Presiden Soeharto : KEKUATAN INFORMASI PERS HENDAKNYA DIGUNAKAN DENGAN HATI-HATI

Presiden Soeharto :

KEKUATAN INFORMASI PERS HENDAKNYA DIGUNAKAN DENGAN HATI-HATI[1]

 

Jakarta, Business News

Kekuasaan dalam era informasi bukan hanya diterapkan melalui alat-alat kekuatan fisik seperti militer dan persenjataan. Melainkan juga melalui alat kekuatan non fisik yang berintikan informasi. Kekuatan informasi itu cukup besar dan berpengaruh. Presiden Soeharto menyatakan hal itu pada Puncak Peringatan Hari Pers Nasional 1998 di Istana Negara.

Sebagai lembaga yang bergerak di bidang informasi pers Indonesia banyak sedikitnya juga memiliki potensi untuk menerapkan kekuatan non fisik tsb. Karena itu potensi tadi hendaklah digunakan dengan hati-hati dan penuh tanggungjawab, agar tidak sampai disalahgunakan untuk kepentingan perorangan atau kelompok dengan menimbulkan kerugian bagi rakyat banyak. Terutama dewasa ini, ketika masyarakat Indonesia sedang menghadapi keadaan yang sangat sulit sehingga mudah terpancing oleh isu, informasi yang menyesatkan atau analisis yang tidak bertanggungjawab.

Hal ini perlu saya tekankan, karena pers Indonesia masa kini berada dalam keadaan mendua. Pada satu sisi, pers kita tetap merupakan bagian dari perjuangan bangsa, pers yang dibangun berdasarkan Pancasila. Dari sisi ini nilai-nilai dan aturan main yang dipakai semestinya tetap berpegang teguh pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45. Namun pada segi lain, pers Indonesia juga makin jauh masuk ke dalam sistem media massa global yang bersifat komersial. Akibatnya, aturan mainnya makin banyak dipengaruhi oleh aturan main global yang tidak seluruhnya sesuai dengan nilai-nilai moral Pancasila,

Dilema ini perlu mendapat perhatian sungguh dari seluruh insan pers nasional. Khususnya, ketika kita sedang dilanda krisis ekonomi sekarang ini, maka arus informasi yang deras dan bermutu rendah makin banyak beredar dalam masyarakat dan tidak jarang dipicu menjadi lebih deras oleh pers dan media massa nasional. Banyak berita dan isu yang tidak berdasar disebarluaskan ke dalam masyarakat tanpa terlebih dahulu menyelidiki kelayakan dan kebenarannya tanpa memperhitungkan akibatnya. Dengan demikian, disengaja atau tidak, pers nasional sebenarnya telah ikut serta dalam mengembangkan suasana yang tidak menguntungkan bagi usaha perbaikan. Banyak contoh kasus yang terjadi belum lama ini yang menunjukkan bagaimana masyarakat mudah sekali diterpa keresahan sehingga mengabaikan akal sehat karena terpancing oleh informasi media yang tidak proporsional mengenai keadaan ekonomi.

Perilaku seperti itu pada akhirnya merugikan semua orang, termasuk pers sendiri. Masyarakat lama kelamaan akan kehilangan kepercayaan kepada pers yang sering mem buat informasi yang simpang siur. Kejatuhan nilai rupiah yang jauh melebihi kewajaran sebagai akibat dari faktor psikologis, sekarang berbalik membawa dampak negatif pada pers yang mulanya menyulut perkembangan itu. Pers sendiri termasuk yang pertama merasakan akibat langsung krisis ekonomi dengan kenaikan harga kertas yang sangat tinggi.

Presiden mengingatkan kembali mengenai pentingnya penegakan kode etik jurnalistik oleh seluruh jajaran pers. Kode etik adalah rambu-rambu yang dibuat oleh wartawan sendiri guna menegakkan profesionalisme dalam pekerjaan media massa, sehingga tidak usah menunggu diatur atau digugat oleh pihak lain. Kode etik dibuat untuk kepentingan pers sendiri. Ia menjadi tolok ukur atau standar kerja dengan demikian mencegah persaingan yang tidak sehat antara sesama wartawan atau antara media yang satu dengan yang lainnya. Ia merupakan jaminan yang menjaga ketentraman bagi pers apabila melaksanakannya secara teguh.

Menilik banyaknya perubahan yang terjadi belakangan ini, maka Kode Etik Jurnalistik Indonesia mungkin sudah waktunya pula untuk disempurnakan. Khususnya untuk media siaran televisi dan radio yang ternyata banyak berperan dalam merangsang reaksi dan tindakan cepat masyarakat dalam menanggapi informasi tentang krisis ekonomi, perlu dirumuskan kode etik yang lebih sesuai dengan ciri-ciri khas media tersebut.

Sumber : BUSINESS NEWS (11/02/1998)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 810-812.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.