PRESIDEN SOEHARTO: PEMBANGUNAN TIDAK UNTUK DINIKMATI SATU KELOMPOK SAJA

PRESIDEN SOEHARTO: PEMBANGUNAN TIDAK UNTUK DINIKMATI SATU KELOMPOK SAJA

Presiden Soeharto menegaskan bahwa hanya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 yang berhak menetapkan Garis­Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan hak konstitusional MPR tersebut sedikit pun tidak boleh dikurangi.

Kepala Negara mengemukakan penegasannya itu dalam pidatonya ketika meresmikan pembukaan konperensi nasional Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di lstana Negara, Jakarta, Selasa pagi. Konperensi ini diharapkan menghasilkan sumbangan pemikiran mengenai GBHN bagi sidang umum MPR yang akan datang.

Presiden mengatakan bahwa seluruh lapisan masyarakat dan setiap warga negara berhak memberikan sumbangan pemikiran untuk GBHN kepada MPR. Namun MPR lah yang mempunyai hak sepenuhnya untuk mengambil keputusan mengenai GBHN tersebut.

Presiden mengatakan bahwa pembangunan harus dilaksanakan semua pihak tanpa kecuali dan harus merupakan usaha dari semua, oleh semua rakyat dan untuk seluruh rakyat.

Oleh karena itu pembangunan bukan milik salah satu kelompok, bukan menjadi tugas salah satu kelompok dan tidak untuk dinikmati satu kelompok saja.

"Setiap anggota masyarakat wajib ikut memikirkan pembangunan dan masa depan bangsanya," kata Presiden.

Namun Kepala Negara mengingatkan bahwa semua pemikiran dan aspirasi mengenai pembangunan itu harus disalurkan secara tertib menurut ketentuan yang tersedia dalam kehidupan kenegaraan di Indonesia.

Tidak Setiap Keinginan

Presiden menegaskan pula bahwa tidak setiap keinginan dapat begitu saja dimasukkan dalam GBHN karena membangun masa depan bangsa bukan berarti hanya menyusun daftar panjang dari keinginan-keinginan yang indah-indah saja.

GBHN merupakan hal yang amat penting bagi bangsa Indonesia karena di dalam GBHN itulah ditetapkan berbagai hal yang menjadi rencana dan keinginan bangsa Indonesia, di masa depan khususnya untuk masa lima tahun berikutnya.

Sebagai negara yang berkedaulatan rakyat danberkonstitusi, rakyat melalui MPR menentukan masa depamya sendiri. Karena itu setiap sumbangan pikiran mengenai arah dan isi GBHN akan menjadi wujud tanggung jawab demokrasi.

Tapi tidak setiap keinginan dapat begitu saja dimasukkan ke dalam GBHN, karena menurut Presiden membangun adalah berjuang untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi dan lebih maju di masa mendatang.

Presiden mengemukakan, titik pusat perhatian pembangunan sekarang ini pada pembangunan ekonomi dan masalah masalah yang dihadapi dalam melaksanakan pembangunan seperti masalah kurangnya modal, besarnya jumlah penduduk dan keadaan perekonomian dunia yang dapat menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam usaha mengatasi masalah masalah besar itu, baik berupa masalah nasional maupun masalah sebagai akibat keadaan dunia, Presiden menganggap perlu adanya gerak yang dinamis dan dukungan yang mantap dari seluruh masyarakat.

Penggerak dinamika ini kata Presiden antara lain diharapkan dari para sarjana teknik dan para ahliteknologi sebab pemikiran dan gagasan para sarjana di perlukan untuk memperluas cakrawala pandangan dan memberikan dorongan kepada bangsa yangmembangun.

Sementara itu, Ketua Umum PII Ir. G. M. Tampubolon dalam laporannya mengatakan bahwa konperensi PII yang berlangsung sampai 8 Juli mendatang itu bertemakan "Sumbangan Pemikiran PII bagi Perumusan GBHN 1983 menyongsong Era Industrialisasi".

Konperensi nasional PII ini diikuti 200 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. GM Tampubolon mengemukakan pula bahwa jumlah insinyur di Indonesia sekarang inibaru mencapai 20.000 orang, 0,013 persen dari jumlah seluruh penduduk Indonesia 148 juta orang.

Ini berarti, kata GM. Tampubolon, usaha penyediaan tenaga-tenaga teknisi dan insinyur merupakan hal yang mendesak. (RA)

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (06/07/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 741-742.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.