PRESIDEN SOEHARTO : PEMBANGUNAN YANG DILAKUKAN DEMI KESEJAHTERAAN LAHIR BATIN

PRESIDEN SOEHARTO : PEMBANGUNAN YANG DILAKUKAN DEMI KESEJAHTERAAN LAHIR BATIN[1]

 

Jakarta, Business News

Presiden Soeharto menegaskan, pembangunan yang dilakukan bukan hanya untuk meningkatkan kemakmuran lahir belaka. Juga tak hanya untuk mengejar kepuasan batin. Pembangunan yang dilakukan untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin. Hakekat pembangunan kita adalah pembangun manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan dan pedomannya.

Kepala Negara memaparkan hal di atas saat peresmian  proyek-proyek pembangunan di Propinsi TimorTimur di Dili Selasa kemarin. Kunjungan Presiden ke Propinsi termuda ini selain untuk bertemu muka dengan masyarakat Timtim dan melihat kemajuan-kemajuan yang dicapai juga meresmikan berbagai proyek antara lain jalan MotaAin-Dili-Los Palos, sejumlah jembatan baru, Patung Kristus Raja di Bukit Fatukama.

Apabila pada awal integrasi dahulu pendapatan perkapita penduduk TimorTimur hanya Rp 80.000,- maka pada tahun’94 yang lalu telah mencapai hampir Rp 600.000,- atau meningkat lebih dari 7 kali lipat dalam waktu kurang dari dua dasawarsa. Laju pertumbuhan ekonomi daerah ini selama REPELITA V yang lalu mencapai lebih dari 10% setahun. Laju pertumbuhan itu lebih tinggi dari laju pertumbuhan ekonomi seluruh Indonesia yang mencapai rata-rata 6,8% setahun.

Kemajuan pembangunan yang lebih mengesankan terjadi dibidang pendidikan. Apabila pada awal integrasi dahulu jumlah sekolah dasar di TimorTimur hanya 47 buah, sekolah menengah pertama 2 buah dan sebuah sekolah menengah umum dan sebuah sekolah teknik menengah, maka pada akhir REPELITA V daerah ini telah memiliki 656 buah sekolah dasar, 102 buah sekolah menengah pertama, 35 buah sekolah menengah umum, 9 buah sekolah menengah ekonomi atas dan 9 buah sekolah teknik menengah. Bahkan kini daerah ini telah memiliki 4 buah perguruan tinggi.

“Kemajuan lain juga dicapai di bidang pembangunan jalan raya. Apabila pada awal integrasi daerah ini hanya memiliki 20km jalan yang diaspal, maka pada akhir REPELITA V jalan beraspal meningkat lebih 100 kali panjangnya sehingga mencapai lebih dari 2.100 km.” ungkap Presiden Soeharto.

Masih Banyak Masalah

Masih banyak masalah yang dihadapi masyarakat di sini. Salah satu di antaranya adalah kesempatan kerja. Ini adalah bagian dari masalah yang kita hadapi sebagai bangsa yang sedang membangun, masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang sedang bergerak maju. Masalah ini harus kita atasi dengan terus meningkatkan dan memperluas  pembangunan.

Kita semua berharap di tahun-tahun yang akan datang pembangunan di “Provinsi Termuda” ini dapat bergerak makin cepat lagi, agar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat daerah ini dapat meningkat. Semuanya itu menyadarkan kita bahwa pembangunan hanya berjalan dalam alam Indonesia merdeka. Memang, penjajahan di mana pun di muka bumi ini tidak pemah memajukan rakyat. Bangsa kita sangat bersyukur mempunyai Pancasila sebagai dasar falsafah negara. Dengan Pancasila sebagai dasar falsafah negara, maka kita menikmati hubungan yang sebaik-baiknya antara negara kebangsaan dengan umat beragama yang menjadi warga negaranya. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dari Pancasila telah memberikan sifat khas kepada negara kebangsaan kita. Dengan sila ini, negara tidak memaksa dan tidak akan memaksakan sesuatu agama untuk dipeluk oleh warga negaranya. Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Kebebasan beragama merupakan salah satu hak yang paling mendasar, karena langsung berkaitan dengan martabat manusia sebagai pribadi dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dengan demikian, kemajemukan agama tidak merupakan kerawanan. Kemajemukan agama bahkan dapat merupakan potensi dan kekuatan yang dapat kita dayagunakan mendorong maju pembangunan.

Persatuan dan kesatuan nasional kita sama sekali akan meniadakan kemajemukan bangsa kita. Persatuan kesatuan bangsa kita tetap menghormati perbedaan latar belakang sejarah, kebudayaan dan identitas khas dari rakyat Adalah mustahil untuk meniadakan keanekaragaman rakyat. Justru sebaliknya, keanekaragaman merupakan sumber masukan yang amat kaya untuk pengembangan kebudayaan nasional kita. Kebudayaan rakyat yang ada di daerah-daerah adalah bagian yang paling dasar dari kebudayaan nasionalis tumbuh secara dinamis. Sama halnya dengan daerah-daerah di Tanah Air kita yang luas ini, diminta agar dalam zaman pembangunan lahir batin sekarang inirakyat TimorTimur juga menggali, memperkuat dan mengembangkan kebudayaan daerah ini.

Negara kita menganut faham kebangsaan. Ini berarti negara kita menyatu dengan seluruh rakyatnya tanpa membedakan golongan yang satu dengan golongan yang lain. Negeri kebangsaan berdiri di atas semua golongan dan perseorangan. Wawasan kebangsaan mengandung arti bahwa setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama, terlepas dari latar belakang suku, agama atau ras asal-usulnya.

Faham kekeluargaan yang kita anutju ga tidak membolehkan diskriminasi dalam bentuk apapun dan atas dasar apapun. Kita tidak membedakan mayoritas dengan minoritas, apalagi mempertentangkannya. Yang kita kembangkan adalah kerukunan keserasian, keselarasan dan keseimbangan.

Peran Perhubungan Penting

Dalam rangka mewujudkan kerukunan di antara kita, peranan perhubungan sungguh penting. Tanpa perhubungan yang mantap, maka sulit kita mewujudkan kerukunan, keserasian, keselarasan dan keseimbangan tadi. Karena itulah, secara bertahap kita berusaha sekuat tenaga untuk membangun sarana di prasarana perhubungan yang mampu menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain, satu kota dengan kota lain dan satu daerah dengan daerah lainnya, ujar Soeharto.

Sarana dan prasarana perhubungan jelas sangat penting untuk menggerakkan pembangunan ekonomi dan mengembangkan bidang-bidang kehidupan bangsa kita pada umumnya. Dengan keberhasilan kita dalam membangun jalan-jalan dan jembatan-jembatan di pulau-pulau kita yang sangat banyak jumlahnya itu maka daerah-daerah terpencil di pulau-pulau tadi tidak saja dapat merasakan kemajuan yang dicapai oleh daerah-daerah lain, tetapi juga dapat meningkatkan kegiatan ekonominya.

Dengan selesainya pembangunan jalan dan jembatan jembatan yang menghubungkan MotaAin-Dili-Los Palos sepanjang lebih dari 325 km, misalnya, maka hubungan antara kabupaten-kabupaten Bobonaro, Liguisa, Oili, Manatuto, Baucau da Lautem dapat dilakukan dengan lebih cepat dan lebih menyenangkan. Dengan demikian roda-roda perekonomian daerah ini akan dapat berputar bertambah cepat, hubungan antara kota-kota kabupaten makin erat dan rasa persatuan bertambah kuat.

Sumber : BUSINESS NEWS (16/10/1996)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 451-454.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.