PRESIDEN SOEHARTO DIANGKAT SEBAGAI ‘BAPAK PENGGERAK KOPERASI’

PRESIDEN SOEHARTO DIANGKAT SEBAGAI ‘BAPAK PENGGERAK KOPERASI'[1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto diangkat sebagai “Bapak Penggerak Koperasi” oleh DPP Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). Acara pengangkatan akan dilakukan pada peringatan Hari Koperasi ke-50, 12 Juli mendatang.

Usulan itu disampaikan Ketua Umum DPP Dekopin Sri Mulyono Herlambang bersama pengurus lainnya kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka, Selasa (24/6).

Presiden menyatakan menerima, namun menurut Sri Mulyono, Kepala Negara minta gelar itu jangan sampai menimbulkan kesan kultus individu pada dirinya.

Sri Mulyono mengatakan, Pak Harto merupakan satu-satunya tokoh nasional yang dinilai paling pantas menerima gelar tersebut. Pilihan kepada Pak Harto ini

merupakan aspirasi dari bawah baik melalui rapat anggota koperasi primer maupun pusat koperasi.

Sekjen DPP Dekopin Agus Sudano menjelaskan Bung Hatta 50 tahun lalu dianugerahi gelar “Bapak Koperasi” pada Kongres Koperasi di Tasikmalaya. Bung Hatta dinilai telah meletakkan ide dasar filosofi koperasi ke dalam UUD 45 beserta bab penjelasannya. Karena situasi politik waktu itu menurut Agus Sudano. Bung Hatta belum sempat menggerakkan koperasi secara penuh.

Lebih Koperasiwan

Di lain pihak, Pak Harto sejak menjabat Komandan Resimen di Solo tahun 1952-1953 telah menggerakkan koperasi. Pada waktu itu istri-istri prajurit ABRI yang ditinggal suaminya berjuang ke medan perang, mengirim surat kepada Pak Harto untuk meminta bantuan. Menanggapi itu Pak Harto kemudian mengajak para istri prajurit untuk menambah penghasilan melalui koperasi. Dari sinilah kemudian dibentuk koperasi gotong royong di tiap kesatuan ABRI.

“Jadi beliau (Presiden red) bisa menerima apa yang kita usulkan tadi, karena bukti-bukti selaku penggerak.” kata Sri Mulyono.

Begitu pula saat menjabat Presiden, menurut Agus Sudano, koperasi makin digerakkan oleh Pak Harto dengan dibentuknya koperasi unit desa (KUD), koperasi pegawai negeri, koperasi ABRI dsb.

“Beliau lebih koperasiwan sehingga daerah­-daerah mengusulkan sebagai Bapak Penggerak Koperasi.” katanya.

Merger Bank

Ditanya apakah rencana merger 7 bank pemerintah tidak mengkhawatirkan koperasi dalam hal penyaluran dana Agus mengatakan, penggabungan bank pemerintah diharapkan justru membuat pendanaan ke koperasi makin besar.

Menurut Bendahara DPP Dekopin Noorbasha, yang terpenting bukan dana dari bank tetapi bagaimana koperasi diberi proyek-proyek pemerintah. Sejumlah departemen, seperti Deperindag, Depkes bisa memberikan proyeknya kepada koperasi.

Selama ini, kata Noorbasha, tidak ada proyek-proyek pemerintah yang diberikan kepada koperasi.

“Saya bisa jamin, kalau kita diberi proyek, kita akan kerja secara professional.” katanya.

Diakui Sri Mulyono, selama 4 tahun terakhir koperasi belum melangkah semaju swasta dan BUMN. Karena itu dalam kepengurusan yang baru ini, Dekopin bertekad mengejar ketertinggalannya, dengan menjalin kerja sama dengan pemerintah dan unsur-unsur lainnya.

Untuk melangkah ke arab itu, tugas pertama pengurus bam adalah mengubah citra negative koperasi. Kedua, sesuai UU No.25 bahwa koperasi adalah badan usaha maka selain Dekopin juga ada badan usaha yang disebut Koperasi Bisnis Indonesia.

Melalui badan usaha, koperasi melakukan kegiatan bisnis yang mengikuti suasana dan situasi yang berkembang. Dalam waktu dekat Dekopin akan bertemu dengan Kelompok Jimbaran dan Kunas (Kemitraan Usaha Nasional).

“Kita menggunakan kemitraan sebaik-baiknya untuk mengejar ketinggalan.” Ujarnya optimis.

Potensi untuk mengejar ketinggalan, menurut Sri Mulyono, besar sekali. Sebab, koperasi memiliki lapisan di bawah yang kuat, termasuk KUD dan unit-unit usaha. Secara makro, koperasi diharapkan, berperan lebih penting dan strategis di GBHN sehingga menjadi bagian integral dari perekonomian nasional. Secara mikro, Koperasi Bisnis Indonesia mengadakan bisnis, baik di dalam maupun di luar negeri.

Sumber : SUARA KARYA (25/06/97)

________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 389-391.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.