit dalam melakukan perbaikan dan lebih sulit pula dalam melaksanakan pembangunan kata Kepala Negara.

“ABRI tidak akan bertindak kalau tidak ada pelanggaran hukum. Kalau ada yang melanggar hukum dengan terpaksa ABRI bertindak untuk membangun stabilitas nasional dan stabililas politik.”

“Saya mengerti penderitaan rakyat, saya ngerti, saya juga dulu orang miskin dan saya pertimbangkan kalau kita ingin maju kita harus berkorban. Pengorbanan itu diperlukan, seperti dalam pepatah jer besuki mowo beyo, tidak ada sesuatu tanpa pengorbanan. Pengorbanan itulah ibadah kita. Kecuali kalau kita tetapkan sampai sini saja, nggak perlu maju,” kata Kepala Negara.

Presiden Soeharto juga menyatakan keberangkatannya ke Kairo untuk melaksanakan tugas yang telah diamanatkan UUD 1945.

“Karena kesadaran kita sudah tinggi, saya dengan tenang meninggalkan Tanah Air untuk melaksanakan amanat UUD 1945,” kata Kepala Negara.

Sebelumnya, Presiden Soeharto menguraikan bahwa reformasi sudah dilaksanakan sebelum Proklamasi Kemerdekaan. Sampai saat ini terus dilaksanakan reformasi di bidang politik dan hal itu telah ditanggapi positif oleh DPR dengan membahas UU Politik dan Pemilu, dan UU lainnya.

 

Gaji Dan Gabah

Menyinggung tentang kenaikan BBM, Presiden Soeharto mengatakan, sebenarnya sudah lama harus dinaikkan. tapi belum memungk:inkan. Sekarang, karena sudah diperhitungkan, terutama setelah dinaikkannya gaji pegawai negeri dan harga be1i gabah.

“Kita putuskan naik bukan tidak mengerti rakyat menderita. Tapi dengan harga gabah naik dan gaji juga dinaikkan makahal itu dapat meringankan,” ujar Kepala Negara.

Presiden Soeharto juga menanggapi adanya komentar yang menyebut, tidak adil kepada bank diberikan kredit likuiditas yang cukup besar, padahal sebenarnya bisa dialihkan untuk yang lain.

Itu tidak benar, bisa meresahkan rakyat. Bank-bank itu tidak diberi subsidi tapi kredit. Bank-bank diberi kredit karena nasabahnya menarik deposito. Kredit itu akan dikembalikan oleh bank-bank yang meminjam, tegas Presiden Soeharto.

Dalam akhir penjelasannya, Presiden Soeharto meminta jangan karena keinginan untuk reformasi, mengorbankan segalanya, merusak hasil-hasil pembangunan.

 

KTT Ke-8 G-15

Presiden Soeharto bertolak ke Kairo, Mesir guna menghadiri KTT ke-8 G- 5, yang akan berlangsung tanggall 1-13 Mei 1998.

Pesawat MD-11 Garuda Indonesia yang membawa rombongan Kepala Negara, lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta pukul 08.00 WIB Dijadwalkan tiba di Kairo pukul 15.00 waktu setempat atau 19.00 WIB, setelah terbang lebih kurang sebelas jam. Beberapa waktu lalu Menlu Ali Alatas menjelaskan, KTT G-15 di Kairo cukup penting karena merupakan tindak lanjut dari pertemuan Kelompok 15 di Kuala Lumpur, Malaysia, dan yang akan membahas perkembangan­-perkembangan terakhir dalam perekonomian dunia, khususnya perkembangan terakhir dalam pasar uang internasional.

“Ini akan juga mempunyai dampak terhadap posisi bersama negara-negara Kelompok 15 menghadapi pertemuan pada tingkat Menteri yang akan berlangsung di Jenewa bulan depan,” katanya.

Seperti pertemuan di Kuala Lumpur, masalah krisis moneter dan ekonomi di Asia akan menjadi salah satu topik utama dalam pertukaran pikiran antara para kepala negaraIpemerintahan G-15. Di samping itu, tentunya masalah-masalah pokok negara Kelompok 15 ini tidak akan terlupakan, seperti bagaimana meningkatkan kerja sama Selatan-Selatan. bagaimana meningkatkan interaksi dengan negara-negara Utara.

Seperti halnya pada setiap KTT akan diadakan pameran dagangIekonomi negara-negara peserta .Kali ini Indonesia akan turut serta dengan 7 peserta aktif (pengusaha) dan 11 peserta pasif, yang banyak mengirim contoh-contoh barang tertentu. Usai menghadiri KTT, Presiden Soeharto melakukan kunjungan resmi/kenegaraan ke Mesir, yaitu mulai 13 Mei sore hingga 15 Mei 1998. (M-5/T-3)

Sumber: SUARA PEMBARUAN (09/05/1998)

_________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 268-270.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.