PRESIDEN SOEHARTO MENGENAI PELABUHAN UDARA CENGKARENG

PRESIDEN SOEHARTO MENGENAI PELABUHAN UDARA CENGKARENG

PENGGUNAAN SISTEM CAKAR AYAM MERUPAKAN KEPUTUSAN POLITIK

Hotel dan Restoran Harus Melayani Wisatawan Lebih Baik

PENGGUNAAN sistem teknologi cakar ayam pada pembangunan Pelabuhan dara Internasional Cengkareng merupakan keputusan politik. Sistem ini merupakan hasil teknologi putra Indonesia sendiri yang sebelumnya banyak diragukan kekuatannya.

Presiden Soeharto mengungkapkan hal itu Senin kemarin ketika bersama Ny. Tien Soeharto meninjau pelaksanaan pembangunan pelabuhan udara itu yang sudah selesai 37 persen.

Presiden Soeharto mengingatkan pentingnya pelabuhan itu guna menampung arus wisatawan asing ke Indonesia.

Mengenai pentingnya dibenahi sektor-sektor yang membantu peningkatan kepariwisataan Indonesia disinggung pula oleh Presiden Soeharto ketika membuka Musyawarah Nasional VIII PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) pada hari yang sama di Istana Negara.

Para wisatawan harus merasa nyaman untuk tinggal di hotel-hotel di tanah air kita.

Keputusan Politik

Presiden Soeharto di depan para pelaksana pembangunan proyek Pelabuhan Udara Intemasional Cengkareng menegaskan, pembangunan pelabuhan udara itu harus tepat pada waktunya.

Karena fungsi pelabuhan ini sangat penting untuk menampung arus wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia yang dapat menambah devisa yang sangat diperlukan untuk pembangunan.

Presiden menegaskan, penggunaan sistem teknologi cakar ayam bagi pembangunan Pelabuhan Udara Internasional Cengkareng merupakan keputusan politik.

Mula-mula memang banyak diragukan tetapi setelah diuji dengan dibangunnya Pelabuhan Udara Juanda di Surabaya, Kemayoran dan Medan yang juga menggunakan sistem cakar ayam itu maka Cengkareng juga dibangun dengan sistem tersebut.

"Ini merupakan suatu keputusan politik. Dengan sistem ini nama baik Indonesia menjadi diketahui umum. Sistem cakar ayam tersebut merupakan hasil teknologi dari putra Indonesia sendiri yang cukup bisa, bersaing dengan sistem teknologi lainnya," kata Presiden.

"Kepik-kepik"

Presiden Soeharto mengingatkan, dalam membangun proyek Pelabuhan Udara Cengkareng agar diperhatikan seteliti mungkin faktor-faktor yang dapat mengganggu kenikmatan suatu pelabuhan udara internasional.

Misalnya, pengaruh "kepik-kepik" (semacam serangga yang suka pada sinar lampu di malam hari) agar diperhatikan. "Sebab jika pelabuhan ini dipakai pada waktu malam, jangan sampai kepik-kepik itu mengganggu penumpang yang ada di terminal," ucap Presiden Soeharto.

Presiden mengharapkan dalam memberikan pelayanan dalam pengoperasian pelabuhan itu dapat diberi kesan yang indah dan menarik bagi pengunjung. Karena pelabuhan udara merupakan pintu gerbang masuk ke negeri ini.

”Kalau kesan pertama jelek, itu akan mempengaruhi kesan bahwa Indonesia seluruhnya jelek," kata Presiden.

Sistem Sedijatmo

Pondasi cakar ayam adalah suatu sistem pondasi yang ditemukan oleh Prof Dr.Ir. R.M. Sedijatmo. Karena itu sistern itu sering pula disebut Sistem Sedijatmo.

Sedijatmo dilahirkan tanggal 24 Oktober 1909 menjalani pendidikan HIS di Solo. Dengan beasiswa dari Mangkunegaran, meneruskan pelajarannya ke MULO di Solo pula, kemudian ke AMS "B" di Yogyakarta, juga dengan beasiswa.

Seterusnya juga dengan beasiswa ia meneruskan pelajarannya ke THS (Sekolah Tinggi Teknik – ITB sekarang) di Bandung. Dia bukan pelajar atau mahasiswa.

Ia dikenal sebagai insinyur yang sangat kreatif dan penuh ide orisinal. Mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari ITB.

Pondasi cakar ayam adalah hasil pemikiran Sedijatmo untuk mengatasi persoalan­persoalan yang ditemui dalam hal membuat bangunan pada tanah-tanah lembek.

Selain sistern cakar ayam, ia juga menemukan sistem pipa pesat beton bertulang, pompa hidrolis untuk keperluan irigasi dan lain-lain.

Menhub

Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dalam laporannya mengatakan, pembangunan proyek Pelabuhan Udara Cengkareng sudah 37 persen selesai.

Pelabuhan yang nanti digunakan untuk penerbangan domestik dan luar negeri itu akan selesai akhir 1984 dan mulai beroperasi April 1985.

"Sebuah jalan baru menuju Pluit kini sedang dibangun sepanjang lebih kurang 14 km dari Cengkareng. Jalan itu selesai Oktober 1983. Fasilitas telepon dengan sistem digital, air minum dari Tangerang dan tenaga listrik dari Muara Karang."

Selain jalan menuju Pluit, juga akan dibangunjalan tol menuju Grogol dan jalur kereta api dari Pelabuhan Udara Cengkareng ke Jakarta. Demikian Menteri Perhubungan.

Menurut Dirjen Perhubungan Udara Sutoyo, pembangunan Pelabuhan Udara Cengkareng yang dimulai 1981 itu akan menelan biaya sekitar Rp 335 milyar yang berasal dari pinjaman Perancis dan APBN.

Pipa beton dengan diameter 1,20 cm dan tinggi dua meter digunakan untuk konstruksi landasan dan landasan parkir bagi pesawat. Pipa-pipa beton itu seluruhnya berjumlah lebih kurang 220.000 buah.

Kekuatan landasan proyek Cengkareng itu adalah tiga kali kekuatan pesawat Jumbo Boeing 747. Panjang landasan pertama 3.050 m dan landasan kedua 3.600 meter. Lebar landasan itu 60 meter.

Pelabuhan Udara Cengkareng itu nantinya berwajah Indonesia dengan dilengkapi taman-taman indah, plaza untuk pertunjukan tari-tarian dan bangunan terminal berbentuk joglo.

"Memang kapasitas terrninalnyamungkin lebih keeil dari Pelabuhan Udara Changi di Singapura. Kalan Changi itu tampak begitu mewah maka Cengkareng lebih kelihatan indah dan menarik," demikian Dirjen Sutoyo.

Pondasi cakar ayam berbentuk suatu slab/plat beton bertulang yang mempunyai pipa-pipa beton di bawahnya yang disusun beraturan.

Tebal slab antara 12 sampai dengan 15 cm sedangkan pipa-pipa bergaris tengah 1,20 m dengan teba15 em. Jarak pipa-pipa ini berkisar antara 2 m sampai 4 m pada sumbunya.

Landasan dengan pondasi eakar ayam ini setelah diuji ternyata sangat kuat dan mampu menerima beban (tekanan) tiga kali berat Boeing 747, kata pimpinan proyek JIA Cengkareng, Ir Karno Barkah.

Lapangan parkirpesawat (apron) intemasional marnpu menarnpung tujuh posisi pesawat Boeing 747 dan tujuh posisi pesawat DC-10/L-1011 dan apron domestik mampu menampung 14 posisi pesawat Air bus A-300 B dan parkir jauh delapan posisi pesawat Fokker-28.

Sedang apron untuk pesawat terbang angkutan barang mampu menampung empat posisi pesawat Boeing 747.

Sedang terminal penumpang yang terdiri dari satu sub unit untuk penumpang internasional dan dua sub unit untuk penumpang domestik mampu menampung sembilan juta penumpang per tahun.

Terminal barang terdiri dari terminal barang muatan dalam negeri dan terminal barang muatan internasional.

Agar Betah

Ketika membuka Munas PHRI, Presiden Soeharto rninta agar dalam membenahi sektor kepariwisataan di Indonesia, dunia perhotelan dan restoran dikelola secara profesional.

Singkatnya, wisatawan harus merasa senang dan betah tinggal di hotel­hotel di tanah air ini. Mereka harus merasa yakin bahwa untuk kenyamanan tadi mereka membayar secara wajar.

Sebaliknya, kalau wisatawan itu merasa dikecewakan, tidak mendapat pelayanan seperti yang mereka harapkan, tapi untuk itu mereka harus membayar berlebih-lebihan maka yang kita peroleh hanyalah keengganan mereka berkunjung untuk kedua kalinya.

Malah mungkin lebih buruk lagi, mereka akan menyebarkan kepada teman­teman mereka agar tidak berkunjung ke Indonesia.

"Apabila ini terjadi maka usaha yang bagaimana pun untuk mendatangkan wisatawan ke mari tidak akan membawa hasil apa-apa. Karena tanpa hotel dan restoran yang dapat memberikan pelayanan yang baik, arus wisatawan akan sulit ditingkatkan”.

Baru Tahap Permulaan

Kepala Negara menandaskan, pariwisata mempunyai potensi besar dalam keseluruhan gerak pembangunan bangsa dan dari sekian banyak mata rantai pengembangan sektor kepariwisataan ini, hotel dan restoran memegang peranan yang penting.

Sejalan dengan ini pula maka dalam alam pembangunan sampai sekarang, pengusaha hotel dan restoran telah tumbuh sesuai dengan perkembangan pembangunan nasional pada umumnya.

Namun, Presiden Soeharto mengingatkan selanjutnya, apa yang telah tercapai itu barulah pada tahap permulaan yang masih harus terus kita kembangkan, kita tingkatkan dan kita perbaiki dalam tahun-tahun yang akan datang.

Untuk itu, di samping usaha oleh setiap hotel dan restoran sendiri, demikian Kepala Negara, peranan Perhimpunan Hotel dan Restoran sangat penting.

Melalui dan dengan adanya perhimpunan seperti itu diharapkan dapat terus­menerus diadakan tukar pikiran dan pengalaman menuju kemajuan bersama bagi pertumbuhan kegiatan perhotelan dan restoran kita. Juga penting sekali dikembangkannya kerja sama yang erat dan saling isi mengisi.

"Dengan jalan itu kita akan dapat maju bersama-sama dalam mengambil bagian dalam pembangunan nasional kita yang dewasa ini dan untuk jangka waktu yang akan datang akan tetap merupakan prioritas nasional kita yang tinggi", ujar Presiden.

Saat yang Tepat

Ketua Umum PHRI B .M. Diah dalam laporannya mengatakan, Munas VIII ini akan diikuti sekitar 350 peserta mewakili perusahaan pemilik hotel, unit-unit hotel baik yang dikelola sendiri maupun oleh jajaran pengelola hotel internasional, pengusaha restoran, catering, serta para anggota luar biasa. yaitu perusahaan-perusahaan yang erat hubungannya dengan industri perhotelan. Munas itu sendiri baru akan dimulai besok di Semarang.

Presiden Soeharto pada pembukaan kemarin menilai Munas ini berlangsung pada saat yang tepat. Selain karena sekarang ini kita sedang bersiap-siap memasuki Repelita IV, juga karena Munas ini diadakan pada saat akan dikeluarkannya kebijaksanaan baru pemerintah di bidang pariwisata dan akan mulai berlaku pada tanggal 1 April.

Kebijaksanaan itu antara lain bebas visa dua bulan bagi wisatawan asing dari sejumlah negara ke Indonesia.

Dalam hubungan ini Presiden mengharapkan agar kalangan dunia perhotelan dan restoran kita menyiapkan diri sebaik-baiknya. "Kebijaksanaan apa pun yang akan kita tempuh tapi jika seluruh jajaran kepariwisataan tidak siap melaksanakannya, maka apa yang ingin kita capai sulit menjadi kenyataan", kata Kepala Negara.

Menyinggung peranan pmiwisata itu sendiri, Presiden Soeharto mengingatkan, penting untuk diperhatiin dan dijaga agar membanjirnya arus wisatawan ke Indonesia akan menggoyahkan nilai-nilai yang kita anggap luhur dan terpeliharanya kebudayaan kita.

Hal ini mempunyai arti yang lebih khusus lagi karena kebudayaan kita erat hubungannya dengan kehidupan kerohanian masyarakat kita. Tidak sepantasnya kita mengorbankan nilai-nilai kerohanian dan kebudayaan itu untuk tujuan-tujuan apa pun.

Sebab hal itu akan mengurangi makna kehidupan kita sendiri yang luhur. Lagi pula keaslian dan ketinggian mutu kebudayaan itulah yang menarik orang dari jauh kemari.

"Rusaknya keaslian dan merosotnya mutu kebudayaan malahan akan membuat wisatawan berpaling dari Indonesia," kata Presiden Soeharto.

Perkembangan PHRI

Menjelaskan mengenai perkembangan PHRI, B.M. Diah mengatakan, sampai 6 Januari 1983 anggota PHRI terdiri dari 465 hotel, 49 perusahaan pemilik hotel, catering dan lembaga-lembaga pendidikan, serta 86 restoran.

Seluruh anggota PHRI berjumlah 600 unit dibandingkan pada tahun 1982 sebanyak 546 unit dengan jumlah kamar 23.813 kamar. Sekarang jumlah kamar 24.635 buah.

Saat ini terdapat empat hotel berbintang lima, 15 berbintang empat, 42 berbintang tiga, 70 berbintang dua, 60 berbintang satu dan selebihnya 236 tanpa bintang.

Jika dihitung semua kamar dari anggota PHRI maka 24.635 kamar itu, dalam keadaan sekarang bernilai 1,172 juta dollar AS, atau Rp 820.400 juta. Angka-angka ini hanya dari anggota PHRI. (RA)

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (01/02/1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 427-432.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.