PRESIDEN SOEHARTO: MASYARAKAT HRS. JAGA AGAR PEJABAT JUJUR

PRESIDEN SOEHARTO: MASYARAKAT HRS. JAGA AGAR PEJABAT JUJUR [1]

 

Jakarta, Berita Buana

Presiden Soeharto Sabtu malam menegaskan, masyarakatpun harus turut berusaha agar pejabat bersikap jujur dan melaksanakan tugas selurus-lurusnya, jangan malahan menggoda dengan pemberian2 ataupun memenuhi saja permintaan seseorang pejabat yang ada sangkut pautnya dengan jabatannya itu, karena terdorong oleh kemungkinan keuntungan yang akan diperoleh oleh si pengusaha.

“Sungguh, membangun aparatur pemerintahan yang jujur dan bersih juga merupakan tanggungjawab masyarakat,” kata Kepala Negara.

Hal itu dikatakan oleh Presiden Soeharto, Sabtu malam, di Istana Negara ketika memberikan amanatnya pada peringatan Nuzulul Qur’an.

Dikatakan oleh Presiden ; “Tanpa kesadaran dan bantuan masyarakat, maka usaha kita ke arah ini, pasti akan mengalami banyak hambatan”.

Presiden juga mengharapkan agar kita kembangkan sikap2 yang wajar dalam hubungan antara pejabat dan masyarakat yang harus dilayani itu. “Marilah kita jadikan bulan Ramadhan ini untuk membaharui tekad kita mengembangkan kewajaran tadi,” kata Presiden.

Hadiah2 Kepada Pejabat

Menjelang Hari Raya Idul Fitri ini, Kepala Negara mengulangi lagi seruannya, agar para pengusaha untuk tidak memberi hadiah2 kepada pejabat pada Hari Raya Idul Fitri, yang nyata2 melampaui kewajaran silaturakhmi.

“Marilah kita kerahkan kemauan dan usaha kita untuk memerangi keterbelakangan dan ketimpangan, karena terhapusnya keterbelakangan dan ketimpangan itu memang merupakan tujuan pokok pembangunan kita”, kata Kepala Negara.

Presiden mengajak kita semua untuk mempertebal rasa kesadaran beragama dan memperkuat kesungguhan untuk menjalankan ajaran2 agama. Banyak penyakit masyarakat dapat kita berantas dengan senjata ampuh itu. Demikian menurut Kepala Negara.

Hidup Sederhana

Presiden kembali menyerukan agar kita semua mau hidup sederhana. “Bukan saja karena belum waktunya, akan tetapi memang karena tidak seharusnya kita hidup bermewah-mewah”, kata Presiden.

Menurut Kepala Negara, hakekat hidup sederhana adalah keprihatinan dan kewajaran. Agama sama sekali tidak membiarkan kita hidup berlengah-Jengah dan berlebih-lebihan. Ummat Islam berpuasa dalam bulan Ramadhan ini justru untuk mengendalikan diri lahir dan batin, agar kita kembali kepada sikap prihatin dan kewajaran tadi.

Kepada para pejabat pemerintah, Presiden meminta untuk benar2 melaksanakan dan bahkan memberikan tauladan dalam hidup sederhana dan wajar itu.

“Hidup sederhana dan wajar, bersikap jujur dan tekun bekerja merupakan sifat2 utama yang harus dimiliki oleh setiap pejabat negara, yang ingin mengabdi kepada rakyat dan bangsanya yang sedang memeras keringat untuk membangun”, kata Presiden.

Ummat Agama Sendiri

Menyinggung soal pembinaan kehidupan beragama, Presiden menyatakan, hendaknya kita sadari bersama, bahwa tanggung jawab pembinaan kehidupan beragama, tidak dapat semata-mata dipikulkan pada bahu pemerintah. Ummat beragama sendirilah yang pertama-tama dan terutama harus memikul tanggungjawab itu. Pemerintah, menurut Presiden, lebih banyak berperan sebagai kekuatan penunjang, dan memberikan kesempatan agar pelaksanaan ibadah dan amal agama itu dapat berjalan dengan tenang dan tentram.

“Adalah tidak benar dan tidak pada tempatnya apabila pejabat pemerintah mempersukar atau menghalang-halangi kegiatan keagamaan”, kata Presiden. “Hal ini tidak boleh terjadi dalam Negara kita yang berdasarkan Pancasila. Tetapi sebaliknya alat negara memang tidak dapat berdiam diri apabila ada unsur2 yang menyalahgunakan keleluasaan ibadah agama itu dengan melakukan kegiatan2 yang dapat menimbulkan keonaran dalam masyarakat.” Demikian antara lain Presiden Soeharto.

Peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara tersebut, antara lain dihadiri oleh Ny Tien Soeharto, Wakil Presiden, para Menteri Kabinet Pembangunan II, para coprs diplomatik, para pejabat tinggi sipil dan militer, serta undangan penting lainnya. Menteri Agama Mukti Ali juga memberikan kata sambutan. (DTS)

Sumber: BERITA BUANA (19/09/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 189-191.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.