PRESIDEN SOEHARTO RENCANAKAN HADIRI PERESMIAN KEMERDEKAAN BRUNEI

PRESIDEN SOEHARTO RENCANAKAN HADIRI PERESMIAN KEMERDEKAAN BRUNEI

Presiden Soeharto merencanakan hadir pada upacara peresmian kemerdekaan Brunei, negara kesultanan yang terletak di Kalimantan bagian utara, bulan Februari 1984, kata Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono. SH kepada wartawan Kamis siang.

Pada upacara tersebut direncanakan akan hadir pula Kepala Negara Malaysia yaitu Yang Dipertuan Agong dan Kepala Pemerintahnya yaitu PM Mahathir Mohammad, ungkap Mensesneg di pesawat Fokker-28 Pelita Air Service dalam perjalanan pulang dari Kuala Lumpur ke Jakarta.

Dalam pertemuan Presiden Soeharto dengan PM Mahathir di Kuala Lumpur Rabu sore dan Kamis pagi, kata Sudharmono, kedua pemimpin itu menyambut gembira kemerdekaan penuh Brunei mulai 1 Januari 1984 dan masuknya negara kecil itu menjadi anggota. Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Mensesneg mengungkapkan dalam pertemuan itu PM Mahathir menjelaskan kepada Presiden Soeharto mengenai situasi di dalam negeri Malaysia, khususnya masalah amandemen konstitusi yang banyak dibicarakan dewasa ini.

Menurut Mahathir, Pemerintah Malaysia akan menyelesaikan masalah tersebut sebaik-baiknya sesuai dengan "cara Melayu".

Presiden Soeharto, kata Sudharmono/menyambut baik tekad Mahathir itu dan percaya masalah tersebut akan dapat diselesaikan demi kepentingan rakyat Malaysia umumnya dan golongan Melayu khususnya.

Tak Ada Perbedaan

Atas pertanyaan wartawan, Sudharmono mengatakan bahwa kedua tokoh itu menyinggung pula masalah situasi di Pilipina dewasa ini dan mereka mengharapkan agar Pemerintah Pilipina dapat segera menyelesaikan masalah di dalam negerinya dengan baik.

Ia juga mengatakan, pertemuan Soeharto-Mahathir itu tidak membahas kemungkinan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN dan tidak pula membicarakan masalah tenaga kerja Indonesia di Malaysia.

Mengenai keamanan di daerah perbatasan kedua negara, Mensesneg mengungkapkan kedua pemimpin itu menilai bahwa kerja sama pengamanan di perbatasan selama ini berjalan baik dan perlu terus ditingkatkan.

"Apa dibicarakan pula latihan bersama di bidang militer antara kedua negara ?", tanya "Antara".

Sudharmono menjawab: "kalau latihan itu dalam arti saling mengirim pejabat militer untuk sekolah atau berlatih bersama memang ada".

Atas pertanyaan lain, Mensesneg menjelaskan bahwa di bidang politik antara Indonesia dan Malaysia tidak ada perbedaan pandangan. "Kunjungan kerja Presiden ke Malaysia memberi bobot politik lebih besar dari sebelumnya", tambah menteri.

Menurut Sudharmono, alasan kunjungan Presiden Soeharto ke Malaysia adalah karena memang sudah lama diharapkan.

Iamenjelaskan, di antara pemimpin-pemimpin ASEAN ada pengertian bahwa perlu ada saling kunjung-mengunjungi tanpa formalitas, kalau bisa setahun sekali atau sewaktu-waktu apabila dipandang perlu.

"Kunjungan terakhir Mahathir ke Indonesia sudah dua tahun lalu, jadi memang sudah sewajarnya Presiden Soeharto mengadakan kunjungan ke Malaysia dan kebetulan waktunya ada setelah ke Medan kemarin. Ditambah pula baik Yang Dipertuan Agong maupun Perdana Menteri Malaysia punya waktu untuk menerima Presiden", demikian Sudharmono

Ekonomi

Menteri Sudharmono mengungkapkan, dalam pertemuan di Kuala Lumpur Presiden Soeharto dan PM Mahathir juga bertukar pikiran di bidang ekonomi antara lain kerja sama dalam industri otomotif, koordinasi di bidang produksi minyak bumi dan pemantapan peranan Asosiasi Negara-negara Penghasil Timah (ATPC).

Kerja sama di bidang industri otomotif, kata menteri, dijalin melalui penyelarasan produksi komponen kendaraan bermotor di Indonesia dengan di Malaysia untuk meningkatkan efisiensi.

Dijelaskan, Indonesia sudah mulai memproduksi mesin otomotif sedang untuk komponen-komponen tertentu (yang belum diproduksi di Indonesia) mungkin lebih efisien apabila dibuat oleh Malaysia,

"Hal ini perlu studi dan penelitian lebih lanjut ,namun prinsip keljasama itu baik untuk mencapai efisiensi”, katanya.

Kedua negara, kata Sudharmono, akan menjajagi koordinasi produksi minyak bumi dalam rangka mengendalikan produksi minyak dunia sesuai dengan apa yang ditetapkan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (CPEC), meskipun Malaysia bukan anggota OPEC.

Ia menjelaskan tingkat produksi dan harga minyak di dunia saling berkaitan bukan hanya masalah OPEC, walaupun sampai tahap tertentu OPEC memegang peranan.

Sidang para menteri OPEC, ungkap Mensesneg, antara lain menugaskan Indonesia menghubungi negara-negara tetangga produsen minyak seperti Malaysia untuk menjelaskan keputusan-keputusan OPEC dan mengajak negara-negara produsen non-OPEC tersebut ikut dalam usaha menyetabilkan produksi dan harga minyak.

”Jadi meskipun bukan anggota OPEC, Malaysia hendaknya ikut mengendalikan tingkat produksi minyak buminya. Malaysia menunjukkan pengertian dalam hal ini", kata Sudharmono.

Kedua belah pihak memandang ATPC berfungsi untuk memperlancar pelaksanaan tugas-tugas Dewan Timah Internasional (ITC), kata Sudharmono.

Ia menjelaskan, apabila pihak negara konsumen timah anggota ITC tidak patuh pada keputusan-keputusan ITC maka asosiasi produsen itu dapat melakukan langkah­langkah tertentu untuk melindungi kepentingannya. "Tapi jangan pagi-pagi sudah menjadi kartel yang bersikap konfrontatif," tambah Sudharmono.

Selain Sudharmono dan nyonya ikut pula dalam rombongan Presiden dan Ibu Tien Soeharto ke Malaysia itu antara lain Panglima ABRI Jenderal L. B. Moerdani, Sekretaris Militer Presiden RI Marsekal Madya Kardono dan Direktur Asia-Pasifik Deplu M. Satari.

Tujuh wartawan diajak dalam kunjungan kerja Presiden satu malam di Malaysia itu. Presiden dan rombongan Kamis siang tiba kembali di Jakarta. (RA)

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (15/12/1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 241-244.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.