PRESIDEN SOEHARTO: JUTAAN ORANG HIDUP DALAM CENGKERAMAN KECEMASAN

PRESIDEN SOEHARTOJUTAAN ORANG HIDUP DALAM CENGKERAMAN KECEMASAN[1]

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto menyatakan, saat ini ketegangan dan pertentangan antara negara-negara adidaya telah berakhir. Tapi, jutaan manusia masih hidup dalam cengkeraman kecemasan, bahkan keputusasaan, karena merasa kehilangan masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Negara ketika meresmikan pembukaan simposium antar bangsa tentang pembangunan, kebudayaan dan lingkungan di Istana Bogor, Jawa Barat, hari Kamis (21/5). Hadir dalam upacara ini antara lain Direktur Jenderal UNESCO Dr. Federico Mayor dan Mendikbud Fuad Hassan.

Simposium yang dihadiri oleh para pakar kebudayaan dan lingkungan dari berbagai negara ini diadakan untuk pertama kalinya untuk memperingati Hari Pengembangan Kebudayaan Sedunia dalam rangka pelaksanaan dasawarsa pengembangan kebudayaan sedunia (1988-1997) yang dicanangkan PBB tahun 1988 lalu. Dirtjen UNESCO Federico Mayor antara lain mengatakan, semboyan nasional Indonesia adalah Bhinneka  Tunggal  Ika, berbeda-beda  tapi  satu juga, (Unity in diversity), mencerminkan dinamika multikultur dan mengandung pesan untuk didengar semua orang di dunia. “Saya mengharapkan, simposium ini akan membantu mencanangkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut, bukan hanya kepada manusia saja, tapi juga bagi seluruh kehidupan di planet ini, “ujarnya.

Sementara itu Mendikbud Fuad Hassan mengatakan, tanggal 21 Mei telah ditetapkan oleh Sidang Umum UNESCO ke-26 di Paris 1991 lalu sebagai Hari Pengembangan Kebudayaan Sedunia yang oleh negara-negara anggota UNESCO akan diperingati setiap tahun dengan tema yang berlainan. (Tahun ini, katanya, tema yang ditetapkan adalah Kebudayaan dan lingkungan hidup.

Dikatakan pula, simposium itu diselenggarakan untuk mengumpulkan pengalaman dan pandangan tentang kebudayaan dan lingkungan yang selanjutnya akan dibawa sebagai masukan bagi Konferensi Dunia tentang Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro, Brazil tanggal 1sampai 12 Juni 1922 mendatang .

Pergeseran Nilai

Menurut Kepala Negara, dewasa ini bangsa-bangsa di dunia hidup dalam zaman yang ditandai perubahan yang sangat dinamis. Perubahan-perubahan tersebut seringkali sangat  mendasar, sehingga  mengakibatkan pergeseran  nilai-nilai budaya  yang membawa pengaruh pada nilai-nilai kehidupan.

Karena itu, kata Presiden, bersamaan dengan terjadinya berbagai kemajuan dalam usaha memperbaiki mutu kehidupan serta taraf kesejahteraan manusia dan masyarakat, dapat pula disaksikan segala penderitaan dan kesengsaraan yang berkepanjangan.

Situasi yang penuh tantangan itu, kata Presiden, hanya mungkin diatasi secara bersama oleh semua bangsa, dengan dijiwai semangat yang lulus untuk membina sikap saling hormat-menghormati dan saling percaya.

“Kita semua menyadari, manusia adalah sama dan kemanusiaan adalah satu Sebagai satu kesatuan, kita harus dapat berbagai minat dan kepentingan dalam menghuni bumi kita yang satu ini, “kataPresiden. “Merupakan kewajiban bagi kita untuk berusaha memelihara keseimbangan dan keserasian alam sebagai lingkungan yang menghidupi kita,” lanjutnya.

Presiden juga menegaskan larangan bagi setiap orang untuk membiarkan terjadinya kerusakan alam. “Karena kita, mempunyai tanggung jawab untuk mewariskan lingkungan hidup yang sebaik-baiknya bagi anak cucu kita, generasi umat manusia yang akan datang.”

Jati Diri

Kepala Negara juga menekankan pentingnya makna  kebudayaan dalam kehidupan manusia. Dikatakan, kebudayaan adalah sumber nilai-nilai, yang mengukuhkan penghayatan jati diri suatu masyarakat atau bangsa. Tanpa mengacu pada sumber budayanya, suatu masyarakat atau bangsa akan mudah terguncang oleh perubahan nilai yang tetjadi dari waktu ke waktu.”

Dalam kesempatan ini Kepala Negara menyatakan, Indonesia menyambut baik kesempatan Sidang Umum PBB untuk menyatakan berlakunya Dasawarsa Kebudayaan tahun 1988-1997. Selain itu Indonesia juga mendukung tiga tujuan, PBB untuk menyatakan berlakunya Dasawarsa Kebudayaan, yaitu diakuinya matra budayaan dalam pembangunan, dikukuhkan dan diperkayanya jati diri kebudayaan dan diperluasnya keterlibatan dalam kerja sama di bidang kebudayaan ketiga tujuan itu hendaknya menjadi, komitmen kita semua untuk melaksanakannya.

“Ketiganya juga merupakan landasan bagi tumbuhnya sikap saling hormat dalam pergaulan antar bangsa dan antar budaya, “demikian Presiden. (osd)

Sumber: KOMPAS (22/5/1992)

_________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 745-746.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.