Presiden Soeharto Ikut Mendamaikan Konflik Israel dengan Palestina

Presiden Soeharto Ikut Mendamaikan Konflik Israel dengan Palestina[1]

 

Noor Johan Nuh

 

Meminta Bertemu Presiden Soeharto

Dalam majalah.tempo.co berjudul “Empat Yang Mengundang Tanya” ditulis tentang kunjungan Perdana Menteri Yitzhak Rabin ke Jakarta pada tahun 1993. Bagaimana proses hingga Yitzhak Rabin bisa datang ke Jakarta diceritakan oleh mantan Ketua Badan Koordinasi Intelijen Indonesia (BAKIN) Letnan Jenderal Sudibyo.

Pada satu hari di bulan September, seorang warga negara Eropa (tidak disebut negaranya) menemui ketua BAKIN di kantor. Tamu itu menyampaikan pesan bahwa Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan rombongan sedang berada di Beijing, China. Dalam penerbangan kembali ke Israel—disebutkan tanggal dan jam-nya—pesawat yang membawa Rabin dan rombongan berada di wilayah udara dekat dengan Jakarta. Jika diijinkan Rabin bertemu dengan Presiden Soeharto, pesawat bisa mendarat di Jakarta sekitar pukul 14.00, setelah bertemu Presiden, pukul 16.00 pesawat sudah meninggalkan Jakarta.

Jenderal Sudibyo yang adalah kepala intelijen di Indonesia, melalui jaringannya, mengindentifikasi tamu itu. Melalui imigrasi dan berbagai jaringan, hingga diketahui indentitas tamu itu dengan tepat.

Selanjutnya hal itu dibahas bersama Wakil Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI Letnan Jenderal Ary Sudewo. Dari pembahasan itu disimpulkan bahwa data dan pesan yang disampaikan tamu tersebut bisa dipercaya.

Pertanyaan selanjutnya apakah informasi ini perlu dilaporkan kepada Presiden Soeharto atau tidak. Mereka berdua sadar betul tentang status Israel dalam kebijaksanaan dilplomatik Indonesia. Namun sepakat bahwa Badan Intelijen tidak boleh membekukan informasi penting kepada pimpinan apa lagi mempunyai nilai mendekati “dapat dipercaya.” Juga disepakati BAKIN belum perlu melaporkan kepada Menko Polkam dan Departemen Luar Negeri karena informasi ini masih perlu diperlakukan sebagai informasi dengan klasifikasi “sangat rahasia.”

Yitzhak Rabin ke Jakarta

Disepakati pendapat intelijen tentang informasi tersebut, namun menyarankan  kepada Presiden Soeharto bahwa permintaan tersebut tidak perlu disetujui karena apa bila disetujui umat Islam Indonesia pasti akan sangat marah.

Kemudian kedua pimpinan intelijen itu menghadap Presiden Soeharto, melaporkan tentang tamu yang datang ke BAKIN dan pesan yang terkandung di dalamnya, serta pendapat dan saran yang telah disimpulkan oleh mereka berdua.

Di luar dugaan, Presiden Soeharto ternyata memberikan perhatian dan memerintahkan Kepala BAKIN untuk melakukan cross check atau rechecking informasi tersebut, dan melaporkan kembali.

Tamu yang menginap disalah satu hotel di Jakarta, diundang ke kantor BAKIN. Dilakukan rechecking atas pesan yang disampaikan sebelumnya, dan ternyata bertambah yakin atas pesan tersebut.

Hasil rechecking dilaporkan kepada Presiden Soeharto, dan Presiden secara tak terduga mengatakan bersedia bertemu dengan Perdana Menteri Yitzhak Rabin. Rabin boleh datang ke Jakarta untuk bertemu dengannya. Dengan syarat tidak bicara mengenai masalah bilateral tetapi masalah konflik Israel dengan Palestina.

Selanjutnya Presiden Soeharto meminta agar kepada masyarakat perlu dijelaskan bahwa pertemuan itu dalam rangka melaksanakan tugas internasional yaitu Presiden sebagai Ketua Gerakan Non Blok (GNB), berusaha mewujudkan perdamaian di Palestina.

Dan Presiden Soeharto memberi petunjuk skenario penyambutan kedatangan Rabin di pangkalan udara Halim Perdanakusuma.  Setelah pesawat mendarat, rombongan yang ada di pesawat dibawa ke VIP Room Halim Perdanakusuma untuk beristirahat dan disuguhi panganan yang diantar dari rumah tangga istana, sedangkan Rabin bersama seorang pedamping dijemput di tangga pesawat dengan mobil khusus dan langsung dibawa ke jalan Cendana, bertemu dengan Presiden yang didampingi seorang penterjemah dari Sekretariat Negara, dan tanpa acara resmi apapun.

Dikira Tamu Dari RRC

Persetujuan dan petunjuk Presiden Soeharto disampaikan  kepada tamu yang membawa pesan khusus itu. Dalam hitungan jam tanggapan balik sudah diterima, disertai ucapan terimakasih. Dan jawaban itu dilaporkan kepada Presiden, maka confirm rencana kedatangan Perdana Menteri Yitzhak Rabin.

Untuk melaksanakan,  Kepala BAKIN hanya melibatkan Asisten I Intelijen Kodam Jaya Kolonel Arie Kumaat, berkoordinasi dengan Komandan Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, dan tidak memberitahukan  siapa yang bakal datang.

Dalam melaksanakan tugas yang sangat rahasia, profesionalisme Kolonel Arie Kumaat di uji, meskipun ia mengaku bahwa perkiraannya semula yang akan datang adalah tamu dari RRC, yang pada waktu itu hubungan diplomatik dengan Indonesia sedang dibekukan. Arie Kumaat pada periode Presiden Gus Dur diangkat menjadi Kepala BAKIN dengan pangkat Letnan Jenderal.

Pada hari yang disepakati, pesawat yang ditumpangi Yitzhak Rabin mendarat di Halim tepat pukul 14.00, kurang beberapa menit dari pukul 16.00, pesawat itu sudah terbang ke Singapura. Kurang dari dua jam Yitzhak Rabin berada di Jakarta. Semua berjalan lancar sesuai dengan petunjuk teknis yang diberikan oleh Presiden Soeharto.

Dalam pertemuan itu sama sekali tidak membicarakan masalah yang bersifat bilateral. Presiden Soeharto hanya menyampaikan kepada Perdana Menteri Yitzhak Rabin pesan-pesan dari negara-negara  yang tergabung dalam GNB, yakni meminta kepada pemerintah Israel untuk segera menghentikan konflik dengan Palestina, mengakui hak bangsa Palestina dengan memberikan hak mendirikan negara Palestina.

Ditambahkan oleh Presiden Soeharto bahwa negara-negara GNB berpendapat, konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Palestina akan memancing kedua super power (Amerika dan Rusia) ikut terlibat dalam konflik di kawasan tersebut yang akan membuat pertikaian bertambah besar.

Saling Hunus Laras Senjata

Jika sebelumnya pertemuan Presiden Soeharto dengan Perdana Menteri Yitzhak Rabin terkesan tertutup, pada pertemuan kedua di New York sangat terbuka karena disaksikan oleh seluruh pimpinan negara yang hadir di sidang umum PBB.

Di lobi Hotel Waldorf Tower, New York, Amerika Serikat, tanggal 22 Oktober 1995, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dikelilingi empat pengawal berjalan menuju lift, hendak ke lantai 41, ke kamar presidential suite, tempat Presiden Soeharto menginap.

Dapat dipastikan yang mengawal Perdana Menteri Yitzhak Rabin adalah prajurit-prajurit Mossad yang terbaik, karena sejak perang enam hari pada bulan Juni 1967 di mana Israel bertempur melawan Mesir, Jordania, dan Suriah, keselamatan warga negara Israel kerap kali terancam pembunuhan, apa lagi keselamatan seorang perdana menteri.

Di lobi hotel rombongan itu disambut oleh Kawal Pribadi Presiden Soeharto yaitu Kolonel Syafri Samsudin bersama dua prajurit dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), mereka memperkenalkan diri sebagai protokol Perutusan Tetap Republik Indonesia di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), artinya mereka adalah personal resmi pengamanan Presiden Soeharto. Presiden Soeharto pada waktu itu adalah Ketua Organisasi Kerjasama Islam (OKI), hadir di New York untuk mengikuti Sidang Umum PBB.

Beriringan mereka berjalan menuju lift. Pada saat hendak memasuki lift yang dapat memuat 12 orang itu, pengawal Perdana Menteri Yitzhak Rabin menghalangi Kolonel Syafrie dan dua orang Paspampres untuk ikut masuk ke dalam lift.  Safrie dan dua orang Paspampres diminta menggunakan lift yang lain hingga terjadi adu mulut antara pengawal Rabin dengan Safrie.

Terjadi saling dorong karena Syafrie tetap kekeh hendak masuk ke dalam lift sesuai dengan protokol pengamanan Presiden Indonesia,  sedangkan pengawal Rabin, yang tentunya juga memiliki protokol pengamanan  Perdana Menteri Israel, tetap berkeras  tidak memperbolehkan Safrie dan dua Paspampres ikut masuk ke dalam lift.

Dengan gerakan sangat cepat, pengawal Rabin menghunuskan laras senapan otomatis Uzi dari balik jasnya dan menempelkan moncong laras senapan mungil paling canggih di dunia buatan Israel itu ke perut Sfafrie. Namun hampir berbarengan, Syafrie yang adalah prajurit Komando Pasukan Khusus, sudah menempelkan laras pistol Barreta-nya ke perut pengawal itu. Apa jadinya jika dua orang itu saling tembak?

Insiden di depan pintu lift itu membuat Rabin cemas  lantaran dua prajurit Paspampres dan tiga pengawal Ritzak Rabin juga sudah bersiap dengan senjata mereka masing-masing. Akhirnya salah seorang pengawal Rabin berkata; “Sorry I understand it”, mengakui kesalahan dan arogansinya. Masing-masing secara bersama-sama memasukkan kembali senjatanya dan Safrie bersama dua orang Paspampres diperkenankan masuk ke dalam lift, ikut bersama rombongan Rabin naik ke lantai 41.

Sesampai di lantai 41, Rabin masih harus menunggu sekitar 15 menit di dalam satu ruang yang terpisah dengan ruang Presiden Soeharto menerima Presiden Sri Langka. Pertemuan dadakan tidak terjadwal antara dua kepala negara ini, tidak terlepas dari usaha Presiden Soeharto ikut serta mengusahakan perdamaian antara Israel dengan Palestina.

Pengawalan terhadap Perdana Menteri Yitshak Rabin agak luar biasa. Tidak kurang dari 25 anggota Mossad berkeliaran di lobi sekitar satu jam menjelang kedatangan Rabin. Tanpa melakukan Gerakan mencolok, mereka dalam waktu singkat berhasil ‘membersihkan’ daerah sekitar lift. Demikian ditulis di buku terbitan KOMPAS berjudul “Warisan (daripada) Soeharto.”

Yitzhak Rabin Ditembak

Belum genap dua minggu setelah pertemuan Perdana Menteri Yitzhak Rabin dengan Presiden Soeharto di New York, 4 November 1995, awan kelabu melingkupi Israel, Yitzhak Rabin tewas ditembak. Seorang pemuda bernama Yigal Amir menembakkan tiga peluru ke dada dan perut Rabin dalam jarak dekat. Yahudi radikal ini tidak pernah menyesali perbuatannya. Dia tidak terima Rabin hendak berdamai dengan Palestina.

Yasser Arafat menyampaikan duka mendalam atas nama bangsa Palestina terkait wafatnya Rabin.

“Saya harap—Israel dan Palestina—punya kemampuan untuk melupakan kejadian ini dan melanjutkan proses perdamaian di seluruh Timur Tengah,” ucap Yasser seperti dikutip BBC History.

Tewasnya Rabin yang sedang berusaha dengan berbagai cara agar terwujud perdamaian antara Irael dan Palestina, mengingatkan pada Anwar Sadat yang juga mati terbunuh pada waktu  sedang berusaha mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.

Anwar Sadat yang adalah konseptor perang enam hari atau Perang Yom Kippur, meskipun kesudahan dari perang itu wilayah Israel bertambah luas, pada akhirnya Anwar Sadat meyakini sekaligus menyadari bahwa jalan perdamaian adalah perundingan.

Dimediasi Presiden Jimmy Carter, Presiden Anwar Sadat melakukan perundingan perdamaian dengan Perdana Menteri Israel Manachen Begin di satu tempat bernama Camp David.

Langkah yang ditempuh Sadat berdamai dengan Israel membuat marah banyak pihak. Pada 6 Oktober 1981, pada saat menyaksikan parade militer Angkatan Perang Mesir, Letnan Khalid Islambouli diiringi empat prajurit berjalan ke mimbar kehormatan, bersamaan dengan milintas pesawat tempur di udara, Khalid dan empat prajurit memuntahkan peluru kearah Anwar Sadat yang sedang menyaksikan parade dari mimbar kehormatan.

Anwar Sadat tewas dengan memakai pakaian kebesaran militer. Khalid Islambouli yang kecewa dengan langkah Sadat hendak berdamai dengan Israel, tidak pernah menyesal telah membunuh Sadat.

“Saya membunuh Firaun”, kata Khalid di persidangan.

Memang sulit mendamaikan perseteruan antara dua keturunan yang sebetulnya adalah saudara sepupu.  Bani Israel adalah cicit-cicit dari Ya’qub sedangkan orang Arab adalah cicit-cicit Ismail. Sedangkan Ya’qub dan Ismail adalah anak Nabi Ibrahim. Sampai kapan perseteruan antar kedua saudara sepupu ini akan berakhir?

Mungkin saja akhir dari perseteruan Arab dan Israel seperti akhir dari brata yudha di mana dua saudara sepupu yakni Hastina dan Pandawa perang puput habis-habisan. Akhir dari perseteruan itu adalah mayat-mayat yang bergelimpangan diseluas padang pertempuran Kurukshetra. Konon yang hidup menurut kisah hanya 10 orang.

Pemimpin Yang Diperhitungkan Oleh Dunia

Apapun yang dilakukan oleh Presiden Soeharto dalam usaha ikut mendamaikan pertikaian antara Israel dan Palestina, berpotensi juga mengalami pembalasan dari radikalis salah satu kelompok.  Juga pernah resiko ditempuh oleh Presiden Soeharto pada waktu berkunjung ke Sarajewo yang sedang dalam situasi perang saudara pada Maret 1995, pada hal sehari sebelumnya, pesawat Utusan Khusus PBB Yasushi Akashi bolong-bolong saat mendarat di Sarajewo.

“Sebagai Ketua Non Blok, saya harus datang ke negara anggota yang sedang menghadapi masalah”, demikian alasan Presiden Soeharto datang ke Sarajewo yang sedang mengalami perang saudara.

Dan itu adalah resiko dari seorang pemimpin negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, sekaligus Ketua OKI dan Ketua Non Blok.

Dapat saja itu mengikuti jejak yang ditorehkan oleh Presiden Soekarno—pada usia republik ini belum genap 10 tahun, masih masuk dalam katagori negara miskin, pada April 1955—Presiden Soekarno mengundang negara-negara  Asia dan Afrika ke Bandung, mengadakan konferensi yang menghasilkan Dasa Sila Bandung. Puluhan negara yang terjajah berhasil merdeka karena inspirasi dari Dasa Sila Bandung.

Suara Presiden Soekarno menggelegar mengatakan tidak bergantung pada blok barat atau timur.

“Kami non blok”, kata Soekarno.

Pikiran-pikiran Soekarno menginspirasi dan berkontribusi pada tatanan dunia. Namanya diabadikan menjadi nama jalan diberbagai kota di dunia. Pertanyaannya, kapan lagi kita memiliki pemimpin yang diperhitungkan oleh dunia? {}

Sumber : Kompasiana (Sabtu, 18 April 2020, 18:25)

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.