PRESIDEN SOEHARTO KUNJUNGI PEMUKIMAN PENDUDUK DI PEDALAMAN KALTIM

PRESIDEN SOEHARTO KUNJUNGI PEMUKIMAN PENDUDUK DI PEDALAMAN KALTIM [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto, hari Kamis, mengunjungi resettlement (pemukiman) penduduk di Datah Bilang, di daerah pedalaman Kalimantan Timur, yang terletak 200 km sebelah barat daya Samarinda.

Datah Bilang dalam bahasa Dayak berarti Dataran Hijau, terletak di tepi sungai Mahakam, yang merupakan daerah perkampungan baru seluas 40 ha yang didiami oleh 420 kepala keluarga (2133 jiwa).

Mereka adalah dari suku Dayak Kenyah Uma Bakung dan Uma Jalan yang mendiami daerah itu sejak April 1975.

Presiden dan Nyonya Tien Soeharto yang disertai oleh beberapa orang menteri dan pejabat tinggi negara menempuh perjalanan lebih dari satu jam dengan helikopter dari Samarinda, disambut oleh berbagai tarian Dayak.

Kedua suku Dayak yang kini telah menetap, sebelumnya hidup secara berpindah2 dan tiap mendiami satu tempat selalu dengan membakar hutan dan setelah tinggal beberapa lama mencari daerah baru kembali.

Presiden dan rombongan sangat terkesan akan pembinaan tempat pemukiman penduduk itu yang telah mempunyai poliklinik, balai desa, gedung SD 12 kelas, mess petugas pemerintah, rumah camat resetlement, kantor mess pramuka kader resetlement, balai desa, lapangan olahraga, dermaga dan penggilingan padi.

Kinidi daerah itu tengah dibangun Gereja Katolik dan gereja Protestan King Mi. Presiden Soeharto dalam kesempatan itu telah membuka selubung monumen proyek Resetlement, kemudian menanam bibit pohon kelapa, sedangkan Menteri

Pertanian menanam bibit pohon cengkeh.

Dalam pidatonya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Dayak, Presiden Soeharto menginstruksikan kepada Gubernur Kalimantan Timur Wahab Sjahrani agar kepada tiap keluarga penduduk resetlement diberikan 10 bibit pohon kelapa dan 10 bibit pohon cengkeh.

Presiden minta kepada penduduk agar di sawah padi, palawija dan beternak juga menanam tanaman kelapa dan cengkeh.

“Kalau 5-6 tahun lagi saya kembali kemari, tanaman itu sudah menghasilkan”, kata Presiden.

Mengenai penanam tersebut, menurut Presiden, dapat dilakukan oleh kelompok suku yang menggarapnya secara bersama dan hasilnya dibagi2.

Presiden menyatakan, proyek pemukiman penduduk merupakan program pemerintah dalam rangka pembangunan nasional. Proyek ini untuk kepentingan nasional dan rakyat yang berhubungan dengan proyek itu.

Presiden jelaskan akibat2 buruk hidup berpindah2 tempat. Dengan menebang hutan2 mengakibatkan hutan menjadi gundul dan dapat mengakibatkan banjir bila hujan.

Dengan hidup menetap di satu daerah, penghasilan dapat ditingkatkan, pendidikan dapat diadakan dan penjagaan kesehatan dapat dilakukan secara teratur, demikian Presiden Soeharto.

 

Terjadinya Perpindahan

Kedua suku yang hidupnya saling berpindahan itu adalah dari Long Apung, suku Kenyah Uma Jalan dan dari Long Beji suku Kenyah Uma Bakung.

Masyarakat Long Apung meninggalkan kampung sejak tahun 1962 menuju Datah Banyau kemudian pindah ke Lutan Baru kemudian pindah bersama2 masyarakat Ratah Baru menuju Datah Bilang.

Perpindahan ke Datah Bilang terjadi April tahun yang lalu.

Sedangkan masyarakat Long Ban rombongan pertama pindah dari daerah ini tahun 1955 menuju Long Tebuan dengan naik perahu dan berjalan kaki. Berangkat dari Long Tebuan menuju Ratah Baru tahun 1971, kemudian ke Datah Bilang (April 1975).

Rombongan kedua pindah dari Long Ban tahun 1955 menuju Long Matulang, kemudian dengan rombongan pertama bersatu kembali di Ratah Baru tahun 1971.

Biaya untuk lokasi resetlement itu berdasarkan anggaran 1974/75 disediakan Rp.119.815.000.-

Tiba Kembali

Presiden Soeharto tiba kembali di Ibukota hari Kamis menjelang sore hari. Dalam rombongan Presiden Soeharto terdapat Menteri Agama, Menteri Perhubungan, Menteri Pertanian, Menteri Dalam Negeri, Menteri Sekretaris Negara dan duta besar dari negara2 Islam. (DTS)

Sumber: ANTARA (29/07/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 263-264.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.