PRESIDEN SOEHARTO : KEMAJEMUKAN AGAMA BUKANLAH KERAWANAN

PRESIDEN SOEHARTO : KEMAJEMUKAN AGAMA BUKANLAH KERAWANAN[1]

 

Dili, Kompas

Presiden Soeharto menekankan, melalui Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dari Pancasila, negara tidak memaksa dan tidak akan memaksakan sesuatu agama untuk dipeluk oleh warga negara. Negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

“Kebebasan beragama merupakan salah satu hak asasi yang paling mendasar, karena langsung berkaitan dengan martabat manusia sebagai pribadi dan makhluk ciptaan Tuhan. Dengan demikian, kemajemukan agama bukan merupakan kerawanan.” kata Presiden Soeharto pada peresmian proyek-proyek pembangunan daerah di Propinsi Timor Timur (Timtim) di halaman kantor Gubernur, Dili, Timtim, Selasa(15/10).

Acara itu dihadiri Uskup Dili Mgr CaRIos Filipe Ximenes Belo SDB, Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Dubes Vatikan Mgr Pietro Sambe, Uskup Lampung A Henrisoesanto SCJ, Uskup Denpasar Vitalis Djebarus SVD, Uskup Manado A Suwatan MSC, dan Uskup Medan yang diwakili pastor Paulinus M Simbolon OFM Cap, serta Dubes Keliling Lopes da Cruz.

Juga hadir, Mensesneg Moerdiono, Mendagri Yogie SM, Menag Tarmizi Taher, Menhut Djamaloedin Soerjohadikoesoemo, dan Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung.

Satu persatu mereka langsung menyalami para uskup yang lebih dulu hadir.

“Selamat atas penganugerahannya.” kata Pangab Feisal Tanjung kepada Uskup Belo yang baru menerima Hadiah Nobel Perdamaian 1996.

Pancasila sebagai Dasar

“Rasa syukur yang dalam kepada Tuhan Yang Maha Esa meliputi perasaan saya, karena hari ini saya dapat berada kembali di tengah-tengah masyarakat Timor Timur. Telah lama saya tidak mengunjungi propinsi ini. Kalau tidak salah ingat, kunjungan saya yang terakhir ke Timor Timur beRIangsung pada tahun 1988, delapan tahun yang lalu.” kata Presiden.

“Rasa syukur saya bercampur dengan perasaan gembira, karena walaupun secara sepintas, saya merasakan dan melihat dari dekat kemajuan-kemajuan besar yang dicapai daerah ini dalam pembangunan.” lanjut Presiden.

Pembangunan yang dilakukan, kata Kepala Negara, tidak hanya untuk meningkatkan kemakmuran lahir atau mengejar kepuasan batin, namun untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin.

“Hakikat pembangunan kita adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan, dan pedomannya.” tutur Presiden.

“Bangsa kita sangat bersyukur mempunyai Pancasila sebagai dasar falsafah negara. Dengan Pancasila sebagai dasar falsafah negara, maka kita menikmati hubungan yang sebaik-baiknya antara negara kebangsaan dengan umat beragama yang menjadi warga negaranya.” kata Kepala Negara.

Ditegaskan, sila Ketuhanan Yang Maha Esa memberi sifat yang khas kepada negara kebangsaan Indonesia. Dengan sila itu, bangsa Indonesia tidak memaksa atau memaksakan suatu agama, menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadat. Indonesia menganggap kebebasan beragama merupakan salah satu hak asasi yang paling mendasar, karena langsung berkaitan dengan martabat manusia. Dengan falsafah itu, kemajemukan agama bagi bangsa Indonesia tidak merupakan kerawanan.

“Kemajemukan agama bahkan dapat merupakan kemajemukan potensi dan kekuatan yang dapat kita daya gunakan untuk mendorong maju pembangunan.”  tegas Presiden.

“Dalam kaitan inilah, saya sangat menghargai prakarsa untuk membangun Patung Kristus Raja di propinsi yang sebagian besar penduduknya beragama Katolik. Saya berharap, dengan dibangunnya Patung Kristus Raja ini keimanan saudara-saudara yang beragama Katolik akan terus terpelihara, bahkan makin bertambah mendalam dan kukuh.” kata Kepala Negara.

Pahlawan Timtim

Selain melaporkan masalah pembangunan yang baru diresmikan, Gubernur Timtim Abilio Jose Osorio Soares mengusulkan tokoh Timtim Dom Boa Ventura, Raja Manufahi, sebagai Pahlawan Nasional.

“Tokoh Dom Boa Ventura dengan gigih berani melawan kesewenang-wenangan Portugis pada sekitar tahun 1912.” kata Abilio.

Untuk itu, lanjut Abilio, rakyat Timtim akan mengabadikan tokoh pejuang tersebut sebagai nama lapangan udara Comoro, Dili, menjadi lapangan udara Dom Boa Ventura.

Abilio juga melaporkan persiapan pemilu tahun 1997. Dikatakan, dari 861.229 jiwa di Timtim, terdaftar sebagai pemilih 455.950. Timtim juga telah mengajukan nama calon anggota DPRD II dan DPRD I, masing-masing OPP pada tanggal 16 September 1996. Kini, lanjutnya, masalah itu sedang ditangani panitia peneliti.

Bapak Integrasi

Tepat pukul 10.00 WITA, Presiden Soeharto tiba di halaman kantor Gubernur Dili, didampingi Menteri PU Radinal Moechtar dan Gubernur Abilio Osorio Soares. Kepala Negara langsung menuju tempat yang sudah disediakan, diiringi alunan musik tradisional yang mengungkapkan salam “selamat datang”. Beberapa saat kemudian, seluruh hadirin berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.

Pada kesempatan itu, Kepala Negara sekaligus didaulat sebagai “Bapak Integrasi Timor Timur”.

“Mengingat betapa besar jasa Bapak di mana 20 tahun yang silam dengan rela menerima kehendak yang sangat dalam, dari seluruh rakyat Timor Timur untuk menyatu dengan saudara-saudara karni di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.” kata GubernurTimtim Abilio Soares.

Sebagai tanda pengukuhan, Presiden menerima seperangkat pakaian adat TimorTimur yang diserahkan oleh Ketua DPRD Tingkat I Timtim Antonio Freitas Parada serta rasa hormat dan terima kasih masyarakat Timtim yang diungkapkan melalui narasi dalam bahasa Tetun, dan dibacakan oleh Eugenio, karyawan Depdikbud.

Usai memberikan amanat, Presiden memukul bebatu, alat musik tradisional semacam gong, dan menandatangani tujuh prasasti sebagai tanda peresmian jalan Mota Ain-Dili-Los Palos, jembatan Nunura, Pires, Aiassa, dan Laclo Selatan, daerah irigasi Loes, Jalan Ibu Tien Soeharto, dan Patung Kristus Raja. Selesai menandatangani, Presiden yang didampingi Menteri PU Radinal Moechtar, Gubernur Timtim Abilio Soares, dan Uskup Belo, lalu dengan erat menyalami Gubernur dan Uskup Belo. Presiden kemudian meninjau visualisasi proyek-proyek yang telah diresmikan didampingi seluruh menteri dan para pejabat setempat. Sesaat kemudian, Kepala Negara bersalaman dengan para Uskup, termasuk Uskup Belo, untuk berpamitan menuju bandara Comoro Dili.

Kepala Negara di antaranya didampingi Uskup Belo, Mensesneg Moerdiono, Pangab Feisal Tanjung, dan Gubernur Abilio Soares, mengelilingi Dili, meninjau Patung Kristus Raja di Fatucauia, Pasir Putih, Dili, dari udara. Sekitar 10 menit kemudian, helikopter Puma TNI-AU yang digunakan, mendarat di bandara Comoro, Dili. Presiden dan rombongan langsung menuju pesawat kepresidenan RI-85.

Sebelum bertolak ke Jakarta, Kepala Negara secara khusus menyalami seluruh staf yang hadir. Tepat di tangga pesawat, sejenak Kepala Negara berhenti. Sakali lagi, Presiden berjabat tangan dengan Uskup Belo. Tepat pukul 12.00 WITA, pesawat RI-85 lepas landas dari bandara Comoro Dili, diiringi lambaian tangan Pangab Feisal Tanjung, Uskup Belo, serta para pejabat tinggi setempat.

Sumber : KOMPAS (16/10/1996)

_______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 633-636.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.