PRESIDEN SOEHARTO: HURU-HARA TAK AKAN MENGATASI KESULITAN

PRESIDEN SOEHARTO: HURU-HARA TAK AKAN MENGATASI KESULITAN

 

Jakarta,  Merdeka

Presiden Soeharto menegaskan, huru-hara tidak akan membantu mengatasi kesulitan. Hanya dengan pikiran yang jernih dan keikutsertaan semua pihak, bangsa Indonesia dapat keluar dari kemelut yang dihadapi dalam waktu tidak terlalu lama.

“Kita patut bersyukur walaupun ada gejolak dan unjuk rasa di sana sini, seluruhnya itu masih diresapi rasa tanggung jawab yang besar terhadap segala kemajuan yang sudah dicapai selama ini,” kata Presiden Soeharto ketika membuka Musyawarah Nasional V Dharma Wanita di Istana Negara, Jakarta, Senin.

Dalam acara yang dihadiri Wapres dan Nyonya Hasri Ainun Habibie, Presiden menekankan pula, menjadi kewajiban bersama untuk tetap memelihara kejernihan berpikir, terutama dalam situasi sulit seperti sekarang ini, di samping menanamkan dan memelihara kesehatan lahir-batin dalam keluarga serta mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kaum muda.

Diutarakan, sebagai isteri pegawai negeri, jajaran Dharma Wanita tentu menyadari betapa besarnya kesulitan yang sedang dihadapi bangsa dan negara.

“Saya percaya seperti juga dengan ibu-ibu lainnya,secara pribadi ibu-ibu warga Dharma Wanita ikut merasakan dampak krisis moneter dan krisis ekonomi yang sedang kita hadapi,” kata PakHarto.

Dijelaskan, barang-barang kebutuhan rumah tangga telah meningkat harganya. Tidak sedikit pabrik-pabrik yang menghentikan usahanya. Dan, bahkan banyak di antaranya yang putera atau puterinya kehilangan pekerjaan.

“Meskipun demikian, saya minta agar ibu-ibu selain tetap bersabar dan tabah menghadapi cobaan berat yang dirasakan bersama, juga aktif mencari cara-cara untuk mengatasi kesulitan sekarang ini, terutama dalam hal-hal yang berada dalam jangkauan masing-masing,” katanya.

Presiden kemudian menjelaskan, sejak dilantik 16 Maret lalu, seluruh jajaran Kabinet Pembangunan VII bekerja keras merumuskan berbagai kebijakan reformasi ekonomi dan keuangan yang diperlukan.

Menurutnya, kebijakan reformasi ekonomi dan keuangan akan dilaksanakan secara konsisten. Karena, hanya dengan sikap yang konsisten itu kita akan dapat keluar dari kemelut ekonomi dan keuangan secara bertahap.

“Saya minta agar ibu-ibu mengikuti dengan cermat seluruh kebijakan reformasi ini dan dalam bidang kegiatannya sendiri agar ikut melaksanakan dan menyukseskannya,” imbaunya.

Ditambahkan, jika seluruh lapisan dan golongan dalam masyarakat bersatu padu mengerahkan segala kemauan dan kemampuannya, maka semua tantangan dan ujian yang dihadapi, betapapun beratnya akan bisa diatasi.

Presiden juga meminta agar ibu-ibu Dharma Wanita membantu para suarni serta meringankan beban mereka dalam mengabdi kepada nusa dan bangsa.

“Dalam situasi yang berat seperti sekarang, tugas para suami yang menjadi pegawai negeri bertambah berat. Mereka dituntut untuk bekerja lebih keras dan lebih tekun lagi dengan sarana dan prasarana yang semakin terbatas dan dengan penghasilan yang pas-pasan,” katanya.

Menurutnya, dalam situasi serba sulit sekarang ini, para ibu anggota Dharma Wanita mampu menumbuhkan sikap gotong royong guna mengatasi masalah-masalah bersama yang dihadapi. Presiden berharap selain pandai-pandai mengelola ekonomi rumah tangga sendiri, ibu-ibu hendaknya juga meningkatkan solidaritas terhadap penderitaan lapisan masyarakat yang kurang mampu. (FN)

Sumber : Merdeka (14/04/1998)

___________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal.226-227.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.