PRESIDEN SOEHARTO PUJI KEBERHASILAN GARUDA

PRESIDEN SOEHARTO PUJI KEBERHASILAN GARUDA

Presiden Soeharto menegaskan bahwa keberhasilan Garuda sampai mencapai tingkat seperti sekarang ini merupakan hasil jerih payah dari pimpinan dan seluruh karyawannya termasuk para penerbang dan para teknisinya.

Penegasan Presiden itu disampaikan dalam sambutannya pada peresmian penggunaan pesawat Boeing-747 Garuda, Rabu sore dilapangan terbang internasional Halim Perdanakusuma.

Pesawat tersebut merupakan pesawat pertama yang tiba di Indonesia dari empat pesawat yang dipesan oleh Garuda dengan diberi nama "City of Jakarta". Dua pesawat lainnya, ialah "City of Bandung" dan "City of Medan" akan tiba pada 13 dan 15 Agustus mendatang dan yang terakhir "City of Surabaya" akan tiba 6 September tahun ini juga.

Pesawat pertama yang tiba sekitar pukul 14.00 WIB dikemudikan oleh Captain Totong Sampurno dan Captain Jasir Ismail dengan flight engineer Isa Ali dan 12 awak kabin. Sebelum melakukan pendaratan, pesawat melakukan terbang lintas diatas Lapangan terbang Halim Perdanakusuma di mana upacara dilakukan dan mendarat tepat di depan tempat upacara.

Captain Pilot memberikan laporan kepada Direktur Operasi Garuda Captain Kusdjinata yang meneruskan laporan tersebut kepada Dirut Garuda Wiweko Supono dan Dirut melaporkan kepada Presiden bahwa pesawat telah tiba dengan selamat. Kepada Presiden Dirut Garuda menyerahkan kenang2an berupa plaque Boeing 747.

Seusai upacara dilakukan pengguntingan pita oleh Ibu Tien Soeharto yang disertai Presiden Soeharto, diteruskan dengan penerbangan perdana keliling di atas pulau Jawa dan mendarat kembali di lapangan terbang Halim Perdanakusuma, pukul 17 .20 WIB. Turut dalam penerbangan perdana tersebut beberapa Menteri Kabinet Pembangunan, para Dirjen, Irjen Departemen serta undangan2 lainnya.

Tiga Hal yang Membuat Bangga

Presiden Soeharto dalam sambutannya itu seterusnya menyatakan, tambahan pesawat terbang jenis baru yang akan dapat mengangkut jumlah penumpang yang besar itu sungguh membanggakan hati kita semua.

Menurut Presiden, ada tiga hal yang membuat kita bangga yaitu, pertama: dengan penambahan pesawat ini, Garuda telah maju setapak lagi dalam segi kemampuan menggunakan pesawat besar dan peralatan yang modern yang digunakan dalam penerbangan komersil dewasa ini.

Memiliki dan menerbangkan pesawat seperti ini tentu memerlukan awak pesawat yang tinggi ketrampilannya, memerlukan tenaga2 teknis yang tinggi mutunya dan lain kegiatan yang diperlukan.

Dilihat dari sudut ini, maka Garuda tidak lebih rendah dari perusahaan penerbangan internasional yang terkemuka. Karena itu memiliki pesawat Boeing-747 merupakan kebanggaan nasional tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Kebanggaan kedua menurut Presiden, Garuda memiliki pesawat yang mahal ini dengan mengerahkan kekuatannya sendiri. Garuda membeli pesawat ini dengan angsuran yang akan dibayar dengan kekuatannya sendiri. Tentu saja ini merupakan prestasi perusahaan dan semangat kepengusahaan yang juga membanggakan.

Lebih2 jika diingat, bahwa 10-15 tahun yang lampau Garuda hampir2 lumpuh. Jika sepuluh tahun yang lalu armada penerbangan nasional ini hanya memiliki sekitar 10 buah pesawat dari jenis F-27 dan DC-9 saja maka sekarang 10 tahun kemudian armadanya telah melebar tujuh kali lipat sehingga pada tahun 1980 ini Garuda akan memiliki tidak kurang dari 70 buah pesawat terbangjet dari berbagai jenis yang lebih besar.

Berkat Kerja Keras

Hal ketiga yang membuat bangga menurut Presiden adalah keberhasilan Garuda sampai mencapai tingkat seperti sekarang inimerupakan hasil jerih payah dari pimpinan dan seluruh karyawannya, termasuk para penerbang dan teknisinya.

Ditegaskan oleh Presiden, berkat kerja keras dan pengertian mereka terhadap kepentingan tugas Garuda dalam pembangunan bangsa, maka Garuda dapat mencapai kemajuan pesawat.

Dengan tidak melupakan peningkatan kesejahteraan karyawan dalam batas2 yang memungkinkan Garuda telah berhasil mengerahkan kemampuannya untuk memperbanyak armada pesawat terbangnya sehingga mampu mengimbangi permintaan angkutan udara terutama di dalam negeri yang terus meningkat sejalan dengan meningkatnya gerak pembangunan pada umumnya.

Menurut Presiden, memang dalam zaman pembangunan ini kita harus lebih memperhatikan kepentingan dan kemajuan bersama daripada kepentingan dan kesenangan sendiri.

Kita harus rela mengeratkan ikat pinggang kita dimasa sekarang untuk mencapai sukses yang lebih besar di masa datang. Dengan semangat itu, kita pasti akan makin cepat tiba pada tujuan kita bersama ialah kesejahteraan hidup dalam masyarakat yang maju dan berkeadilan sosial.

Memperkuat Ketahanan Nasional

Presiden menyatakan, dalam zaman pembangunan dan kemajuan seperti sekarang ini angkutan udara mempunyai peranan yang besar. Tanah air yang luas memerlukan angkutan udara yang lebih banyak dan cepat.

Presiden merasa bangga bahwa satu tempat dan tempat lain di tanah air ini sekarang sudah dapat dihubungkan oleh pesawat terbang dan tempat yang terpencilpun telah mulai terbebaskan dari isolasinya terhadap dunia luar melalui penerbangan perintis.

Ini akan membuka kesempatan bagi daerah lain untuk bangkit dan membangun dan dalam arti ini, maka potensi penerbangan nasional ikut memeratakan pembangunan yang menjadi tekad kita sekarang seterusnya.

Perhubungan yang mudah dan lancar, menurut Presiden, membuat kita merasa dekat satu dengan lainnya pula. Ini memperkuat rasa persatuan dan kesatuan kita, karena itu disamping sebagai perusahaan komersiil maka perusahaan penerbangan nasional kita juga ikut memperkuat ketahanan nasional dan memberi isi kepada wawasan nusantara sehingga bangsa kita benar2 merasa makin menjadi satu dalam segalahal.

Mengenai Garuda yang semakin bertambah besar, Presiden menyatakan masalah dan tantangan yang dihadapi ke dalam maupun ke luar tentu lebih besar lagi. Karena itu, kebesaran Garuda ini akan meminta tanggungjawab yang besar dari seluruh kekuatan Garuda sendiri. Untuk itu, perlu dipelihara hubungan yang makin erat dan persatuan gerak mulai dari direksi, penerbang, teknisi dan seluruh karyawan Garuda.

Usaha2 meningkatkan pelayanan kepada penumpang, ketepatan jadwal penerbangan, peningkatan disiplin dan kesejahteraan karyawan dalam batas2 yang wajar perlu terus dilakukan.

Pemerintah juga akan memberikan perhatian untuk peningkatan prasarana yang diperlukan agar pengoperasian dari penambahan pesawat Garuda dapat mencapai hasil yang optimal dan makin memperkuat ketahanan nasional kita, demikian Presiden.

Peristiwa Penting

Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dalam sambutannya menyatakan kedatangan pesawat Jumbo Boeing 747 yang merupakan tambahan dalam armada Garuda merupakan suatu peristiwa penting tidak saja bagi Garuda tetapi juga bagi perhubungan.

Ia menyatakan, dengan bertambahnya pesawat maka tidak hanya kegiatan penumpang yang terlayani tetapi juga kegiatan perekonomian dan industri. Dengan tibanya pesawat itu juga membuka tantangan yang dihadapi, yakni tersedianya sarana yang memadai.

Karenanya program pembangunan sarana udara akan segera dimulai dengan peningkatan pelabuhan udara agar bisa didarati pesawat berbadan Iebar.

Ditegaskan oleh Menteri, bahwa perkembangan armada Garuda dengan Boeing 747 dimaksudkan untuk memberikan peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan dengan demikian kegiatan pariwisata juga dapat digalakkan.

Jarak Jauh dan Jarak Sedang

Pesawat Boeing 747 direncanakan dioperasikan pada trayek penerbangan komersil jarak jauh, lini Eropa dan jarak sedang lini Hongkong.

Tetapi sebelumnya tiga pesawat akan dipergunakan untuk angkutan jemaah haji dari tanah air ke tanah suci dan sebaliknya melalui pelabuhan udara Halim Perdanakusuma dan Juanda, sementara sebuah pesawat akan mulai dengan operasinya untuk lini Hongkong. Seusai penerbangan haji, mulai Nopember 1980 tiga pesawat segera melakukan tugas rutin keEropa.

Awak pesawat terdiri dari penerbang2 Indonesia setelah mengalami latihan dan pendidikan yang cukup di luar negeri. Mereka terdiri dari penerbang DC-9. Para teknisi selain mendapatkan pendidikan khusus juga melakukan praktek pada perusahaan penerbangan lain yang telah mengoperasikan pesawat Boeing 747.

Awak kabin telah pula dilatih pada beberapa pendidikan awak pesawat di luar negeri, sedang karyawan lainnya telah pula mendapatkan latihan khusus dalam rangka melayani pengoperasian pesawat Boeing 747.

Pesawat Boeing 747 panjangnya 70,48 meter, Iebar dari ujung sayap ke ujung lainnya 59,64 meter, tinggi 19,33 meter, kecepatan 950 km/jam, kapasitas 425 kursi terdiri dari 18 kelas utama dan 407 kelas ekonomi.

Untuk angkutan haji memuat 544 kursi kelas ekonomi seluruhnya, sedang mang kabin bagian atas baik untuk penerbangan biasa maupun haji diisi 30 kursi.

Dalam penerbangan perdana, Presiden Soeharto dengan Ibu Tien Soeharto melihat ke seluruh pesawat dari depan sampai belakang. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (07/08/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 797-801.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.