PRESIDEN SOEHARTO: KEADAAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA DAPAT MENDORONG SUASANA PRODUKSI

PRESIDEN SOEHARTO: KEADAAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA DAPAT MENDORONG SUASANA PRODUKSI [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto dalam pidato kenegaraan di depan pembukaan Sidang DPR periode 1973-1974 Kamis pagi menggambarkan keadaan umum perekonomian Indonesia tetap dapat mendorong suasana produksi. Presiden memberikan gambaran itu setelah menunjukkan makin kuatnya pertumbuhan industri selama tahun ke-IV Repelita, sebagai kelanjutan dari pertumbuhan tahun2 sebelumnya.

Menurut Kepala Negara, jumlah produksi industri terus meningkat disertai dengan perbaikan mutu, penambahan ragam produksi baru dan modernisasi hasil produksi. Barang buatan Indonesia yang di ekspor juga bertambah banyak, antara lain crumb rubber, kayu yang digergaji, pesawat2 televisi, radio dan barang2 non-tradisionil.

Kenaikan Produksi

Menggambarkan keadaan produksi, Presiden Soeharto mengatakan sangat menggembirakan bahwa beberapa sasaran kenaikan nilai produksi dalam seluruh Repelita I telah dapat dilampaui pada akhir tahun ke-IV pelaksanaannya. Dikatakan, produksi tekstil pada akhir tahun ke-IV Repelita I telah mencapai 852 juta meter, melampaui target yang ditetapkan untuk tahun itu sebanyak 775 juta meter.

Dalam tahun 1972/1973 produksi industri dasar dan kimia mencapai kemajuan2 pesat. Produksi pipa baja meningkat dengan lebih dari lima kali jumlah produksi tahun sebelumnya. Produksi semen meningkat lebih dari 20%, produksi pupuk urea dengan 13%, produksi kertas dengan sekitar 30% dan produksi ban sepeda dengan sekitar 60%. Peningkatan produksi tercatat pula pada industri lainnya seperti assembling mobil dan sepeda motor, pesawat penerima radio, lampu pijar bahan2 kebutuhan pembangunan, industri ringan dan kerajinan rakyat .

Bidang Pertanian

Presiden mengemukakan, hasil yang paling menonjol dari bidang pertanian kayu hutan. Tahun 1972 produksi kayu hutan tercatat lebih dari 16 juta m2 dengan nilai ekspor sekitar US$ 230 juta. Hasil kayu merupakan penghasil devisa nomor dua setelah minyak bumi.

Mengenai produksi kayu dikatakan, harus diusahakan pengolahan kayu baik untuk ekspor maupun untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Ini dapat menjamin peningkatan penerimaan devisa dan perluasan lapangan kerja. Mengenai bidang perkebunan dikatakan, produksi perkebunan rakyat dan perkebunan swasta menunjukkan kenaikan. Nilai ekspor dari perusahaan2 perkebunan negara terus naik dari tahun ke tahun.

Peternakan Harus Lebih Intensif

Presiden mencanangkan lebih lanjut, agar peningkatan peternakan diwaktu yang akan datang berjalan lebih intensif. Usaha ini, kata Presiden, mempunyai tujuan serba ganda, yaitu memperluas lapangan hidup petani, menambah penghasilannya, memperbanyak dan memperbaiki mutu makanan masyarakat, memperbesar dan memperluas ragam barang2 ekspor serta untuk menggerakkan ekonomi desa.

Produksi daging, susu dan telur naik rata2 5% tiap tabun. Ekspor ternak tiap tabun meningkat, Permintaan akan sapi potong, yang meningkat, menunjukkan bahwa usaha dalam bidang ini terbuka kemungkinan lebar. Hingga sekarang modal dalam negeri yang ditanam dalam usaha petemakan mencapai sekitar Rp 3 milyar, demikian Presiden.

Pertambangan

Di bidang pertambangan, kita juga mendapat kemajuan2, kata Presiden. Produksi berbagai jenis hasil tambang baik, kegiatan eksplorasi meningkat. Sarana untuk mengembangkan proyek pertambangan yang baru dibangun dan hasil2 tambang makin banyak di olah di dalam negeri.

Produksi minyak bumi sampai 16 Agustus 1973 mencatat lebih kurang 1,3 juta barel sehari; baik 21 % dibanding dengan tahun yang lalu. Hampir setengah dari seluruh penerimaan devisa dihasilkan oleh minyak bumi. Penjualan dalam negeri baik dengan 14 %, kemampuan pengilangan minyak bumi naik dengan 12%, sedangkan eksplorasi bertambah dengan penemuan 34 sumber minyak dan 12 sumber gas baru.

Mengenai hasil produksi pertambangan lainnya, dikatakan, produksi timah naik dengan 5%, nikel 14%, perak dengan 13%. Yang mengalami penurunan adalah produksi batu bara dengan 10%, bauksit dengan 4 % dan emas dengan 3%. Tambang tembaga di pegunungan Irian Jaya, yang diresmikan awal 1973, direncanakan dapat menghasilkan konsentrat tembaga sebanyak 250.000 ton setahun.

PMDN Capai Rp 353 Milyar Lebih

Presiden Soeharto berpendapat, kemajuan dalam bidang industri khususnya dan usaha swasta umumnya, tidak dapat dipisahkan dari volume dan jumlah penanaman modal baik asing maupun domestik.

Dikatakan, penanaman modal dalam negeri sejak 1970 tiap tahun melampaui jumlah modal yang direncanakan di bidang modal asing. Selama tahun ke-IV Repelita, penanaman modal dalam negeri mencapai lebih dari Rp.353 milyar dengan 442 buah proyek. Ini naik 85% dibanding dengan tahun sebelumnya. (DTS)

Sumber: ANTARA (17/08/1973)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 228-230.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.