PRESIDEN SOEHARTO: PROSES SUKSESI TELAH MELEMBAGA

PRESIDEN SOEHARTO: PROSES SUKSESI TELAH MELEMBAGA[1]

Copenhagen, Media Indonesia

Presiden Soeharto  mengatakan, proses suksesi juga telah berlangsung di Indonesia sehingga pergantian presiden sebenamya telah melembaga sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam UUD 1945.

Masalah itu dikemukakan Kepala Negara di Copenhagen, Minggu (12/3), setelah mendengarkan penjelasan PM RR Cina Li Peng mengenai kesehatan Pemimpin China Deng Xiao Ping serta proses pergantian kepemimpinan di negara itu. Wartawan Media Retno Indarti Dharmoyo dari Copenhagen kemarin melaporkan pembicaraan lengkap basil pertemuan antara Presiden Soeharto dan PM Li Peng yang dijelaskan Mensesneg Moerdiono kepada pers.

“Bahwa kebetulan yang dipilih adalah orang yang sarna, maka hal itu mempakan persoalan yang lain, sebab yang penting mekanismenya sudah ada,” kata Moerdiono. Selain dengan Li Peng Kepala Negara juga mengadakan pertemuan dengan tujuh pemimpin lainnya yang menghadiri KIT Pembangunan Sosial.

Pada pertemuan itu, PM Li Peng memberitahukan kepada Presiden Soeharto bahwa kesehatan Deng membaik dan proses suksesi di negaranya akan berlangsung normal sebab proses pergantian kepemimpinan itu telah terbentuk dengan baik.

Moerdiono mengatakan dalam pertemuan itu, kedua pemimpin juga membicarakan masalah sengketa Kepulauan Spratly yang diperebutkan RRC, Filipina, Brunei Darusalam, serta Vietnam.

“Kedua pemimpin sepakat bahwa cara-cara perundingan secara damai dianggap sebagai cara terbaik terhadap penyelesaian sengketa itu,” kata Mensesneg. Kepulauan itu diperebutkan oleh beberapa negara karena diperkirakan mempunyai cadangan minyak mentah yang besar.

Ketua GNB

Salah seorang tamu Presiden Soeharto lainnya adalah Presiden Kolombia Ernesto Samper Pizano yang pada sekitar bulan September atau Oktober mendatang akan menggantikan Presiden Soeharto sebagai Ketua Gerakan Non Blok (GNB).

Moerdiono mengatakan dalam pertemuan itu, Pizano memberikan jaminan bahwa negaranya akan melanjutkan asas serta arab bam GNB yang digariskan Indonesia sejak KTT GNB di Jakarta September  1992.

“Presiden Soeharto menjanjikan bantuan sepenuhnya kepada Kolombia baik mengenai substansi (materi) maupun penyelenggaraannya.” kata Moerdiono.

Janji Presiden Soeharto itu disampaikan karena Presiden Kolombia menanyakan pengalaman Indonesia mulai saat menyelenggarakan KTT hingga selama memimpin gerakan ini. Di tempat yang sama Kepala Negara juga menerima Presiden Azerbaijan Heydar Alirza Ogly Aliyev yang minta dukungan Indonesia dalam merebut kembali 20 persen wilayahnya yang direbut negara tetangganya Annenia. Kesibukan Presiden Soeharto mengikuti KIT itu juga diselingi dengan menerima

Presiden Sudan Omar Hasan Ahmed yang mengundang para pengusaha Indonesia untuk  menanamkan modalnya di negara Afrika itu misalnya dalam perkebunan kapas. Menurut Moerdiono, kapas yang ditanam para pengusaha Indonesia di Sudan itu bisa dibawa ke Indonesia untuk diolah. Selama ini Indonesia masih mengimpor kapas dari Sudan. Tamu lain Kepala Negara yang juga membicarakan masalah ekonomi adalah PM Madagaskar Fransisque Ravony yang mengadakan kunjungan kehormatan untuk membahas produksi cengkeh dan vanili di kedua negara. Menurut Mensesneg, kedua pemimpin sepakat agar kedua negara tidak terlibat dalam persaingan tidak sehat di pasaran internasional. Tamu-tamu lain Presiden Soeharto adalah PM Mauritania Sidi Mohamed Ould Boubacar, PM Bangladesh Ny Khaleda Zia, serta Presiden Turki Suleiman Demiret.

Menurut Moerdiono, ketiga pemirnpin itu menyampaikan penghargaan mereka kepada Presiden Soeharto yang merupakan kepala negara pertama yang menjadi pembicara pada KTT dua hari itu.

Sumber:MEDIA INDONESIA (13/03/1995)

_____________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 114-115.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.