PRESIDEN SOEHARTO: PENDUDUKAN AFRIKA SELATAN TERHADAP NAMIBIA ANCAM KEAMANAN INTERNASIONAL

PRESIDEN SOEHARTO: PENDUDUKAN AFRIKA SELATAN TERHADAP NAMIBIA ANCAM KEAMANAN INTERNASIONAL

Kepala Negara RI menegaskan, bahwa pendudukan yang tidak sah yang tems menerus oleh Afrika Selatan atas Namibia hanya makin mempergawat masalah yang melanda wilayah itu, dan mengancam perdamaian serta keamanan internasional.

Penegasan Presiden Soeharto itu terliput dalam pesan pada Konferensi Internasional tentang sanksi-sanksi terhadap Afrika Selatan yang berlangsung di Paris 20-27 Mei 1981. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menlu Mochtar Kusumaatmadja, dengan Wakil Dirjenpol Deplu Munawir Syadzali dan anggota Abdullah Kamil, Wisher Louis dan seorang staf KBRI Paris.

Konferensi bertujuan, membahas kemungkinan ditingkatkannya sanksi-sanksi terhadap Afrika Selatan agar pemerintah minoritas kulit putih di negara tersebut mengakhiri politik apartheid-nya.

“Karena itulah Pemerintah Indonesia memandang konferensi itu sangat penting demi tercapainya kemerdekaan dan persamaan bagi rakyat yang tertindas di Afrika Selatan,” kata Presiden.

Kepala Negara menilai, diselenggarakannya konferensi tersebut merupakan kejadian sangat penting. Sikap keras kepala yang terus menerus dari rezim Afrika Selatan untuk melanjutkan system jahat apartheid merupakan sumber keprihatinan yang mendalam bagi seluruh rakyat dunia yang mencintai keadilan.

Masyarakat internasional terus secara gigih berusaha mengakhiri apartheid di Afrika Selatan. tapi selalu digagalkan oleh sikap tidak mau berkompromi dari Afrika-Selatan. Tidak sedikit Resolusi dan seruan yang tidak diindahkan namun ada beberapa negara bertekad memelihara hubungan erat dengan rezim Pretoria, sehingga rezim itu merasamempunyai selubung kehormatan untuk melanjutkan politik apartheid-nya.

Rakyat Indonesia, menurut Presiden Soeharto, yang telah mengalami kolonialisme yang penuh diskriminasi rasial, menaruh simpati terhadap saudara saudaranya di Afrika

Selatan. Berdasarkan pengalaman inilah maka perjuangan menentang kolonialisme menjadi bagian ulama dari UUD 45. Rakyat dan Pemerintah Indonesia akan tetap berpegang teguh pada keyakinannya dan berkehendak terus membantu semua usaha guna menghapuskan politik apartheid.

Melalui pesannya, Kepala Negara menyampaikan penghargaan kepada Komite Khusus menentang Apartheid bagi persiapan penyelenggaraan konferensi serta dharma baktinya selama bertahun tahun berjuang menentang apartheid.

“Panitia ini lelah banyak memainkan peranan penting daIam membangkitkan pandangan umum dan kesadaran internasional akan jahatnya apartheid serta daIam usaha untuk menghapuskannya”.

Adalah penting bagi konferensi untukmengambil langkah bersama yang baru dan lebih tegas guna menghapuskan politik apartheid, termasuk diterapkannya sanksi mutlak yang menyeluruh sifatnya.

Hal ini dapat dilakukan setidak-setidaknya oleh semua peserta pertemuan di Paris sebagai langkah pertama bagi penerapan secara universal. (DTS)

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Sumber: ANGKATAN BERSENJATA (23/05/981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 82-83.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.