PRESIDEN SOEHARTO: INDUSTRI YANG HASILKAN NILAI TAMBAH PERLU DIKEMBANGKAN

PRESIDEN SOEHARTO: INDUSTRI YANG HASILKAN NILAI TAMBAH PERLU DIKEMBANGKAN

 

 

Medan, Kompas

Presiden Soeharto menegaskan, industri yang menghasilkan nilai tambah seperti industri yang mengolah lebih lanjut minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO), perlu terus didorong pengembangannya. lndustri demikian tidak saja di bidang kelapa sawit, tapi juga di bidang-bidang lainnya.

Hal itu diutarakan Kepala Negara ketika meresmikan 21 pabrik pengolah CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil), 33 pabrik berbagai jenis industri, dan sebuah kawasan industri Medan, di Belawan, Sumatera Utara, hari Sabtu (13/10).

Pabrik yang diresmikan tersebar di tujuh propinsi, meliputi Sumut (40, termasuk sebuah kawasan industri), DKl Jakarta 4, Jabar 4, Jateng, Jatim, dan Sumsel masing-masing dua, serta sebuah pabrik di Lampung. Peresmian yang dihadiri antara lain Menko Ekuin/Wasbang Radius Prawiro, Panglima ABRI Jenderal TNI Try Sutrisno, Mensesneg Moerdiono, Menperin Hartarto itu dipusatkan di PT Aribhawana Utama, pabrik dari grup Sudono Salim yang menghasilkan fatty alcohol berbahan baku PKO.

 

Mengatasi Ketidakpastian

Menurut Presiden Soeharto, perkembangan industri sekarang ini mulai mampu mengatasi ketidakpastian harga sebagian dari komoditi di pasaran dunia. Caranya adalah dengan mengolah komoditi tersebut menjadi barang-barang lain yang harganya lebih stabil.

Pembangunan industri yang mengolah lebih lanjut CPO dan PKO menjadi barang-barang kimia dan sabun, misalnya, merupakan salah satu upaya untuk mengatasi ketidakpastian harga CPO dan PKO di pasaran dunia.

“Dengan bertambahnya kemampuan kita untuk mengolah lebih lanjut minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit menjadi barang ekspor yang lebih stabil harganya, maka perkebunan-perkebunan kelapa sawit kita tidak lagi terlalu dipengaruhi oleh ketidakpastian harga produknya di pasaran internasional. Selain itu, nilai tambah yang kita peroleh juga bertambah besar. Karena itu industri semacam ini perlu terus kita dorong pengembangannya,” kata Presiden Soeharto.

Dalam pada itu, lanjut Kepala Negara, untuk terus meningkatkan ekspor nonmigas perlu dibangun prasarana dan sarana yang menunjang industri yang berorientasi ekspor. Kawasan industri merupakan salah satu fasilitas yang banyak memberikan kemudahan bagi para pengusaha yang bergerak dalam industri yang berorientasi ekspor. “Karena itu kawasan industri perlu kita kembangkan,” tambahnya.

Di bagian lain sambutannya, Presiden menilai, dengan diresmikannya pabrik-pabrik ini, maka selain industri berskala menengah dan kecil. Sumut juga mempunyai industri berskala besar. “Perkembangan industri yang pesat di Sumatera Utara ini diharapkan akan mendorong berkembangnya sektor-sektor ekonomi lain yang pada gilirannya dapat meningkatkan perkembangan daerah ini,” demikian Presiden Soeharto.

 

Berprospek Cerah

Menperin Hartarto dalam laporannya menilai perkembangan industri CPO dan PKO cukup pesat, karena itu akan terus dikembangkan. Sementara Presdir Aribhawana Utama Yohannes Kotjo optimis, dengan beroperasinya pabrik-pabrik yang berorientasi ekspor, didukung kawasan industri yang menyediakan prasarana dan sarana sangat memadai, maka tidak hanya nilai ekspor nonmigas yang dapat ditingkatkan, tapi juga lapangan kerja baru dan manfaat lain.

Pabrik fatty alcohol alamiah (bahan baku perantara dalam pembuatan beberapa barang kebutuhan sehari-hari, antara lain sabun mandi, sabun·cuci, kosmetik, shampoo dan tapal gigi) itu merupakan yang pertama di Indonesia. Kapasitas PT Aribhawana Utama dalam menghasilkan bahan baku yang berprospek cerah ini 30.000 ton per tahun ditambah glyserin 4.800 per tahun.

Dengan mengantisipasi kebutuhan dunia akan fatty alcohol, Salim Grup membuat pabriknya yang kedua di Pulau Batam, berkapasitas dua kali lipat, 60.000 ton per tahun. Kontrak pembangunannya senilai 250 juta dollar AS, yang melibatkan perusahaan Lurgi dari Jerman Barat ditandatangani, Jumat malam di Medan, oleh Yohannes Kotjo dan Dr. Mathes, masing-masing mewakili PT Batamas Mega dan Lurgi.

Dibandingkan fatty acid yang dihasilkan dalam pengolahan CPO, fatty alcohol ini mempunyai nilai tambah sangat tinggi, sementara fatty acid hanya berharga sekitar 500-600 dollar per ton, sementara fatty alcohol 1.000-1.200 dollar per ton.

Dengan dikembangkannya industri fatty alcohol, berbagai keuntungan dapat diperoleh, yakni selain devisa sekitar 60 juta dollar AS per tahun, perkebunan kelapa sawit juga akan mendapatkan pasaran lebih baik. Bahan baku utama dari fatty alcohol adalah, PKO yang merupakan hasil ekstraksi dari inti buah sawit yang diproduksi perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Luas perkebunan kelapa sawit tahun 1989 diperkirakan mencapai 980.693 ha, sekitar separuhnya belum menghasilkan. Produksi minyak sawit tahun lalu sekitar 1,9 juta ton, dan inti sawit 403.000 ton.

Pada saat ini PKO umumnya diekspor dalam bentuk mentah (crude) yang nilai tambahnya kecil. Selain Indonesia, Filipina dan Malaysia juga menghasilkan fatty alcohol, masing-masing sekitar. 60.000 ton dan 100.000 ton. Dengan selesainya pembangunan pabrik fatty alcohol di P. Batam tiga tahun mendatang, Indonesia akan memegang andil 10 persen dari kebutuhan dunia.

 

 

Sumber : KOMPAS (14/10/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 315-318.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.