PRESIDEN SOEHARTO: PARA PEJABAT HARUS DI lSI MENTAL KEWIRASWATAAN

PRESIDEN SOEHARTO: PARA PEJABAT HARUS DI lSI MENTAL KEWIRASWATAAN

Presiden Soeharto menganggap perlu agar mental kewiraswastaan dimiliki para pejabat, bukan hanya oleh kalangan swasta saja. Ia minta kepada Lembaga Bina Wiraswasta agar tidak jemu-jemu menyebarkan jiwa kewiraswastaan itu kepada kalangan pejabat.

Permintaan itu dikemukakan dalam pertemuan dengan pengurus lembaga tersebut di Bina Graha hari Sabtu.

Ketua lembaga, Dr. Suparman Sumahamijaya menyatakan bahwa para pejabat memang seharusnya memiliki mental tersebut. Karena wiraswasta pada hakekatnya adalah mental teladan dalam berdikari dan bukannya sebagai pengejar keuntungan.

Dinyatakan, dengan mental itu pula orang akan mampu menembus berbagai risiko dengan meningkatkan efisiensi, serta tunduk pada tertib hukum lingkungannya. Untuk mencapai itu, diperlukan inisiatif, yaitu kemampuan memaksa diri sendiri untuk berbuat baik,

"Sebab orang atau bangsa yang belum mampu memaksakan dirinya sendiri, akan terus dlipaksa-paksa oleh orang lain atau bangsa lain," kata Dr. Suparman.

Ia berpendapat para pejabat tidaklah cukup berbekal ketrampilan. Sebab peranan ketrampilan itu sebenarnya hanya 15%, sedang 85% adalah mentalitas.

Menjawab pertanyaan, Dr. Suparman mengatakan bahwa penataran P4 yang dilakukan dewasa ini bagi para pejabat dan pegawai negeri memang merupakan bagian pendidikan mental, tapi khususnya adalah dasar spiritual dan falfasah.

Sedang dalam hidup ini, selain harus punya pegangan filsafat hidup yaitu Pancasila bagi manusia Indonesia, masih diperlukan "silat hidup" yang penting sekali untuk mencapai kemajuan selanjutnya. "Filsafat saja tidaklah cukup," katanya.

Lewat Pendidikan

Menurut Suparman, hila mutu manusia Indonesia yang jumlahnya begitu besar itu dapat ditingkatkan kewiraswastaannya, maka jumlah besar itu bukanlah beban. Justru malah menjadi kekayaan. Tapi selama mutu tidak ditingkatkan, jumlah itu memang menjadi beban.

Ia yakin, jika Pemerintah mau membantu penyebaran pendidikan kewiraswastaan ini, maka dalam lima tahun akan dicapai 2% dari penduduk mempunyai jiwa kewiraswastaan.

Caranya, adalah dengan menyediakan sarana TV dan radio untuk memberi pendidikan wiraswasta dua kali sehari, disamping bantuan media-massa lainnya yang harus dengan gencar ikut mengisikan pendidikan tersebut.

Dr. Suparman berpendapat, jumlah 2% itu sudah akan balk sekali dan modal untuk kemajuan bangsa. Sebab wiraswasta yang dibutuhkan Indonesia itu dapat dan memang harus digali dari kebudayaan sendiri, sehingga menampilkan manusia yang dibutuhkan masyarakatnya.

Antara lain ciri kewiraswastaan itu adalah manusia yang berani mengambil risiko dengan bertanggungjawab kepada masyarakatnya, menjadi "pendekar" kemajuan, tunduk kepada hukum dan manusia teladan yang berinisiatif, mampu memanfaatkan pikiran, otot dan waktunya.

Menurut Suparman, kewiraswastaan itu tidaklah mungkin diperoleh dari belajar di luar negeri atau dari orang asing.

"Tidaklah mungkin membuat manusia Indonesia made in Germany atau made in Japan", katanya.

Ia menyatakan paling yang dapat diberikan oleh orang asing hanyalah penddidikan "entrepreneurship", yang akan menjadi orang Indonesia mampu dalam bidang "top management" atau menjadikan mereka calon-calon "managing director" dan sebagainya.

Ia menambahkan, ”managing director” atau ”mandir” itu hakekatnya sama saja dengan "mandor". Bedanya "mandir" itu pakai dasi, sedang mandor tidak.

Pengangguran

Dalam kaitan itu, Ketua Lembaga Bina Wiraswasta itu berpendapat, yang jadi persoalan adalah mutu sumber daya manusia. Kebanyakan semua pihak kini masih memandang mereka sebagai calon pegawai, karyawan atau buruh. Sehingga pendidikan pun terutama orientasinya adalah menyusun kasta calon pekerja.

Dikatakan, pihak lembaga berpendapat sebaliknya. Yaitu semua sumber daya manusia itu adalah calon pencipta kerja, bukan sekedar pencari kerja dan pemakan gaji. Sehingga minimal pendidikan yang harus diberikan adalah bekal kewiraswastaan.

Sehingga sekalipun nantinya tidak sampai harus bekerja di pemerintah misalnya, yang bersangkutan dapat memiliki pekerjaan sendiri dengan menggunakan kesempatan­kesempatan di lingkungan sendiri. Sebab wiraswasta adalah dari kata "wira" yang artinya manusia perkasa, dan ”swasta” yang berarti berdikari.

Padahal, tambahnya, kesempatan berusaha di Indonesia itu jauh lebih besar dibanding negara-negara lainnya yang tidak mempunyai kekayaan alam seperti Korea, Jepang dan lain-lainnya.

Tapi, kekayaan alam itu semata-mata tidaklah akan menentukan berhasilnya pembangunan. Yang lebih berperan adalah mutu sumber daya manusianya dan hal ini janganlah diharap dapat diperoleh dari orang-orang asing, baik yang berusaha di Indonesia ataupun yang di luar negeri. Demikian Dr. Suparman, yang pagi itu disertai beberapa anggota pengurus lembaga lainnya, seperti Mokoginta, Ny. Inkiriwang dan lain-lainnya.

Kepada pers ia mengingatkan, karena sifatnya itu, kewiraswastaan dapat dikembangkan pada semua bidang, entah kalangan pejabat pemerintahan, pengusaha, wartawan, olahraga dan lain-lainnya.

Dan bila ini telah berkembang, katanya, maka tidak akan terdengar teriakan-teriakan minta fasilitas dan sebagainya lagi.

"Sebab teriakan semacam itu hakekatnya adalah mental kumal atau mental kere..! " Demikian Dr. Suparman. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (16/04/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 140-142.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.