PRESIDEN SOEHARTO DIDEPAN KADIN PERANCIS PERLU POLA BARU KERJASAMA INTERNASIONAL UNTUK PEMBANGUNAN

PRESIDEN SOEHARTO DIDEPAN KADIN PERANCIS PERLU POLA BARU KERJASAMA INTERNASIONAL UNTUK PEMBANGUNAN [1]

 

Paris, Angkatan Bersenjata

Presiden Soeharto telah menjelaskan kepada pengusaha2 Perancis di Paris hari Selasa bahwa bagi Indonesia kerjasama Internasional bukanlah suatu hal yang tahu.

Kepala negara yang berbicara dalam suatu jamuan makan siang yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri Paris untuk menghormatinya mengemukakan bahwa Indonesia membuka pintunya lebar2 untuk kerjasama ekonomi dengan negara manapun juga.

Akan tetapi kerjasama itu didasarkan atas saling hormat menghormati tanpa mencampuri urusan dlm negeri masing2 dan yang saling menguntungkan.

Pertemuannya dengan Kamar Dagang dan Industri itu bagi Presiden Soeharto merupakan bagian daripada acara di Paris yang dipersiapkan untuknya yang berhubungan dengan usaha2 ekonomi dan teknologi.

“Arti bantuan luar negeri dan kerjasama Internasional”, demikian Presiden Soeharto antara lainnya merupakan pengalaman yang khusus bagi kami.

Presiden mengemukakan lebih lanjut bahwa olehnya harus diakui arti dan peranan bantuan luar negeri dalam hubungan hasil-hasil yang dicapai dibidang pembangunan di Indonesia. Tanpa kesediaan negara2 maju untuk membantu maka hasil2 yang kami capai tentu tidak secepat sekarang ini”, kata Presiden.

Akan tetapi olehnya dikemukakan juga bahwa bagi Indonesia tidak terdapat kesangsian bahwa pada akhirnya pembangunan setiap bangsa adalah tanggungjawab penuh dan haknya bangsa itu sendiri.

Tiba Saatnya

Berbicara lebih jauh mengenai kerjasama internasional itu presiden Soeharto berpendapat bahwa kini sudah tiba saatnya untuk memberi dan membuat pola baru dalam kerjasama internasional untuk pembangunan.

Dengan hal itu, demikian harapan Kepala Negara hendaknya mendudukkan semua negara, baik yang sudah maju maupun yang sedang berkembang dan negara pemberi maupun penerima bantuan sebagai partner yang sedang mengambil bagian di dalamnya dan bersama-sama pada menikmati bagiannya.

Dalam hubungan ini oleh Presiden memperingatkan, bahwa tak ada yang dapat menyangkal bahwa jurang pemisah yang mana dalam negara setara negara2 berpunya dan bahwa negara tidak berpunya, untuk meratakan kesejahteraan sesama, benar2 merupakan sumber ketegangan dunia.

“Disinilah muncul panggilan semua bangsa untuk bekerjasama sebab tanpa itulah, baik yang tidak baik yang terjadi hasrat semua bangsa didunia tak pernah akan menjadi kenyataan,” demikian Presiden.

Usaha Sendiri

Ketika unsur menjurus masalah – masalah dibidang kemakmuran di Indonesia, Presiden Soeharto mengatakan, bahwa dorongan terbesar berasal dari kemauan dan usaha sendiri.

“Sejak tahun 1969,” demikian digambarkan, “kami telah makin mengerahkan dukungan dalam negeri yg terus meningkat hingga sekarang ini.”

Hal itu menurut Kepala Negara, dimungkinkan karena makin stabilnya nilai tukar rupiah, hal mana merupakan pula petunjuk bahwa masalah pembangunan di bidangnya beIjalan efektif.

Untuk melaksanakan azas demokrasi ekonomi yg kami anut, kata Kepala Negara, bahwa untuk diprogramkan memikul tanggung jawab dalam menggerakkan pembangunan baik pengusaha swasta nasional maupun perkumpulan2 koperasi.

“Kaidah penting dalam demokrasi ekonomi Indonesia,” demikian ditambahkan adalah, bahwa negara tidak menguasai atau melaksanakan sendiri seluruh kegiatan ekonomi.

“Negara2 demikian dikemukakan lebih lanjut,” secara sadar membatasi perannya pada sektor-sektor strategis dan menyangkut hajad hidup rakyat banyak. (DTS)

Sumber: ANGKATAN BERSENJATA (16/10/1972)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 27-28.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.