PRESIDEN SOEHARTO: KEMBANGKAN POLA KEPEMIMPINAN SE-BAIK2NYA

PRESIDEN SOEHARTO:

KEMBANGKAN POLA KEPEMIMPINAN SE-BAIK2NYA [1]

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto hari Senin menginstruksikan agar pola kepemimpinan seperti agar pola kepemimpinan seperti yang diucapkannya dalam pidato kenegaraan tgl. 16 Agustus yang lalu dikembangkan dengan se-baik2nya.

Kepala negara mengemukakan instruksinya itu ketika ia selama dua jam bertemu dengan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, Jenderal TNI Soemitro, kepala Badan Koordinasi Intelejen Nasional Letnan TNI Sutopo Juwono dan Wakil Panglima Kopkamtib Laksamana TNI Sudomo di Bina Graha, Jakarta.

Ketika selesai pertemuan itu dalam keterangannya Jenderal Sumitro mengatakan, bahwa pola2 kepemimpinan itu bukanlah suatu hal yang baru seperti diberitakan pers, karena hal itu sudah diucapkan oleh Presiden dalam pidato kenegaraan itu.

Pengembangan pola kepemimpinan itu, menurut Jenderal Sumitro, antara lain akan dilaksanakan atas dasar komunikasi dua arah.

Lapor

Pada kesempatan itu lenderal Sumitro telah melaporkan kepada presiden dialog2 yang telah ia adakan beberapa waktu yang lalu dengan mahasiswa2 dari berbagai universitas di-berbagai kota diJawa.

Masalah2 yang dikemukakan para mahasiswa itu, demikian Sumitro, adalah masalah sosial yang sudah diketahui oleh pemerintah dan telah pula dipelajari. Pemerintah, kata Sumitro lebih lanjut, “akan menanggapi masalah2 itu dan akan menanganinya pada Pelita Kedua.”

“Tetapi” demikian olehnya diperingatkan, “cara pelaksanaannya sebagai mana juga pembangunan itu sendiri tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu dua atau lima tahun dan kalau tidak selesai maka pelaksanaannya akan diteruskan pada tahap berikutnya.”

Sumitro mengatakan, bahwa yang lebih penting adalah masalah2 sosial itu sudah diketahui dan sudah tercapai suatu pengertian untuk bersama2 menyelesaikan.

“Kita tidak mempertentangkan masalah2 tersebut tetapi akan menyelesaikannya sesuai dengan jiwa Undang-Undang Dasar 1945 dan saya yakin bahwa tak ada seorangpun yang tidak sependapat untuk menyelesaikan setiap persoalan atas dasar UUD 1945,” demikian Sumitro. (DTS)

Sumber: SUARA KARYA (20/11/1973)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 146-148.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.