PRESIDEN SOEHARTO RAKERNAS MUI PUSAT 1987

PRESIDEN SOEHARTO RAKERNAS MUI PUSAT 1987

 

 

Presiden Soeharto hari Rabu mengingatkan perlunya bagi bangsa Indonesia untuk melakukan berbagai terobosan agar tidak ketinggalan di dalam melaksanakan pembangunan dewasa ini.

Dalam sambutannya ketika menerima para peserta Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Bina Graha Jakarta, Presiden menyatakan bahwa salah satu kelemahan lembaga-lembaga kemasyarakatan di Indonesia, termasuk lembaga-­lembaga keagamaan, ialah cenderung puas dengan hal-hal bersifat rutin.

“Padahal masyarakat dan bangsa yang sedang membangun memerlukan terobosan-terobosan. Tanpa terobosan-terobosan, kita akan tetap ketinggalan,” katanya.

Ditambahkannya bahwa terobosan-terobosan itu diperlukan karena dewasa ini bangsa Indonesia sedang berlomba dengan waktu dalam dunia yang mengalami perubahan begitu cepat dan kemajuan begitu pesat akibat kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi.

Di samping itu, bangsa Indonesia juga berlomba dengan waktu karena masih banyaknya masalah sosial ekonomi yang harus ditanggulangi.

“Kita tidak mempunyai jalan lain kecuali memacu masyarakat dan umat kita untuk memajukan diri dengan memadukan seluruh daya yang ada. Dakwah bil-hal (dakwah dengan perbuatan nyata, Red.) adalah salah satu usaha untuk memacu diri itu,” tandas Kepala Negara.

Dengan dakwah bil-hal berarti perhatian terhadap berbagai masalah pembangunan ekonomi, di samping masalah-masalah pendidikan dan sosial lain yang dihadapi masyarakat dan umat, harus makin ditingkatkan.

“Memang benar bahwa berbagai organisasi keagamaan telah banyak berbuat dalam hal ini. Persoalan yang harus kita pikirkan bersama adalah bagaimana agar dakwah bil-hal itu tidak sekedar membantu orang-orang miskin dengan memberi bantuan atau santunan, akan tetapi bagaimana memberi kemampuan kepada mereka agar dapat berdiri tegak dengan kekuatan sendiri,” sambungnya.

Di depan 187 ulama peserta Rakernas MUI, Kepala Negara lebih lanjut mengatakan bahwa salah satu masalah besar yang harus ditanggulangi adalah masalah pengangguran.

Jawaban terhadap masalah tersebut memang membuka kesempatan kerja yang luas. Namun kecuali itu Presiden mengingatkan bahwa ada hal lain yang tidak kalah penting, ialah sikap terhadap kerja itu sendiri.

“Harus dikembangkan sikap bahwa bekerja bukan sekedar mempunyai arti ekonomi atau mencari nafkah belaka. Bekerja bagi manusia juga harus mengungkapkan harga diri, percaya diri, tanggungjawab dan kemuliaan hidup,” tegasnya seraya menambahkan bahwa para ulama dapat berbuat banyak untuk membangkitkan nilai-nilai luhur tersebut.

Dalam kaitan itu, Presiden menekankan perlunya dibangkitkan kesadaran, terutama di kalangan generasi muda, bahwa kerja apapun bentuknya, asalkan halal, adalah mulia. Agama Islam memberi tempat sangat terhormat kepada kerja sebab bagi Islam kerja adalah jihad, kerja adalah ibadah.

”Pendidikan agama bukan sekedar mengalihkan pengetahuan keagamaan, tetapi hendaknya dapat membentuk kepribadian dan memuliakan tujuan hidup kita. Oleh karena itu saya selalu mengimbau para ulama dan pemuka agama agar selalu memberi perhatilan pada usaha peningkatan pendidikan agama, terutama pada generasi muda bangsakita,” demikian Presiden. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (25/11/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 309-310.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.