PRESIDEN SOEHARTO : NASIB KITA DI TANGAN SENDIRI

PRESIDEN SOEHARTO : NASIB KITA DI TANGAN SENDIRI[1]

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

Presiden Soeharto menegaskan bahwa dia tidak akan ragu sedikit pun melakukan apa saja untuk mengatasi keadaan untuk meringankan beban kehidupan rakyat yang bertambah berat “Nasib kita berada di tangan kita sendiri”.

“Saya telah mulai melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi dan keuangan yang mendapat dukungan IMF. Tetapi, tanda-tanda perbaikan belum juga tampak.” tambahnya.

Kepala negara mengutarakan hal tersebut ketika menyampaikan Pidato Pertanggungjawaban selaku Presiden/Mandataris MPR RI di depan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Senayan kemarin. Sejumlah 997 anggota MPR menghadiri sidang, disamping para anggota Kabinet Pembangunan VI, pejabat tinggi dan lembaga tertinggi negara serta para anggota Korps Diplomatik.

Presiden Soeharto menegaskan, kunci utama dan situasi sekarang ini adalah stabilisasi nilai tukar rupiah pada tingkat yang wajar. Selama tingkat stabilisasi belum tercapai, ia tidak dapat melihat melihat perbaikan keadaan dalam waktu dekat. Itulah sebabnya, katanya, dia meminta Dana Moneter Internasional (IMF) dan para kepala pemerintah lainnya dapat membantu menemukan alternatif yang lebih tepat.

“Saya namakan konsep yang lebih tepat itu sebagai konsep IMF Plus,” lanjut Kepala Negara.

Dalam kesempatan itu Presiden menambahkan sedang menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian kemungkinan menerapkan sistem Dewan Mata Uang (currency board system/CBS). Langkah apapun yang akan diambil, tegas Kepala Negara, memerlukan dukungan IMF sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan mempunyai reputasi tinggi.

Sidang Umum MPR dibuka pada pukul 09.00 oleh Ketua MPR/DPR Harmoko, setelah sebelumnya dikumandangkan lagu Indonesia Raya, disusul dengan mengheningkan cipta. Tepuk tangan panjang menggema ketika Presiden Soeharto mengakhiri pidato pertangungjawaban selama hampir satu jam itu. Pidatonya itu disiarkan secara langsung oleh seluruh jaringan televisi nasional dan CNN.

Pemulihan

Untuk mengatasi keadaan, ungkap Kepala Negara telah diambil berbagai langkah pemulihan ekonomi. Langkah jangka pendek adalah dengan mencukupi keperluan pangan dan obat-obatan, serta menampung tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan, diusahakan pengurangan kehilangan hasil panen, meningkatkan mutu intensifikasi, memperluas areal tanam melalui pemanfaatan lahan tidur, meningkatkan pemanfaatan lahan-lahan irigasi dan pasang surut, serta memanfaatkan HTI untuk tanah sela secara tumpangsari.

Sedangkan berkenaan dengan obat-obatan, impornya dipercepat dan kegiatan produksi dipulihkan. Pemerintah memberi subsidi untuk pangan dan obat-obatan agar ada kelancaran distribusi, serta memberi kepastian dan menjaga stabilitas harga yang wajar, kata Kepala Negara.

Menurut presiden, tujuan pokok dari program reformasi dan restrukturisasi ekonomi dan keuangan tersebut adalah, untuk memulihkan kepercayaan terhadap rupiah, lembaga keuangan dan masa depan ekonomi Indonesia.

“Sesuai jadwal waktunya, sebagai program kita laksanakan dan sebagian lainnya menyusul kemudian.”

Dalam pidato setebal 30 halaman itu, Presiden/Mandataris MPR mengemukakan, meskipun pelaksanaan Repelita VI masih tersisa satu tahun lagi, tetapi banyak sasaran akhir Repelita VI yang telah kita lampaui dan ada sasaran yang belum dapat diwujudkan.

Presiden menguraikan, sampai dengan tahun ketiga Repelita VI perekonomian nasional memperlihatkan perkembangan yang mantap sesuai dengan yang diharapkan.

Laju pertumbuhan ekonomi selama periode 93-96 berturut-turut mencapai 7,3%, 7,5%, 8,2% dan 8%. Tetapi, pada paruh kedua tahun’97 gejolak moneter tiba-tiba datang menerjang. Pertumbuhan ekonomi melambat. Angka sementara pertumbuhan ekonomi tahun’97 hanya 4,7%. Padahal selama empat tahun Repelita VI pertumbuhan rata-rata mencapai 7,1% per tahun. Sama dengan sasaran Repelita VI yang telah direvisi. Presiden menjelaskan sampai pertengahan tahun lalu suasana umum di dalam negeri serta regional dan Internasional memberi dukungan yang baik bagi kelancaran dan kelanjutan pembangunan.

Tetapi ternyata pada 1997 adalah tahun keprihatinan bagi Indonesia. Tahun lalu, menurut Presiden, Indonesia mengalami kecelakaan di darat, laut dan udara yang datang silih berganti yang mulai mengganggu urat nadi perekonomian.

Sumber : BISNIS INDONESIA (02/03/1998)

____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 118-119.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.