PRESIDEN SOEHARTO: PRAJURIT ABRI DAN SETIAP PURNAWIRAWAN TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIGANTINYA PANCASILA DENGAN DASAR NEGARA YANG LAIN

PRESIDEN SOEHARTO: PRAJURIT ABRI DAN SETIAP PURNAWIRAWAN TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIGANTINYA PANCASILA DENGAN DASAR NEGARA YANG LAIN [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menegaskan bahwa prajurit ABRI dan Purnawirawan adalah warganegara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila. Ini berarti tidak akan membiarkan digantinya Pancasila dengan dasar negara yang lain, tidak akan membiarkan Pancasila diselewengkan,

Penegasan Presiden ini disampaikan dalam amanatnya pada pembukaan Musyawarah Nasional Persatuan Purnawirawan ABRI (PEPABRI) yang ke-VII dan Musyawarah Nasional Persatuan lbu Purnawirawan (PERIP) yang ke-IV di Balai Sidang Senayan Kamis pagi.

Oleh Presiden selanjutnya ditegaskan, “Kita malahan harus menghayati dan mengamalkan agar Pancasila itu tumbuh kokoh dihati kita masing2 serta memancar dalam segala jalan fikiran dan tindak laku kita. Apabila setiap anggota ABRI telah berbuat demikian, apabila setiap keluarga ABRI telah berbuat demikian maka masyarakat akan mendapatkan suri tauladan yang baik dan makin kokohlah Pancasila dalam kehidupan kita yang nyata”.

Menurut Presiden, tugas demikian memang berat namun tugas demikian bukannya mustahil, malahan tugas demikian adalah mutlak. Anggota ABRI dan Purnawirawan adalah patriot Indonesia, ia adalah pendukung serta pembela ideologi negara. Dan dalam mendukung dan membela ideologi negara itu ia kerjakan dengan rasa tanggungjawab yang tinggi dan tidak kenai menyerah.

Presiden mengajak untuk mencamkan baik2 bahwa dalam mendukung dan membela Pancasila itu setiap anggota ABRI dan para Purnawirawan tidak akan mengenal menyerah, bagaimanapun bentuk ancamannya dan dari manapun datangnya. Mendukung dan membela Pancasila yang setepatnya adalah dengan jalan menghayati dan mengamalkan Pancasila itu sendiri.

Tidak Perlu Menepuk Dada

Dalam awal amanatnya Presiden menyatakan, bahwa sekarang kita telah hidup di alam yang merdeka, memiliki Pancasila, memiliki Undang-Undang Dasar 45 yang memberikan arah tujuan serta cara mengatur tata kehidupan kita bernegara. Akan tetapi kesemuanya itu merupakan hasil perjoangan yang bukan tanpa pengorbanan. Tidak terbilang kawan2 seperjoangan yang seharusnya hadir atau diwakili disini telah mendahului kita gugur dalam perjoangan untuk itu semua.

Dan dengan mengatakan itu semuanya, ABRI dan para Pumawirawan tidak perlu menepuk dada bahwa perjoangan ini adalah hasil jerih payahnya sendiri. Hasil perjoangan tadi adalah puncak hasil perjoangan besar kecil yang sambung menyambung dari zaman ke zaman terdahulu, tidak terhitung banyaknya dan melibatkan seluruh rakyat Indonesia dari generasi ke generasi.

Dengan kebanggaan dan kepercayaan pada kekuatan diri sendiri dimasa lampau itu, kita harus memandang kemasa depan. Di bahu kita yang masih hidup ini terpikul tanggungjawab untuk melanjutkan perjoangan itu agar pengorbanan mereka tidak sia-sia.

“Perjoangan kita memang belum selesai,” demikian Presiden menegaskan.

Tugas Amat Penting Purnawirawan

Menyinggung masalah tugas purnawirawan, Presiden menegaskan bahwa tugas yang teramat penting dari para purnawirawan adalah mempertahankan Pancasila. Sebab, dasar negara yang lain –selain Pancasila__ sama halnya dengan meniadakan Negara Republik Indonesia yang kita Proklamasikan pada 17 Agustus 1945. Mengganti Pancasila dengan dasar negara yang lain berarti mengkhianati perjoangan ratusan tahun dan merendahkan pengorbanan lahir bathin bangsa Indonesia dari generasi ke generasi. Mengganti Pancasila dengan dasar negara yang lain berarti meninggalkan kepribadian sendiri, berarti kita akan menumbuhkan bangsa ini tidak diatas akar-akarnya sendiri yang kokoh.

“Dan bangsa yang tidak tumbuh diatas kepribadiannya sendiri pasti akan menjadi bangsa yang lemah,” demikian Presiden.

Upacara pembukaan tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden Sultan Hamengku Buwono, Ny. Tien Suharto, Men Hankam/Pangab Jenderal TNI M. Panggabean, Wapangab Jenderal; TNI Surono, para Kepala Staf Angkatan/Kapolri, Ibu2 Sudirman, A Yani dan lain2nya serta ratusan utusan dari daerah dan cabang baik dari PEPABRI maupun PERIP. Dalam kesempatan tersebut, Presiden memukul gong tiga kali sebagai tanda dibukanya kedua Munas tersebut.

Diperlukan Tindakan Tegas

Sebelum amanat Presiden, Ketua Umum PEPABRI I. Widya Pranata telah memberikan kata pembukaannya dengan menguraikan panjang lebar sikap PEPABRI melihat keadaan sekarang.

Menurut Widya Pranata, PEPABRI menilai bahwa perjoangan Orde Baru sekarang perlu dilestarikan dan untuk ini maka Munas PEPABRI berthema “Memperjuangkan Lestarinya Perjoangan Orde Baru”.

Dikatakan bahwa para purnawirawan tidak hanya melihat dan mendengar saja apa yang sekarang terjadi, meskipun kondisi phisik sudah banyak menurun dan tinggal jiwa perjoangan 45 saja yang ada. Ketua Umum PEPABRI itu menegaskan bahwa untuk memberantas korupsi, pungutan liar dan lain-lain diperlukan tindakan tegas dan administrasi yang baik. Penyimpangan2 yang terjadi adalah mengorbankan nilai2 politik dan kebudayaan yang ada.

Widya Pranata menegaskan bahwa kegagalan yang mungkin ada bukan hanya karena kesalahan administrasi saja tetapi juga karena penempatan2 tenaga. Misalnya anak mas mendapat tempat yang bukan keahliannya dan sebagainya. Menyinggung tentang penempatan tenaga, penempatan dengan istilah the right man on the right place perlu ditinjau kembali dengan melihat jiwa perjuangannya, kesetiaannya dan lain sebagainya. Demikian Ketua Umum PEPABRI.

Kamis siang, acara dilanjutkan dengan mendengarkan pengarahan dariMen Hankam/Pangab. (DTS)

Sumber : ANTARA (30/06/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 507-509.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.