PRESIDEN SOEHARTO : PERLU PRASYARAT BAGI TERPELIHARANYA PERDAMAIAN DI VIETNAM

PRESIDEN SOEHARTO : PERLU PRASYARAT BAGI TERPELIHARANYA PERDAMAIAN DI VIETNAM [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto hari Selasa menekankan perlu adanya persyaratan bagi terpeliharanya perdamaian yang sesungguhnya di Vietnam yang oleh Indonesia diharapkan merupakan awal bagi perdamaian yang menyeluruh di Asia Tenggara dan dunia umumnya.

Kepala negara mengemukakan hal itu ketika dalam pidatonya pada jamuan makan kenegaraan untuk menghormati kedatangan PM Australia Gough Whitlam di Istana Negara, menyinggung masalah Vietnam khususnya dan Asia Tenggara umumnya.

“Prasyarat yang terutama”, demikian presiden, “adalah kemampuan bangsa2 di kawasan Asia Tenggara untuk mengurus dirinya sendiri dan tidak membiarkan masa depannya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau kepentingan dari luar, yang bertentangan dengan kepentingannya sendiri2.

“Selama tujuh tahun yang terakhir ini Indonesia telah mengambil langkah2 untuk menyiapkan diri kearah itu,” katanya menambahkan.

Dalam hubungan ini kepala negara mengemukakan, bahwa kedalam Indonesia memperkuat ketahanan nasional di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial maupun pertahanan keamanan.

Keluar, Indonesia membangun dan memperkuat kerjasama antara negara2 Asia Tenggara dalam wadah ASEAN. Suatu wadah dimana negara2 anggotanya dapat mengembangkan kerjasama untuk memajukan masyarakatnya sendiri maupun masyarakat mereka bersama -sama yang sekaligus akan melahirkan ketahanan nasional.

“Dalam rangka mewujudkan stabilitas dan kesejahteraan bersama itu kami memandang sangat penting persahabatan dan kerjasama dengan negara2 lain di kawasan Asia Pasifik,” demikian Presiden Soeharto.

Dikemukakan, rakyat dan negara2 di kawasan Asia Tenggara sangat membutuhkan adanya perdamaian, agar mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan pembangunan negaranya yang telah lama terlantar dan terbelakang

Banyak Persamaan dengan Australia

Ketika menyinggung kerjasama antara negara-negara ASEAN dan negara-negara di kawasan Asia Pasifik lainnya, Kepala Negara menyatakan gembira, bahwa dalam memandang masalah-masalah masa kini dan masa depan di kawasan itu banyak terdapat persamaan antara Indonesia dan Australia.

Persamaan pandangan itu bukan didasarkan atas perhitungan untung rugi jangka pendek, melainkan pada cita-cita luhur dan kepentingan pokok yang sama ialah mewujudkan perdamaian, kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Indonesia percaya akan hal itu karena merasakan Australia makin mencurahkan perhatiannya kepada negara-negara tetangga di sekitarnya.

Sebagai negara maju, demikian presiden Australia mempunyai kemampuan untuk menyertai bangsa-bangsa di kawasan ini dalam usahanya untuk mencapai kesejahteraan dan bersama -sama menciptakan serta memelihara stabilitas dan ketahanan wilayah kita bersama ini.

“Karena itu saya yakin kunjungan yang mulia ke Indonesia sekarang ini akan merupakan pancangan tonggak baru yang menandai makin eratnya tali persahabatan dan kerjasama antara kedua negara,” demikian Presiden.

Bukan Hal yang Baru

Dikatakan, hubungan persahabatan antara Indonesia dan Australia bukanlah merupakan hal yang baru. Rakyat dan pemerintah Indonesia akan selalu ingat atas bantuan dan sokongan yang telah diberikan rakyat dan pemerintah Australia pada saat­ saat yang menentukan di dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945.

Dasar-dasar saling pengertian dan persahabatan yang telah berakar sejak bertahun-tahun itulah yang dewasa ini sedang kita perkokoh, beri semangat dan tujuan baru sehingga dapat menjamin tercapainya cita-cita kita bersama.

Adanya dua kunjungan pemimpin pemerintah Australia ke Indonesia dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, sejak bekas PM William McMahan mengunjungi Indonesia bulan Juni 1972, yang merupakan kunjungan balasan dari kunjungan saya sendiri ke Australia bulan Pebruari tahun itu, menambah keyakinan bahwa kerjasama dan persahabatan antara kedua negara merupakan kebutuhan mutlak bersama.

Presiden Soeharto menyatakan, percaya bahwa pembicaraan-pembicaraan yang akan dilakukan antara PM Australia dengan pemimpin-pemimpin Indonesia akan membawa hasil bagi makin mendalamnya saling pengertian. Selain itu juga bagi terciptanya suasana saling percaya mempercayai, yang akhirnya akan mendorong makin eratnya kerjasama yang bermanfaat. (T-110/RU-DW/148/2240/Q3) (DTS)

Sumber: ANTARA (15/02/1973)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 77-79.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.