PRESIDEN SOEHARTO MEMULAI KUNJUNGAN KENEGARAAN DI MESIR

PRESIDEN SOEHARTO MEMULAI KUNJUNGAN KENEGARAAN DI MESIR[1]

 

 

Kairo, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto hari ini (Rabu, 13/5) mulai mengadakan kunjungan kenegaraan di Mesir, setelah sebelumnya mengikuti KTT VIII G-15. Kunjungan kenegaraan tersebut akan berlangsung tanggal13-14 Mei 1998.

Sebelumnya, Presiden mengikuti upacara penutupan KTI VIII G-15 dan semua ketua delegasi hadir dalam konferensi pers mengenai hasil-hasil pertemuan di Kairo yang berlangsung tanggal 11-13 Mei 1998.

Dalam acara kunjungan kenegaraan ini, Presiden Soeharto direncanakan mengadakan pembicaraan empat mata dengan Presiden Mesir, Hosni Mubarak. Pembicaraan direncanakan berlangsung hari Kamis (14/5) pukul 19.00 waktu setempat atau pukul 21.00 WlB Usai pembicaraan akan dilakukan penandatanganan persetujuan tentang penghindaran pajak berganda. Penandatanganan dilakukan Menlu kedua negara, demikian dilaporkan wartawan Pembaruan Mansyur Barns dari Kairo, Rabu/pagi.

Sementara itu, Menlu Ali Alatas dalam keterangannya kepada wartawan di Kairo Selasa ( 12/5) malam mengemukakan, dalam sidang pleno pertama, telah disepakati untuk menerima Sri Langka menjadi anggota Kelompok G-15. Dengan demikian, pada KTT K G-15 di Jamaika tahun depan, Sri Lanka telah ikut serta. Sedangkan permohonan Colombia menjadi anggota masih akan dibicarakan para perwakilan tetap di Jenewa.

Dalam pertemuan, juga telah terja di tukar pikiran mengenai pasar uang Internasional. Namun karena belum selesai, akan dilanjutkan dalam pleno yang berlangsung sebelum penutupan KTT hari ini (13/5). Sedangkan dalam retreat yang berlangsung hari Selasa (12/5) telah dibahas masalah dampak globalisasi terhadap perekonomian dunia dan negara-negara berkembang, perluasan keanggotaan G-15 serta dampak terorisme Internasional.

 

Nuklir India

Menlu Ali Alatas ketika diminta komentarnya mengenai uji coba nuklir oleh India, mengemukakan, uji coba itu cukup menarik perhatian para kepala negara/pemerintah di KTT G-15 Kairo. Indonesia adalah penandatangan traktat non proliferasi tahun 1970 dan akhir-akhir ini Indonesia juga ikut menandatangani traktat yang melarang uji coba dalam bentuk apa pun juga dan ditempat apa pun juga. Apakah itu di laut, di bawah tanah atau di udara.

“Oleh karena kita menandatangani kedua traktat tersebut, tentunya teridentifikasi, bahwa setiap uji coba oleh siapa pun juga, tidak boleh kita benarkan, karena tidak sesuai dengan dasar-dasar politik kita,” kata Alatas. ***

Sumber: SUARA PEMBARUAN (13/05/1998)

_____________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 278-279.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.