PRESIDEN SOEHARTO PENIPUAN THD TENAGA KERJA

PRESIDEN SOEHARTO PENIPUAN THD TENAGA KERJA

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menginstruksikan Menteri Tenaga Kerja Sudomo untuk memberi penjelasan mengenai cara dan prosedur mencari kerja yang tepat, dalam upaya menghindarkan usaha penipuan terhadap pencari kerja.

Presiden prihatin terhadap usaha-usaha penipuan atas para pencari kerja yang akhir-akhir ini banyak terjadi, kata menteri Sudomo kepada wartawan setelah ia melapor kepada Presiden di Bina Graha Jakarta Kamis siang.

Ia menegaskan, kalau ada orang yang menawarkan pekerjaan dengan meminta imbalan uang lebih dahulu itu jelas penipuan. “Yang lebih memprihatinkan, ujar menteri, mereka yang tertipu itu bukan hanya orang berpendidikan rendah.”

Sudomo menganjurkan, para pencari kerja menggunakan saluran yang disediakan Departemen Tenaga Kerja dan Pemerintah Daerah, melalui bursa tenaga kerja. Di tempat itu pasti tidak ada pungutan-pungutan, ujar Menteri.

Ia mengakui, bagi yang berpendidikan rendah dan tidak memiliki keterampilan sekarang ini sangat sulit mendapat pekerjaan. Setiap tahun tidak kurang 40.000 pencari kerja berpendidikan rendah dan tak  berketerampilan tidak dapat disalurkan, katanya.

Di samping melalui bursa tenaga kerja yang disediakan pemerintah, menteri juga menganjurkan pencari kerja memanfaatkan bursa tenaga kerja yang dikelola swasta yang telah memiliki izin Depnaker.

“Memang di sini biasanya ada biaya yang harus dikeluarkan, tapi jaminan penyaluran ada. Pungutan itu baru dilakukan setelah sipencari kerja sudah diterima bekerja dan jumlahnya tidak boleh lebih dari gaji mereka satu bulan,”demikian Sudomo.

Pungutan itu dapat dianggap sebagai ongkos administrasi dan jasa. Pembayarannya dianjurkan boleh dicicil. Atas pertanyaan wartawan, menteri Sudomo mengakui masih banyak pencari kerja yang tidak tahu persis bagaimana cara mencari kerja dan mereka enggan datang bertanya ke Departemen Tenaga Kerja.

Pertumbuhan angkatan kerja, menurut Sudomo yang mengutip hasil penelitian Bappenas dan BPS, ternyata memang lebih besar dibanding pertumbuhan penduduk, yaitu empat persen banding 2,3 persen. Hal itu mungkin disebabkan semakin banyaknya lulusan SLTA yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya kemudian mencari pekerjaan sehingga masuk dalam angkatan kerja.

Menteri mengatakan, pertumbuhan angkatan kerja selama Pelita IV sekitar 9,4 juta orang, sedang lapangan kerja yang tersedia hanya cukup untuk 6,1 juta orang. Itu apabila memakai ukuran pertumbuhan ekonomi lima persen/tahun, kata Sudomo.

Mengenai jumlah pengangguran, menteri  mengungkapkan  secara akumulatif jumlahnya 1,4 juta orang dan setiap tahun jumlah itu meningkat sekitar 90.000 orang.

Kelompok masyarakat yang paling banyak mencari kerja adalah para lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Dari sekitar 1,5 juta pencari kerja yang tercatat di bursa tenaga kerja, sekitar satu juta tamatan SLTA.

Sumber: ANTARA (26/11/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 627-628

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.