PRESIDEN SOEHARTO RESMIKAN PT. JAMES HARDIE INDONESIA

PRESIDEN SOEHARTO RESMIKAN PT. JAMES HARDIE INDONESIA [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto didampingi Perdana Menteri Australia, Malcolm Fraser, Jum’at sore meresmikan PT. James Hardie Indonesia, sebuah perusahaan bersama Indonesia – Australia yang memproduksi bahan bangunan, semen dan pipa ashes di Tanggerang.

Kepala Negara dalam sambutannya mengatakan, Pemerintah Indonesia membuka pintu bagi masuknya modal asing yang diharapkan akan membawa serta masuknya pengetahuan, ketrampilan, pengetrapan teknologi dan kemampuan kepengusahaan ke Indonesia yang sangat diperlukan untuk mempercepat gerak pembangunan.

Indonesia mengharapkan penanaman modal asing dapat mendorong perkembangan kemampuan usahawan nasional, yang pada saatnya nanti harus menjadi kekuatan nasional, Presiden menjelaskan.

“Tetapi kita juga mengharapkan agar modal asing itu mampu dan mau menyesuaikan kepentingannya dengan dasar dan arah pembangunan Indonesia sesuai dengan ketentuan yang ditegaskan dalam Undang2 Penanaman Modal Asing”, kata Kepala Negara.

Indonesia telah memberikan rangsangan dan fasilitas yang menarik kepada penanam2 modal asing dan sebagai imbalannya mereka harus ikut mendorong maju pembangunan Indonesia seperti yang kita cita2kan, Presiden Soeharto menambahkan.

Kemampuan bangsa Indonesia sendiri untuk tetap menuju kemajuan jangka panjang yang ingin dicapai dan rasa tanggungjawab sosial penanam modal asing akan merupakan faktor yang akan memperkuat dalam mempercepat pertumbuhan Indonesia, Presiden menjelaskan.

Dalam hal ini, Presiden menegaskan, penanam modal asing tidak harus diartikan sebagai faktor yang akan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional, melainkan merupakan kekuatan pendorong yang baik.

Sambutan Fraser

Perdana Menteri Fraser dalam sambutannya mengatakan, PT James Hardie Indonesia merupakan penanam modal Australia terbesar dalam bentuk perusahaan bersama di Indonesia.

Menurut Fraser, Indonesia telah menjadi pusat perhatian penanam2 modal Australia dantelah berhasil menarik modal2 swasta Australia terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Keyakinan industri Australia akan hari depan kehidupan ekonomi Indonesia telah dinyatakan dengan adanya gabungan penanam modal di berbagai bidang langit2 dan tembok besi, extrusi aluminium, gas industri, seng oksid, alat gelas, semen beton, ubin, drum minyak dan penambangan timah, demikian Fraser menjelaskan.

Sampai sekarang Pemerintah Indonesia telah menyetujui 46 permohonan Australia untuk membuka usaha bersama dengan modal sebesar Rp.71 milyar.

Kecuali Papua Nugini, yang mendapatkan perhatian khusus dari Australia, Indonesia adalah penerima modal terbesar Australia di luar negeri.

Mengakhiri pidatonya, Fraser mengharapkan agar jumlah modal Indonesia yang ditanam dalam perusahaan gabungan itu semakin besar dan pengalihan kemampuan dari ahli Australia kepada rekan2nya Indonesia dapat berlangsung dalam segala tingkatan melalui latihan2.

Sambutan Ali Sadikin

Gubernur Jakarta Raya Ali Sadikin, yang memberikan sambutannya sebelum upacara pembukaan, mengatakan iklim ekonomi yang ada di Indonesia kini telah berhasil mengalirkan modal Australia ke Jakarta.

Sejak diumumkannya Undang2 Penanaman Modal Asing pada tahun 1968, Jakarta telah menerima 25 penanaman modal Australia, 24 diantaranya dalam bentuk usaha gabungan, sedang yang satunya dilakukan langsung oleh Australia.

Ke 25 penanaman modal itu meliputi US$ 6.680 juta.

Gubernur mengharapkan, pembukaan pabrik itu akan memperbaiki kehidupan rakyat dengan dibukanya lapangan baru.

Mampu Menghasilkan 50.000 Ton Setahun

J.B. Reid, direktur PT James Hardie Indonesia dalam sambutannya menyebutkan pabrik tersebut adalah terbesar kedua. Yang pertama adalah PT Harflex yang didirikan tahun 1970.

Dengan modal US$ 20 juta pabrik ini mampu memproduksi 30.000 ton bahan bangunan dan 25.000 ton pipa per bulan.

Bahan2 bakunya seperti semen, pasir dan serat2 pulp berasal dari Indonesia, kecuali ashes yang masih harus diimpor dari Kanada

Pabrik ini sekarang mempekerjakan 220 pekerja dan diharapkan apabila telah beroperasi penuh akan mampu menyerap sekitar 400 orang yang sebagian besar orang Indonesia.

Menjawab pertanyaan, Reid mengatakan bahwa 75 persen dari modal yang ditanam dalam pabrik ini berasal dari Australia sisanya dari Indonesia.

Hadir dalam upacara pembukaan tersebut Ny. Tien Soeharto, Nyonya Fraser, sejumlah Menteri dan Gubernur Jawa Barat. (DTS)

Sumber: ANTARA (08/10/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 147-149.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.