PRESIDEN SOEHARTO MENGINGATKAN VETERAN RI: PERJUANGAN BUKAN PROFESI TAPI AMAL

PRESIDEN SOEHARTO MENGINGATKAN VETERAN RI: PERJUANGAN BUKAN PROFESI TAPI AMAL

MENGINGATKAN VETERAN RI

Presiden Soeharto mengingatkan kepada anggota Veteran bahwa perjuangan merupakan panggilan dan pengabdian. Sama sekali bukan profesi atau pekerjaan.

Memberikan sambutan pada pengukuhan Dewan Paripurna Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) dan Pimpinan Pusat LVRI di Istana Negara Senin pagi, Kepala Negara kembali menegaskan perjuangan adalah amal kepada Tanah Air yang tidak mengenal akhir.

Mengawali sambutannya itu. Kepala Negara menyatakan ketidak raguannya akan dukungan Veteran RI terhadap usaha2 pembangunan yang sedang dan akan terus dilaksanakan.

Hal ini menurut Kepala Negara dimungkinkan apabila veteran dapat tetap menghayati bahwa pembangunan yang dilaksanakan sekarang tidak lain merupakan kelanjutan perjuangan menegakkan dan membela kemerdekaan dahulu.

Tantangan dan Godaan

Berkata Kepala Negara meskipun seorang veteran organisasi resmi aktif dalam lingkungan kesatuan ABRI ataupun organisasi resmi lainnya namun ini tidak berarti bahwa pengabdian untuk perjuangan bangsa selanjutnya telah selesai dan berhenti.

Perjuangan dewasa ini menurut Kepala Negara tidak lebih ringan jika dibandingkan dengan perjuangan di masa revolusi. Bahkan, tantangan2 dan godaan2 yang dihadapi dewasa ini lebih besar dan beraneka ragam.

"Seperti yang pernah saya kemukakan, tidak jarang tantangan itu ada dalam diri kita sendiri, seperti kecenderungan untuk cepat menjawab hasil untuk hidup dalam gaya yang berlebihan tanpa menunjang rasa pada sebagian masyarakat sekitar kita yang masih kekurangan dan sebagainya", kata Kepala Negara.

Dalam hubungan itu Presiden meminta agar kita tetap waspada, selalu mawas diri dan berusaha supaya berhasil dalam mengatasi tantangan demi tantangan yang dihadapi.

Kepada seluruh bangsa dan khususnya veteran RI, diharapkan agar senantiasa merenungkan kembali apa yang dituju dengan kemerdekaan itu dan apa yang kita sumbangkan dalam mencapai tujuan kemerdekaan.

Dikatakan selanjutnya, dengan mengerahkan segala kemampuan fisik dan materiil yang dimiliki yang jelas terbatas, kita tetap berkeyakinan dapat melaksanakan pembangunan dengan berhasil asalkan kita tetap memiliki semangat perjoangan kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Semangat perjuangan 17 Agustus 1945 untuk masa sekarang ini tetap diperlukan.

Sedang yang perlu dilakukan sekarang ini oleh veteran RI adalah memelihara nyala semangat 17 Agustus 1945. Semangat inilah yang menurut Kepala Negara harus menjadi sumber motivasi perjuangan kita sekarang demi berhasilnya pembangunan yang dilaksanakan.

Repelita III

Di lain bahagian dari sambutannya dikatakan, meskipun sebagai pejuang di mana imbalan jasa bukan merupakan tujuan dan harapan pokok seorang veteran namun kita juga sadari bahwa veteran seperti halnya golongan2 lain dalam masyarakat Indonesia juga mengharapkan perbaikan nasib yang adil dan merata.

Setidak-tidaknya, demikian Kepala Negara, veteran mengharapkan penghargaan dari negara dan bangsanya yang wajar sesuai dengan hak2nya yang ditetapkan menurut peraturan yang ada.

Mengenai hal ini Kepala Negara menjamin bahwa Pemerintah akan mengusahakan terlaksananya ketentuan2 tersebut namun dalam batas2 kemampuan negara sesuai dengan makin meningkatnya hasil2 pembangunan.

Menyinggung tentang pelaksanaan Repelita III yang sudah akan dimulai April 1979 ini, ditandaskan bahwa keberhasilan pembangunan bukan hanya terletak ditangan Pemerintah saja akan tetapi harus juga mendapatkan tanggapan dan partisipasi masyarakat seluas2nya.

"Tanpa dukungan kegairahan dan kegiatan masyarakat, langkah2 pemerataan pembangunan dan hasil2nya tidak akan terwujud", kata Kepala Negara.

Konsolidasi

Dalam kaitannya dengan keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan Presiden mengharapkan veteran RI membantu membangkitkan semangat rakyat dalam berpartisipasi sesuai dengan program2 yang digariskan Pemerintah.

Sebab sebagai subyek pembangunan maka masyarakat harus sadar bahwa di samping mempunyai hak2 merekapun memikul kewajiban2 sebagai warga negara.

"Dengan demikian masyarakat hendaknya diberi pengertian bahwa keadilan dan kemakmuran masyarakat hanyalah dapat terwujud sebagai hasil dari usaha kita bersama, usaha Pemerintah dan seluruh rakyat".

Demi untuk lebih mengerahkan dan mengarahkan potensi veteran RI di masa datang. Kepala Negara minta agar usaha2 konsolidasi organisasi segera dilakukan. Dengan konsolidasi organisasi dan pengerahan setiap potensi yang ada Kepala Negara yakin veteran akan berhasil melaksanakan tugas2nya ditengah-tengah gegap gempita perjoangan pembangunan bangsa.

Mengakhiri sambutannya Kepala Negara mengingatkan bahwa berhasil tidaknya veteran melaksanakan tugas yang besar akan ditentukan oleh mereka yang diresmikan sebagai pimpinan LVRI.

Susunan Pengurus

Pengurus Pusat Legium Veteran RI untuk periode 1979 – 1982 terdiri dari 22 orang dengan Ketua Umum Letjen A. Tahir Sekjen Mayjen Sudharmono dan Bendaharawan Letjen Pol. Purn. Teuku Aziz. Susunan Dewan Paripurna sendiri terdiri dari 98 orang.

Sebelum Presiden memberikan amanatnya, Letjen A. Tahir melaporkan hasil susunan team formatur, dimana ia duduk sebagai ketua, yang telah disetujui oleh Munas IV dari legium veteran RI.

Susunan pimpinan Pusat LV-RI, Ketua2 Mayjen TNI Gatot Suwahyo, (bid. Idpolkam), Letjen TNI Sugih Arto (bid. Hublu), Marsdya Budiarjo (bid. EKUIN) Sudiro (bid. Sosbud), Mayjen lbnu Hartono (bid. Kesejahteraan), Laksdya TNI R. Sumengkar (bid. Umum). Disamping itu kepala bagian terdiri dari May. Purn. Nurdin Pandji, Brigjen. Iman Sudarwo, Joko Basuki, Letkol Purn. A. Halim, Sayuti Makalam, Mayjen TNI Chairul Basri, Dr. Ahmad Dipolilogo, Marsda Suryono, M. Zen, Brigjen Nawawi Alif dan pembantu2 Umum Letkol CDM dr. Sudarso, Ny. Herlina, Sekjen Mayjen Sudharmono, Wk. Sekjen Harry Sutoyo.

Diantara 98 anggota Dewan Paripuma terdapat nama2 Sri Sultan Hamengku Buwono-IX, Letjen Ali Said SH, Letjen T.B. Simatupang, Jenderal Sumitro, Mayjen Sudjono Humardani, Letjen A. Tahir, Mayjen Purn. Bambang Utoyo, Mayjen Pol Drs. Sabar dan Letkol D.W. Kawengian dll. (DTS)

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber: SINAR HARAPAN (29/01/1979)

Dikutipsesuaitulisandanejaanaslinyadaribuku "Presiden RI Ke II JenderalBesar HM SoehartodalamBerita", BukuV (1979-1980), Jakarta: AntaraPustakaUtama, 2008, hal. 14-17.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.