PRESIDEN SOEHARTO : PENGERAHAN MASSA DAPAT PANCING PERGOLAKAN

PRESIDEN SOEHARTO : PENGERAHAN MASSA DAPAT PANCING PERGOLAKAN[1]

 

Jakarta, Republika

Presiden Soeharto minta masyarakat untuk mewaspadai kegiatan berbagai kelompok yang menggerakkan massa guna mewujudkan cita-cita mereka. Cita-cita itu menggoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan memanfaatkan isu kesenjangan sosial dan ekonomi.

“Untuk mencapai tujuan, mereka memanfaatkan keresahan-keresahan dikalangan pekerja, petani dan kelompok masyarakat miskin di kawasan perkotaan.” kata Presiden ketika membuka Rapim Ikatan Keluarga Besar Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (IKBLA-ARH) Eksponen 66 di Istana Negara, Selasa.

Pengerahan massa untuk mendesakkan kepentingan seperti itu, lanjut Kepala Negara, bukan saja bertentangan dengan semangat musyawarah untuk mencapai mufakat, tapi juga dapat memancing pergolakan yang luas.

“Karena itu, saya mengajak semua pihak untuk sama-sama mengembangkan kedewasaan dalam menjalani kehidupan bernegara. Setiap perbedaan pendapat, perbedaan kepentingan atau perjuangan, aspirasi hendaknya diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencari jalan penyelesaian terbaik.” tegas Presiden.

Pembukaan Rapim IKBLA-ARH ini, antara lain dihadiri Menko Polkarn Soesilo Soedarman, Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung, Menpera Akbar Tanjung dan tokoh-tokoh Angkatan 66.

Kepala Negara menyebutkan, pembangunan di Tanah Air memang telah menghasilkan banyak kemajuan, usaha-usaha pemerataan makin terasa hasilnya dan makin meluas.

“Tapi kita juga menyadari adanya perbedaan yang mencolok dalam kelompok-kelompok masyarakat.” kata Presiden.

Kepada sekitar 500 tokoh Angkatan 66 dari seluruh Tanah Air, Presiden menyebutkan, sejarah menunjukkan bahwa tidak sedikit tantangan dan cobaan yang pernah dialami rakyat Indonesia.

“Bukan sekali atau dua kali, bangsa kita terancam oleh perpecahan yang disebabkan unsur-unsur dari luar (negeri) maupun dari dalam.” kata Presiden.

Namun, lanjut Kepala Negara, berkat persatuan dan kesatuan seluruh rakyat, bangsa ini tetap tegak sebagai bangsa yang berdaulat. Persatuan dan kesatuan itu merupakan modal dalam perjuangan mewujudkan cita-cita membangun masyarakat adil dan makmur.

“Untuk terus mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa di tengah-tengah kemajemukan, tidak ada pilihan lain bagi bangsa kita kecuali berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 45.” tegas Presiden.

Ketika berbicara tentang berbagai ideologi yang pernah berkembang di Tanah Air, Presiden menyebutkan bahwa sejarah telah memberikan pelajaran bahwa ideologi- ideologi itu bukan saja tidak cocok bagi bangsa Indonesia tapi juga pernah membawa bangsa Indonesia ke jurang kehancuran.

“Dengan berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 45 itulah, kita berhasil menciptakan stabilitas nasional yang dinamis dan mantap sehingga kita dapat melaksanakan pembangunan yang bertahap-tahap dan sambung-menyambung.” kata Presiden.

Sebelumnya, Ketua Umum IKBLA-ARH Djusril Djusan melaporkan, Rapim tiga hari ini hingga 10 Oktober diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai daerah. Djusril juga mengatakan, Rapim merupakan wadahnya minta pemerintah untuk segera menyampaikan RUU Keamanan Nasional kepada DPR untuk mencegah kasus yang bisa meresahkan masyarakat seperti insiden 27 Juli.

Sumber : REPUBLIKA (19/10/1996)

_________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 144-146.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.