PRESIDEN SOEHARTO : ITU, SAYA NAMAKAN KONSEP IMF PLUS

PRESIDEN SOEHARTO : ITU, SAYA NAMAKAN KONSEP IMF PLUS[1]

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto menegaskan tidak akan ragu sedikit pun melakukan apa saja untuk mengatasi keadaan, guna meringankan beban kehidupan rakyat yang bertambah berat. Namun ia juga menyatakan bahwa langkah apa pun yang akan diambil pemerintah tetap memerlukan dukungan Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan mempunyai reputasi tinggi.

“Saya meminta IMF dan para kepala pemerintahan lainnya kiranya dapat membantu kita menemukan alternatif yang lebih tepat. Saya namakan konsep yang lebih tepat itu konsep IMF Plus. Saya sendiri sedang menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian kemungkinan menerapkan Sistem Dewan Mata Uang.” tutur Presiden dalam pidato pertanggungjawab pada Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (SU MPR) di Jakarta, Minggu (1/3).

Sidang yang dipimpin Ketua MPR Harmoko itu selain disiarkan langsung RRI dan seluruh jaringan televisi dalam negeri juga disiarkan langsung jaringan televisi internasional CNN. Dalam pidatonya Presiden lebih memusatkan perhatian pada keadaan yang diakibatkan krisis moneter serta upaya-upaya yang telah dan akan dilakukan pemerintah untuk mengatasinya.

Presiden menjelaskan, untuk mengatasi gejolak moneter dan keuangan itu pemerintah telah meminta bantuan dari IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan sejumlah negara sahabat lainnya. Presiden bahkan menyatakan telah mulai melaksanakan dan akan terus melaksanakan program reformasi dan restrukturisasi ekonomi, dan keuangan yang mendapat dukungan IMF. Tetapi, tanda-tanda perbaikan belum tampak.

Kunci utamanya, menurut Kepala Negara, adalah stabilisasi nilai tukar rupiah pada tingkat yang wajar. Selama ini belum tercapai, tidak dapat melihat perbaikan keadaan dalam waktu dekat ini.

Di Pundak Sendiri

Menurut Presiden Soeharto, tahun 1997 merupakan tahun keprihatinan bagi Indonesia. Kecelakaan di darat, di laut dan di udara datang silih berganti. Urat nadi perekonomian mulai terganggu. Indonesia juga dilanda musim kering yang panjang.

“Tapi kita mendapat cobaan yang jauh lebih berat lagi. Seperti tiba-tiba, sejak pertengahan tahun lalu gelombang gejolak moneter datang menghantam.” tutur Presiden.

Jika tidak benar cara menanganinya, kata Presiden, krisis ini dapat berkembang menjadi krisis berskala global. Langkah-langkah regional dan internasional memang telah dilakukan. Tapi, pada akhirnya pemecahannya terletak di tangan masing-masing negara.

“Tekad kita bulat untuk mengatasi masalah yang kita hadapi ini. Kita akan berjuang habis-habisan untuk melepaskan diri dari krisis ini.” ujarnya, sambil menyatakan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada lembaga-lembaga internasional dan negara-negara sahabat yang telah memberikan bantuan.

Namun, menurut Kepala Negara, di pundak sendirilah terletak beban tanggung jawabnya. Langkah-langkah kita sendirilah yang menentukan keberhasilan atau kita mengatasi krisis ini. Kita sadar, langkah-langkah itu pasti berat. Mungkin sangat berat dan menyakitkan.

Sumber : KOMPAS (02/03/1998)

_____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 714-715.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.