PRESIDEN SOEHARTO: JANGAN MENYELEWENGKAN ANGGARAN SAMBUT PEJABAT 

PRESIDEN SOEHARTO: JANGAN MENYELEWENGKAN ANGGARAN SAMBUT PEJABAT [1]

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto mengingatkan, agar semua pihak, khususnya pemerintah daerah, tidak mengada-ada dalam menyambut pejabat yang berkunjung ke daerah. Daerah tidak perlu memaksa diri untuk menyambut kunjungan seorang pejabat, hingga menyelewengkan anggaran yang sebenamya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Peringatan Presiden Soeharto itu disampaikan dalam temu wicara menyambut ulang tahun ke-20 Yayasan Dharmais di Sasana Adi Guna, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Selasa (8/8). Acara ini, dihadiri antara lain Ny. Tien Soeharto, Mendikbud Wardiman Djojonegoro, mantan Wapres Sudharmono, Bustanil Arifin, mantan Menkeh Ismail Saleh, dan segenap pengurus Yayasan Dharmais. Penegasan Kepala Negara itu muncul menanggapi pertanyaan seorang peserta, dari Lamongan. “Saya tidak tahu caranya bagaimana agar Ibu Ketua Yayasan Dharmais, Ibu Tien Soeharto bisa hadir di tempat kami. Karena sering kali yang dikunjungi itu daerah kota, sementara saya tinggal di desa,” kata Amir Mukminin, dari Panti Wreda Mental Kasih, Lamongan, Jatim.

“Kalau misalnya, tempat saya di desa dikunjungi pejabat, jalan menjadi lurus, lancar. Berarti bisa dinikmati sekian ribu kepala keluarga, bahkan berjuta-juta jiwa, anak sekolah bisa lancar bersepeda ke kota. Karena itu bukan main manfaatnya jika bapak-bapak pejabat berkunjung ke desa,” tambahnya.

Mendengar pertanyaan itu, sambil tersenyum lebar, Presiden Soeharto mengatakan, daerah untuk dimanfaatkan supayajalannya menjadi liein, sebetulnya kalau itu dasamya ya kurang tepat. Artinya, lantas ingin menyalahgunakan kunjungan tersebut. Sebab, kata Presiden kunjungan pejabat ke pedesaan adalah lebih baik untuk memperhatikan keadaan setempat, sama sekali bukan untuk memperlicin jalan atau keperluan lain.

“Kalau ada kunjungan seorang pejabat, kemudian daerah mengada-adakan, lha itu kurang tepat. Seharusnya apa adanya saja bila ada kunjungan termasuk dari saya atau Bu Harto yang mengunjungi. Jangan sampai lalu mengada-ada, sehingga budget yang seharusnya bukan untuk keperluan itu, karena untuk menyambut kedatangan pejabat, yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat kemudian diselewengkan untuk itu. Tentunya itu juga kurang baik,” kata Kepala Negara.

Hilderia Hutabarat

Suasana dialog menjadi hidup dan riuh saat muncul ucapan terima kasih dari Ny. Hilderia Hutabarat (54), penderita katarak yang telah sembuh karena dana dari Yayasan Dhannais. Dengan suara lantang dan gaya polos serta lugu, ia mengucapkan, “Selamat saya ucapkan kepada Bapak Presiden dan Ibu, dan semuanya yang hadir di sini. Nama saya adalah Hilderia Boru Hutabarat istri Simanjuntak.”

Mendengar penjelasan itu Kepala Negara dan hadirin lain langsung tertawa. “Saya sudah lO tahun menderita katarak. Tetapi untunglah ada orang mengasih tabu bahwa ada Dharmais yang boleh tidak pakai duit, katanya. Jadi saya terus pergi dan saya mengucapkan terima kasih, sebab kalau satu dua juta dioperasi ke rumah sakit, mana ada duit saya, Pak. Untunglah ada Bapak Presiden yang mendirikan Dharmais. Jadi sekarang saya sudah dapat melihat pembangunan dan tanah air,” katanya.

“Berapa tahun ibu tidak bisa melihat?” tanya Kepala Negara. “Ada lima tahun. Dan saya sekarang tidak ada pekerjaan, hanya tinggal di rumah, ngurus cucung­ cucung (mengurus cucu Red),”jelasnya. Sekali lagi Presiden tertawa lebar mendengar penjelasan tersebut. Tawa Kepala Negara semakin Iebar saat mendengar penjelasan, “Saya adalah janda sudah 15 tahun. Terima kasih Bapak Presiden dan Ibu.”

“Bapak Presiden dan Ibu mengucapkan selamat dan horas!” kata Kepala Negara spontan sambil tertawa lebar, dan menambahkan bahwa ucapan terima kasih tersebut seharusnya dialamatkan kepada para dokter, bukan Yayasan Dharmais. Usai berdialog dengan sekitar tujuh peserta, Presiden dan Ny. Tien memotong tumpeng. Presiden menyerahkan potongan tumpeng kepada Sr. Getruda Jamlean PBHK, pimpinan Panti Asuhan Rinamakana, Ambon. Sedang Ny. Tien menyerahkan potongan tumpeng kepada Asep Sayiful Muklisin anak panti asuhan Mukhlis yang juga juara Kaligrafi se kabupaten Bogor. Acara ditutup dengan santap bersama.

Sumber: KOMPAS (I0/08/1995)

____________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 250-251.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.