PRESIDEN SOEHARTO: JADILAH PERWIRA YANG DICINTAI RAKYAT, KARENA KALIAN MEMANG MENCINTAI RAKYAT

PRESIDEN SOEHARTO: JADILAH PERWIRA YANG DICINTAI RAKYAT, KARENA KALIAN MEMANG MENCINTAI RAKYAT

Dalam cuaca amat cerah, di tengah suasana meriah, Selasa pagi, 11 Maret, Presiden Soeharto melantik 236 perwira remaja ABRI. Mereka terdiri dari 101 perwira TNI-AD, 37 TNI-AL, 40 TNI-AU dan 58 perwira Polri.

Upacara yang dipusatkan di tanah lapang Dhirgantara, kompleks AKABRI bagian Udara berjalan dengan lancar, dihadiri Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Jusuf para teras Hankam, undangan dan ribuan keluarga para perwira baru.

Selesai menyematkan tanda pangkat baru, empat orang perwira yang mewakili ketiga angkatan dan Polri, menerima piagam Adhi Makayasa karena prestasi terbaiknya selama di AKABRI. Masing-masing adalah Letda CIN Muktijanto, Letda Laut (E) Sudirman, Letda (LEK) Damia Kartawiria dan Letda Pol Tjiptono. Setelah itu, Kepala Negara langsung mengambil sumpah ke 236 perwira baru ABRI tersebut.

Bangga

Setelah mendapat pendidikan bertahun-tahun, digembleng badannya dan diasah pikirannya, dibekali keterampilan dan dimatangkan kepribadiannya, para perwira remaja telah dianggap pantas menjadi perwira ABRI.

Menurut Presiden, para keluarga perwira remaja merasa bangga karena mereka akan menjadi lambang dari salah satu kehormatan keluarga.

"Seluruh bangsa juga merasa bangga, karena kita memiliki perwira-perwira remaja baru, yang kelak akan memimpin Angkatan Bersenjata kita dalam menjaga kehormatan bangsa, menegakkan kedaulatan negara dan melindungi rakyat," ujar Presiden Soeharto.

"Bagi ABRI, pelantikan ini akan membawa kesegaran baru dalam tubuhnya. Karena ABRI merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Setiap pelantikan perwira remaja dalam tahun-tahun terakhir ini dan dalam tahun-tahun yang akan datang, bertambah penting artinya bagi kita. Sebab kehadirannya merupakan hasil dan bagian gerak pembangunan, khususnya pembangunan ABRI," kata Presiden.

Kepada para perwira yang hari itu dilantik, Presiden berpesan agar mereka memiliki rasa percaya pada diri sendiri, rasa harga diri dan kebanggaan nasional.

”Saya minta para perwira remaja mencamkan baik-baikhal itu. Pendahulu-pendahulu kalian, pembangunan TNI dan Polri, sangat bangga akan pelaksanaan tugas sejarahnya dalam melahirkan Kemerdekaan Nasional. Mereka bangga karena memperoleh kesempatan mengabdi dan memberikan kehormatan yang tertinggi kepada bangsanya, ialah Kemerdekaan Nasional tadi."

ABRI Modern

Menurut Presiden, Kemerdekaan Nasional bukanlah akhir cita-cita. Dengan kemerdekaan, bangsa Indonesia ingin mencapai kehidupan lahir batin yang lebih baik, ingin merasakan kemajuan dan kesejahteraan bersama yang berkeadilan sosial. Kita ingin hidup bersama menjadi bangsa yang kokoh kuat dan terhormat dalam pergaulan bangsa di dunia. Untuk itu, kita harus memiliki Angkatan Bersenjata yang kuat dengan persenjataan modern.

"Bukan karena kita berambisi dan haus perang, tetapi justru karena kita adalah bangsa yang cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan, maka kita harus selalu berjaga-jaga, selalu waspada dan siap siaga mempertahankan dan melindungi wilayah dan Tanah Air serta Rakyat Indonesia," ujar Presiden menegaskan.

Meskipun peralatannya modern, Presiden juga mengingatkan bahwa yang paling menentukan adalah semangat dan kepribadian pemegang senjata itu sendiri.

"ABRI dahulu lahir tanpa senjata. Ia lahir dengan semangat, ABRI dahulu tidak diresmikan dalam upacara kebesaran. Ia lahir dalam kebesaran cita-cita dan kebesaran tindakan !" kata Kepala Negara.

Prajurit Pejoang

Setelah panjang Iebar menguraikan bahwa semangat ABRI adalah semangat 45, dan semangat 45 adalah semangat rakyat Indonesia yang berjoang, Presiden memberikan pesan agar para perwira remaja tersebut pertama-tama adalah pejoang dan baru sesudah itu mereka adalah prajurit profesional. Sebab pendidikan di Akabri dilandasi azas

"Dwiwarna Purwa Cendekia Wasana". Artinya, calon-calon perwira pertama-tama digembleng agar menjadi patriot pejoang dan di atas landasan itu barulah dikembangkan inteligensinya.

"Sebagai prajurit perjoang dan sebagai prajurit, ingatlah selalu kepada rakyat. Satukan hati kalian dengan hari rakyat. Ingatlah bahwa ABRI dilahirkan oleh rakyat, dibesarkan oleh rakyat dan berjoang untuk rakyat itu !"

Kepada semua perwira remaja yang baru saja dilantik, Kepala Negara menegaskan agar mereka menjaga kehormatan dan tradisi ABRI.

"Jadilah perwira­perwira yang dicintai rakyat karena kalian memang mencintai rakyat. Di manapun kalian bertugas, tunjukkan bahwa kalian adalah pelindung dan pengayom rakyat. Sehingga dengan melihat kalian saja, rakyat sudah tenteram hatinya," kata Presiden. (DTS)

Yogyakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (12/03/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 835-836.

Riani Architta

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.