PRESIDEN SOEHARTO PADA HUT ABRI KE – 27 PEMBANGUNAN ABRI YG KUAT SUATU KEHARUSAN

PRESIDEN SOEHARTO PADA HUT ABRI KE – 27 PEMBANGUNAN ABRI YG KUAT SUATU KEHARUSAN

Rakyat Harus Benar2 Merasa Terlindung & Diayomi ABRI [1]

 

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Presiden Djenderal Soeharto mengatakan bahwa ABRI tidak dilahirkan dalam upacara kebesaran dengan nyaringnya bunyi terompet dan derunya genderang. Tetapi ABRI lahir dalam kebesaran cita2, kebesaran semangat dan kebesaran tindakan.

Dan itu pula sebabnya kata Presiden yang telah membuat ABRI kuat menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dan lebih modern peralatannya. Bahkan karenanya ABRI tahan terhadap segala macam cobaan sehingga mampu berdiri sebagai kekuatan bangsa yang sadar akan peranan dan tugasnya sampai saat ini.

Jangan Lupa Diri

Presiden Soeharto bertindak selaku Irup pada peringatan 27 thn lahirnya ABRI pada tanggal 5 Oktober kemarin di parkir timur Senayan itu lebih jauh menjelaskan bahwa apa yang dikemukakannya diatas bukan untuk membuat ABRI lupa diri atau lengah. Justru supaya ABRI mengetahui benar2 dimana letak kekuatannya yang paling pokok, supaya ABRI memelihara, memperkuat dan mewariskan kekuatannya itu kepada generasi muda ABRI maupun generasi2 muda bangsa ini pada umumnya.

Organisasi dan peralatan modern ini memang perlu kata beliau. Tetapi keteguhan cita2 kebenaran pandangan hidup dan ketepatan penggunaan senjata adalah lebih perlu dan mutlak. Tanpa hal itu tidak akan banyak artinya organisasi dan peralatan modern dimaksud, malah mungkin digunakan kearah yang salah.

Kita Sokong

Tentang kemerdekaan nasional oleh Presiden disebutkan sebagai milik dan kehormatan nasional yang tertinggi. Ia sekaligus mencerminkan harga diri setiap manusia Indonesia dan harga diri bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan. Dan daripada pula lahir setiap anti penjajahan yang bukan hanya kita mengerti akan buruknya, bahkan telah merasakan segala akibatnya.

Karenanya pula tambah Kepala Negara itu, kita menentang setiap bentuk penjajahan dimuka bumi ini dan selalu menyokong setiap perjuangan kemerdekaan dari bangsa2 yang masih terjajah oleh bangsa lain.

Lebih jauh lagi menurut beliau kita juga tidak akan berhenti pada perjoangan menegakan kemerdekaan. Kita selalu merasa dipanggil oleh tanggungjawab terhadap masa depan dan merasa dipanggil oleh pembangunan bangsa ini.

Apa yang ditekankan belakangan kata Presiden adalah intisari daripada “semangat 45” atau nilai2 45 yang bukan monopoli ABRI saja, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia. Kita perlu mendalaminya, karena ia juga akan merupakan kekuatan dalam melaksanakan pembangunan masyarakat modern.

Tidak Benar

Adalah tidak benar kata kepala Negara, kalau ada anggapan bahwa pemeliharaan stabilitas nasional itu terlalu ketat dilakukan oleh ABRI sehingga tidak memungkinkan adanya perobahan2 sosial politis yang masih dianggap perlu. Yang harus kita jaga daripadanya adalah agar perobahan2 atau perombakan2 kearah kemajuan dan pembaharuan masyarakat itu tetap berlangsung secara tertib dan teratur.

Alasan lain yang mengharuskan, karena sumber bahaya masih tetap ada. Terutama sekaIi yang berasal dari kegiatan sisa2 G 30 S – PKI yang tetap menunggu saat untuk bangkit kembali. Pendeknya kewaspadaan kita belum boleh kendor, kata Kepala Negara itu. Dan kewaspadaan itu tidak berarti kecemasan yang terus menerus tetapi berarti kesiap-siagaan agar tidak lagi ditusuk dari belakang seperti tahun 1948 dan terulang pada tahun ‘ 65.

Justru itu pula ABRI sebagai satu-satunya kekuatan nasional yang tetap utuh selamanya haruslah benar2 terpelihara kesatuan dan kemampuannya.

Rakyat Harus Terlindung

Konsolidasi yang telah dilakukan oleh ABRI dalam memelihara kesatuan dan kemampuan itu antara lain kata Presiden Soeharto telah dimanifestasikan lewat proses integrasi kedalamnya. Menggunakan kembali nama TNI tepat pada hari ABRI tahun yang lalu adalah salah satu daripadanya. Dan langkah lainnya adalah penyeragaman tanda pangkat ABRI yang ditetapkan tepat mulai 5 Oktober 1972 kemarin.

Disamping itu integrasi antara ABRI dengan rakyat juga harus ditingkatkan kata Kepala Negara dimana justru kekuatan Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta kita terletak pada Rakyat sendiri sebagai perjoangan yang terutama. Untuk itu pula diperingatkan supaya Rakyat benar2 harus terlindung dan diayomi oleh ABRI.

ABRI yang Kuat

Akhirnya disinggung pula oleh Kepala Negara tentang pembangunan ABRI bhw dalam jangka panjang ABRI yang kuat dan mampu melindungi kedaulatan dan keselamatan Bangsa jelas merupakan suatu keharusan dan pembangunan itu sendiri akan dikembangkan diatas dokrin HANKAMRATA yang menyebutkan bahwa keselarasan Bangsa dan Negara ditentukan oleh Rakyat yang patriotik, militan, terlatih dan tersusun baik.

ABRI yang modern tambah beliau lagi, jelas memerlukan alat peralatan. yang modern pula. yang mahal harganja, besar biaya penggunaannya dan besar pula biaya pemeliharaannya. Semuanya itu haruslah terpikul oleh kemapuan pembiayaan Negara apabila pembangunan itu makin cepat jalannya yang karenanya pula pembangunan ABRI itu perlu tetap diletakkan dalam rangka pembangunan seluruh Bangsa kita. Dan pada akhirnya pembangunan ABRI menurut Kepala Negara, harus pula kita letakkan pada kekuatan Bangsa sendiri perlu ada kemampuan industri yang kuat sehingga kita dapat menyediakan diri dan menyempurnakan alat peralatan HANKAM modern, sesuai dengan keutuhan.

Di samping itu unsur HANKAM sendiri harus memiliki kesanggupan untuk menggunakan dan memelihara alat peralatan yang modern itu. (DTS)

Sumber: ANGKATAN BERSENJATA (06/10/1972)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 32-34.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.