PRESIDEN SOEHARTO JANGAN TERPANCING ISYU-ISYU MERESAHKAN

PRESIDEN SOEHARTO JANGAN TERPANCING ISYU-ISYU MERESAHKAN

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menyerukan masyarakat luas jangan terpancing isyu-isyu meresahkan dan jangan terperangkap gerakan subversi sisa-sisa G 30S PKI.

Seman yang disampaikan melalui Menteri Perindustrian Hartarto di Bina Graha Jakarta Selasa itu dilontarkan sehubungan dengan beredamya isyu-isyu tentang banyaknya makanan jadi mengandung lemak babi yang cukup meresahkan masyarakat terutama kaum muslim.

Kepada wartawan, Hartarto menggaris bawahi keterangan pers yang diumumkan hari Senin oleh Departemen Kesehatan bersama Departemen Perindustrian dan Departemen Agama.

Ia menegaskan lagi, shortening yang umumnya dipakai sebagai pencampur makanan kaleng di Indonesia terbuat dari minyak nabati yang bahan bakunya minyak kelapa sawit.

Menteri minta perhatian masyarakat agar lebih memperhatikan label pada kemasan makanan. Apabila makanan itu mengandung babi maka pada label itu dicantumkan tanda gambar hewan tsb. Namun apabila pada label makanan tertulis tanda “halal”maka pemerintah menjamin makanan itu memang benar-benar halal bagi umat lslam.

“Pemerintah memiliki sarana untuk meneliti dan mengawasi semua ketentuan yang ada menyangkut produk makanan yang beredar,” kata Hartarto menegaskan.

Ia juga mengemukakan, Depkes mengawasi secara ketat pemberian ijin kepada produsen makanan sebelum makanan itu diberi label “halal”.

Atas pertanyaan wartawan Menteri menyatakan, jenis-jenis makanan yang disebut sebuah surat kabar ibu kota sebagai diduga kuat mengandung unsur babi, hampir seluruhnya tidak benar.

Hartarto juga membenarkan, dengan beredarnya isyu tentang makanan berlemak babi itu banyak produsen yang dirugikan.

Atas pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan dilakukannya penelitian ulang terhadap produk-produk makanan yang diisyukan mengandung lemak babi, Hartarto menjawab, pemerintah selalu mengadakan penelitian dan ia menegaskan lagi bahwa shortening yang dipakai di dalam negeri terbuat dari minyak sawit.

“Apakah ada latar belakang persaingan dagang?” tanya wartawan. “Semua kemungkinan itu akan kita lihat”, jawab Hartarto.

“Apakah pemerintah akan mengambil tindakan?”, kejar pers. “Kita tenangkan saja

dulu dan yang penting mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap produk­ produk yang telah diberi pengesahan oleh Depkes”, jawab menteri.

Pemerintah dalam keterangannya hari Senin menyebutkan sebuah tim gabungan termasuk unsur Majelis Ulama Indonesia akan turun ke lapangan untuk mengadakan penelitian tentang produk-produk makanan serta pemasangan labelnya.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA (25/10/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 194-195.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.