Presiden Soeharto : MOHON DOA RESTU LANJUTKAN TUGAS KENEGARAAN

Presiden Soeharto :

MOHON DOA RESTU LANJUTKAN TUGAS KENEGARAAN[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto mohon doa restu seluruh rakyat Indonesia untuk dapat melanjutkan sepenuh-penuhnya tugas kenegaraan yang dipercayakan di atas pundaknya.

“Setelah hari-hari berkabung selama satu minggu terakhir ini saya mohon doa restu seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan sepenuh-penuhnya tugas kenegaraan yang dipercayakan di atas pundak saya.” kata Kepala Negara ketika menyampaikan ucapan terima kasih melalui TVRI dan RRI Jumat (3/5) malam, sehubungan dengan meninggalnya Ibu Tien Soeharto.

Jumat malam di Jalan Cendana, Jakarta, berlangsung tahlilan sebagai peringatan hari ketujuh meninggalnya Ibu Tien Soeharto. Dalam kesempatan itu Bambang Trihatmodjo mewakili keluarga Presiden Soeharto menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh hadirin atas rasa belasungkawa dan simpati.

Hadir dalam acara tahlilan tersebut para Menteri Kabinet Pembangunan VI, para pejabat tinggi negara serta masyarakat sekitar Jalan Cendana, Jakarta.

“Sejak hari Minggu pagi-pagi tanggal28 April 1996, ada sesuatu yang hilang dari tengah-tengah keluarga kami, sesuatu yang tidak ternilai harganya bagi kami. Keluarga besar kami kehilangan seorang isteri pendamping setia, seorang ibu tercinta, seorang eyang, dan seorang eyang-buyut yang penuh kasih. Keluarga besar kami telah kehilangan seseorang tempat kami mencurahkan segala kasih sayang. Kami kehilangan seseorang yang melimpahkan segala kasih sayangnya kepada kami semua.” ujar Presiden Soeharto.

Dengan suara tersendat dan terharu Presiden Soeharto mengatakan bahwa Almarhumah Ibu Tien Soeharto telah dipanggilil oleh Yang Maha Kuasa.

“Kami telah memakamkannya sesuai syariat agama Islam yang dipeluknya dan sesuai pula dengan adat yang mempengaruhi hidupnya sebagai orang Jawa. Kami sekeluarga diliputi duka cita yang sangat dalam.” ujar Kepala Negara.

Namun, tambah Presiden Soeharto beban batin yang sangat berat ini terasa lebih ringan oleh limpahan rasa bela sungkawa dan simpati dariberbagai kalangan, golongan, dan lapisan masyarakat luas yang ditunjukkan kepada saya dan keluarga saya. Kami merasakan ketulusan hati Bapak-bapak ,Ibu-ibu, Saudara -saudari, dan remaja putera dan puteri ,juga anak-anak yang telah datang kerumah saya dan serta mengantar perjalanan akhir almarhumah dari tempat tinggal kami dijalan Cendana sampai lapangan terbang Halim Perdanakusuma di Jakarta, dari lapangan terbang Solo sampai rumah kami di Kalitan, dari kediaman kami di Kalitan sampai tempat pemakaman Astana Giribangun.

Doa terbaik melalui tadarusan dan tahlilan serta cara-cara kepercayaan agama lain, terus dipanjatkan di mana-mana mulai nafas terakhir almarhumah sampai sekarang. Keluarga kami yang ditinggalkanjuga didoakan agar diberi-Nya kekuatan lahir batin dan tawakal serta dapat melanjutkan cita-cita luhur yang telah dirintis oleh almarhumah dalam mengabdi kepada kemanusiaan.

Untuk segala budi baik dan kehormatan yang diberikan kepada almarhumah tadi, kami sekeluarga hanya dapat menyampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya dan rasa penghargaan kami yang setinggi-tingginya. Semoga amal baik tadi diterima oleh Allah SWT sebagai ibadah dan mendapat balasan yang berlipat ganda.

Kami mohon keikhlasan masyarakat untuk memaafkan atas segala perbuatan tutur kata atau tindak tanduk dalam pergaulan selama Ia hidup yang kurang berkenan di hati, baik yang disengaja maupun tidak sengaja.

Kami sekeluarga juga mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan dalam penerimaan atau penyambutan para tamu selama berlangsungnya acara pemakaman sampai malam-malam tadarus dan tahlilan di kediaman kami di Kalitan Solo dan di Jalan Cendana Jakarta.

Sekiranya berkenan, kami mohon Bapak-bapak dan lbu-ibu serta Saudara-­saudara tetap berdoa kiranya dosa-dosa almarhumah diampuni dan amal perbuatannya diterima Yang Maha Kuasa. Doa itu makin akan melapangkan jalan arwah dalam menghadap Al Khalik, Presiden Soeharto mengatakan.

Sumber : SUARA KARYA (06/05/1996)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 218-219.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.