PRESIDEN SOEHARTO RESMIKAN TIGA UNIT PABRIK KRAKATAU STEEL

PRESIDEN SOEHARTO RESMIKAN TIGA UNIT PABRIK KRAKATAU STEEL MULAI HASILKAN BAJA LEMBARAN

Besi dan baja merupakan bahan strategis yang sangat diperlukan dalam melaksanakan pembangunan bangsa. Sebab, besi dan baja menduduki peranan yang penting dalam perkembangan ekonomi, pertumbuhan industri maupun dalam usaha memperkokoh ketahanan dan pertahanan bangsa.

Penegasan itu dikemukakan oleh Presiden Soeharto hari ini pada upacara peresmian tiga unit pabrik baja "Krakatau Steel" yaitu pabrik besi spons, pabrik slab baja dan pabrik baja lembaran di Cilegon Jawa Barat.

Berbagai unit yang diresmikan itu merupakan tahapan kedua pelaksanaan rencana pembangunan pabrik. Presiden Soeharto sebelumnya telah dua kali meresmikan berbagai unit pabrik baja "Krakatau Steel" yakni tahun 1977 meresmikan pembukaan pabriknya dan tahun 1979 meresmikan unit produksi lain.

Persaingan

Dikatakan, tanpa memiliki sendiri pabrik besi dan baja, maka pembangunan industri besar besaran akan mengalami kesulitan. Besi dan baja memang dapat diperoleh untuk membangun industri, dalam negeri dengan membelinya di pasaran dunia. Namun dengan menggantungkan pengadaan besi dan baja dari pasaran dunia kontinuitas pengadaan dan stabilitas harganya tidak dapat terjaga.

"Oleh karena itu," ujar Presiden," pembangunan pabrik besi dan baja mutlak diperlukan bagi pembangunan. ”

Mengingat akan manfaat-manfaat besar dari pembangunan industri besi dan baja, maka menurut Kepala Negara, industri besi dan baja yang baru saja berdiri itu harus dilindungi terhadap persaingan yang kurang sehat, khususnya dari barang-barang impor dengan harga yang kurang wajar.

"Namun sebaliknya," kata Presiden, "pihak konsumen juga harus dilindungi kepentingannya, agar selalu mendapatkan barang-barang besi dan baja dengan harga yang wajar dan stabil."

Pusat Pengadaan

Presiden kembali menegaskan bahwa Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan menunjuk "Krakatau Steel" sebagai Pusat Pengadaan Besi Baja dengan tugas menjamin kelangsungan pengadaan besi baja dengan harga yang stabil dan terkendali.

Dikatakan, baja lembaran merupakan bahan baku industri yang teramat penting bagi perkembangan industri secara keseluruhan.

Dengan tersedianya baja lembaran yang cukup, maka terbuka kesempatan untuk mengembangkan secara luas berbagai macam industri, terutama industri menunjuk

"Krakatau Steel" sebagai Pusat Pengadaan Besi Baja dengan tugas menjamin kelangsungan pengadaan besi baja dengan harga yang stabil dan terkendali.

Dikatakan, baja lembaran merupakan bahan baku industri yang teramat penting bagi perkembangan industri secara keseluruhan. Dengan tersedianya baja lembaran yang cukup, maka terbuka kesempatan untuk mengembangkan secara luas berbagai macarri industri, terutama industri mesin yang menggunakan baja sebagai bahan baku.

Pembangunan industri yang menggunakan baja lembaran sebagai bahan bakunya itu, menurut Kepala Negara akan semakin ditingkatkan pada Repelita IV mendatang.

"Karena itu pabrik baja lembaran ini merupakan titik awal bagi rangkaian pembangunan industri hilir kita," demikian Presiden Soeharto.

Menteri PerindustrianA.R. Soehoed sebelumnya melaporkan bahwa produksi besi nasional baru mencapai 1,7 juta ton pertahun, sementara kebutuhan sudah mencapai 2,3 juta ton pertahun.

Namun demikian Menurut menteri, pemakaian besi di Indonesia masih sangat rendah yakni 15 kilogram perjiwa per tahun. Di negara industri yang telah maju, konsumsi besi baja sudah mencapai kurang lebih 600 kilogram per jiwa.

Menjelaskan hal ini Soehoed menambahkan bahwa kemungkinan peningkatan negeri akan mencapai 40 kilogram pada akhir abad ini.

Untuk macam-macam mutu dan macam besi yang masih diperlukan, Pemerintahvsedang mempersiapkan standar-standar yang akan menjadi standar industri Indonesia-SII.

Keseimbangan

Pada kesempatan yang sama presiden Direktur PT Krakatau Steel T. Ariwibowo melaporkan, dengan selesainya proyek-proyek besi baja Cilegon tahap kedua ini, maka telah terdapat keseimban g,an cukup baik antara kapasitas produksi pabrik-pabrik hulu dan pabrik-pabrik hilir.

Menurut perbandingan antara investasi untuk pabrik pabriklunit unit produksi dengan unit-unit prasarana pendukungnya semula adalah 45 persen berbanding 55 persen kini telah berubah menjadi 70 persen berbanding 30 persen.

Di samping itu peranan PT Krakatau Steel dalam produksi baja nasional juga telah meningkat dari 45 menjadi 75 persen.

Pembangunan tahap ke-dua ke-tiga pabrik yang diresmikan ini terdiri dari pabrik-pabrik yang menghasilkan baja lembaran berkapasitas 1 juta ton pertahun yang pembangunannya dimulai sejak awal 1980 yaitu pabrik slap baja dan pabrik hot-strip (baja lembaran), serta penyelesaian pabrik besi spon berkapasitas 2 juta ton pertahun.

Selain itu di komplek yang sama telah pula dibuka kawasan industri yang diberi nama "Kawasan Industri Krakatau Cilegon" seluas 450 hektar dan terbuka bagi kegiatan industri.

Pembiayaan ketiga pabrik tersebut kata T. Ariwibowo, diperoleh dari penyertaanmodal pemerintah, kredit ekspor dari pemerintah Jerman Barat dan kredit komersil.

Pabrik siap baja dibangun dengan biaya DM 660 juta dan RP.6,86 milyar dan dapat memperkerjakan sebanyak 500 karyawan. Pabrik hot strip memakan biaya DM 1018 juta dan RP. 22,6 milyar, mampu menampung 380 karyawan.

Untuk pabrik besi spans biaya yang dibutuhkan seluruhnya DM 592 juta sementara jumlah karyawan yang bekerja dipabrik tersebut 6000 orang. Dalam rangkaian proses produksi industri besi baja terpadu di Cilegon ini pabrik besi spans merupakan pabrik yang paling hulu.

Selesai peresmian tiga unit pabrik dan penandatanganan tiga prasasti serta penyerahan miniatur bangunan pabrik dari direktur utama PT Krakatau Steel, Kepala negara dan Nyonya Tien Soeharto didampingi oleh para Menteri Kabinet Pembangunan III seperti Menristek, B.J Habibie, Menpan J.B. Sumarlin dan juga ketua BKPM Suhartoyo meninjau tiga lokasi pabrik dengan kendaraan bis. (RA)

Jakarta, Merdeka

Sumber : MERDEKA (1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 278-280.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.