Presiden Soeharto : KEMBANGKAN KEDEWASAAN DALAM BERNEGARA

Presiden Soeharto :

KEMBANGKAN KEDEWASAAN DALAM BERNEGARA[1]

 

Jakarta, Kompas

Presiden mengajak semua pihak untuk sama-sama mengembangkan kedewasaan dalam menjalani kehidupan bernegara.

“Setiap perbedaan pendapat, perbedaan kepentingan atau perjuangan aspirasi, hendaknya diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencari jalan penyelesaian terbaik.” ujar Kepala Negara dalam sambutan pembukaan Rapat Pimpinan Ikatan Keluarga Besar Laskar Ampera Arief Rachman Hakim eksponen’66 di Istana Negara, Jakarta, hari Selasa (8/10).

Menurut Presiden, pembangunan yang dilaksanakan selama ini telah berhasil meletakkan landasan kukuh bagi tumbuh dan berkembangnya kemampuan bangsa Indonesia. Melalui perubahan-perubahan yang dilakukan secara bertahap dan berencana, kata Presiden, saat ini bangsa Indonesia telah menjadi bangsa yang makin matang dan tumbuh menjadi bagian dari dunia masa depan yang sangat dinamis.

Kepala Negara mengemukakan, saat ini bangsa Indonesia tidak saja dapat bertahan dalam mengatasi berbagai krisis, tetapi juga mampu bergerak maju, walaupun krisis-krisis itu ada. Dengan kata lain, bangsa Indonesia telah mencapai tingkat ketahanan nasional yang cukup tinggi.

“Tanpa mengenal lelah kita telah bekerja keras untuk mewujudkan pemerataan dengan memanfaatkan pertumbuhan ekonomi yang kita bangun di atas stabilitas nasional. Tetapi kita juga menyadari adanya perbedaan yang mencolok dalam kelompok-kelompok masyarakat.” kata Presiden.

Presiden menjelaskan, kesenjangan sosial dan ekonomi yang terdapat dalam masyarakat itu dapat dimanipulasi oleh mereka yang ingin menggoyahkan sendi-sendi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menggerakkan massa dalam mencapai tujuan.

“Mereka memanfaatkan keresahan-keresahan di kalangan pekerja, petani dan kelompok masyarakat miskin di kawasan perkotaan.” papar Kepala Negara.

Pengerahan massa untuk mendesakkan kepentingan, demikian lanjut Presiden, bukan saja bertentangan dengan semangat musyawarah untuk mencapai mufakat, tetapi juga dapat memancing pergolakan luas.

Perbedaan Pendapat

Selanjutnya Kepala Negara mengatakan, kepada para hadirin dari Eksponen’66.

“Saudara-saudara beruntung beroleh kesempatan sejarah untuk ikut membuka jalan bagi zaman pembangunan.”

Presiden mengatakan, menjadi pelaku sejarah tentu membanggakan setiap orang.

“Tetapi kita tidak boleh berhenti hanya dengan kebanggaan mengenai masa lampau itu.” tuturnya.

Menurut Presiden, bangsa Indonesia memerlukan tanggungjawab bersama dari semua pihak untuk membangun masa depan, guna mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Untuk mengembangkan tanggungjawab bersama terhadap masa depan bangsa itu, demikian Presiden, harus diciptakan suasana yang dapat membangkitkan prakarsa dan kreativitas masyarakat.

“Kita perlu menumbuhkan sikap saling percaya terhadap itikad baik kita masing-masing, walaupun di antara kita terdapat perbedaan pendapat.” kata Presiden.

Kepala Negara mengingatkan pula, sejarah perjuangan bangsa Indonesia menunjukkan, tidak sedikit tantangan dan cobaan yang harus dihadapi bangsa Indonesia.

“Bukan sekali atau dua kali bangsa kita terancam oleh perpecahan yang disebabkan oleh unsur-unsur dari luar maupun dari dalam.” kata Presiden.

Namun, lanjut Presiden, berkat persatuan dan kesatuan seluruh rakyat, maka hingga untuk mewujudkan cita-cita kita, yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

“Untuk terus mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa di tengah-tengah kemajemukan, tidak ada pilihan lain bagi bangsa kita kecuali berpegang teguh kepada Pancasila dan UUD 1945.” tegas Kepala Negara.

Kepala Negara mengingatkan pula, berbagai ideologi yang pernah berkembang di Indonesia.

“Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga, bahwa ideologi-ideologi itu bukan saja tidak cocok bagi kita, malahan pernah membawa bangsa kita ke tepi jurang kehancuran. Semua pengalaman buruk itu, hendaknya benar-benar menjadi bahan pelajaran bagi kita bersama.” kata Presiden.

Karena itulah, kata Presiden, sejak awal Orde Baru, bangsa Indonesia bertekad untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Ini merupakan tekad yang tidak goyah sedikit pun untuk kembali kepada jiwa dan semangat Proklamasi.

“Inilah intisari kebulatan tekad nasional kita di awal Orde Baru, yang dalam tahapan-tahapan selanjutnya mendorong kita untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.” Ujar Presiden.

Acara di lstana Negara kemarin dihadiri antara lain Menko Polkam Soesilo Soedarman dan Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung serta sekitar 500 tokoh Angkatan 66 dari seluruh Indonesia, antara lain Cosmas Batubara. Pertemuan Ikatan Keluarga Besar Laskar Ampera Eksponen’66 akan berlangsung 8-10 Oktober 1996.

Sumber : KOMPAS (09/10/1996)

_____________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 149-151.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.