Presiden Soeharto Di Caracas KERJA SAMA SELATAN – SELATAN MUTLAK PERLU TINGKATKAN KEGAIRAHAN EKONOMI

Presiden Soeharto Di Caracas KERJA SAMA SELATAN – SELATAN MUTLAK PERLU TINGKATKAN KEGAIRAHAN EKONOMI

 

 

Caracas, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mengatakan, tujuan kerja sama Selatan-Selatan bukanlah semata-mata untuk mengurangi ketergantungan pada negara-negara maju ataupun untuk memperkuat kemampuan negosiasi kolektif. “Kerja sama Selatan-Selatan ini mutlak perlu untuk meningkatkan kegairahan ekonomi dunia”.

Hal itu dikemukakan Presiden Soeharto pada jamuan santap malam kenegaraan untuk menghormati Presiden Indonesia beserta lbu Soeharto yang diselenggarakan oleh Presiden Venezuela beserta Nyonya Blanca Rodriguez de Perez di Istana La Casona, Caracas, Venezuela, Senin (25/11) malam waktu setempat (Selasa pagi WIB).

Oleh karena itu, lanjut Presiden, kami mempunyai harapan yang tinggi agar pertemuan puncak ini menghasilkan keputusan-keputusan yang dapat memacu lebih cepat lagi kerja sama Selatan-Selatan dan dihidupkan kembali dialog Utara-Selatan. “Dengan itu kita dapat memberi sumbangan nyata bagi penyelesaian masalah-masalah pembangunan yang dihadapi negara-negara berkembang dan keadilan dunia pada umumnya.” Demikian dilaporkan wartawan Pembaruan Moxa Nadeak dari Caracas.

Sebelumnya Kepala Negara Indonesia mengatakan, dewasa ini kita merasakan berlangsungnya perkembang an yang cepat dan mendasar dalam hubungan intemasional. Proses perubahan itu membawa pengaruh yang luas, dalam bidang politik, ekonomi maupun keamanan.

“Perang dingin terus mereda. Ketegangan internasional makin berkurang. Di mana-mana dan semua pihak ingin menggunakan dialog guna menyelesaikan berbagai konflik dan sengketa. Semua itu kita sambut dengan hati lega dan penuh harapan.”

Namun di balik itu, kata Presiden Soeharto, merasa prihatin melihat perkembangan yang sangat positif itu tidak diikuti pola hubungan antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang di bidang ekonomi. Bahkan sebaliknya, kesenjangan makin melebar antara negara-negara maju dan negara- negara berkembang.

“Jika tidak dapat diatasi secara mendasar, keadaan ini dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan yang menjadi awal dari bencana di masa mendatang. Karena itu dialog Utara-Selatan perlu dilanjutkan. Untuk itu, kerja sama ekonomi Selatan-Selatan perlu diperluas dan dimantapkan dengan melaksanakan secara sungguh-sungguh program-program yang telah disepakati.”

 

Non Blok

Presiden Soeharto juga menyatakan, menyambut hangat diterimanya Venezuela sebagai anggota Gerakan Non Blok pada Konferensi Tingkat Tinggi IX di Beograd bulan September 1989.

Presiden juga menyampaikan terima kasih kepada Venezuela dan negara-negara Non Blok lainnya, yang telah memberikan kepercayaan kepada Indonesia untuk menjadi tuan rumah KTT Gerakan Non Blok tahun depan. Sejak semula kami juga menyambut baik peranan positif yang dimainkan Venezuela, dalam rangka kerja sama Pakta Andean, Rio Group dan Ibero Amerika, kata Presiden.

Menyangkut kerja sama dalam OPEC (Organisation of Petroleum Exporting Countries – organisasi negara-negara pengekspor minyak) Presiden Soeharto menyatakan kegembiraannya. Sebagai sesama negara anggota OPEC, kedua negara mempunyai persepsi yang sama mengenai berbagai masalah yang dihadapi. Kedua negara juga sama-sama aktif bertindak sebagai penengah untuk menjembatani perbedaan-perbedaan yang timbul serta bersama-sama mencari jalan keluar untuk mempertahankan solidaritas OPEC.

“Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apabila saya katakan bahwa kerja sama Indonesia dan Venezuela dalam rangka OPEC ini merupakan kerja sama yang penting dan bersejarah. Saya yakin bahwa kerja sama ini bukan saja masih diperlukan tetapi bahkan perlu ditingkatkan lagi, dalam upaya menjaga kestabilan harga minyak dunia.” Kepala Negara juga mengatakan menyambut gembira terselenggaranya pertemuan produsen dan konsumen minyak di Paris bulan Juli lalu, yang merupakan gagasan Pemerintah Venezuela dan Pemerintah Perancis.

Presiden mengatakan, persahabatan antara kedua bangsa dan negara mempunyai dasar yang kuat Venezuela dan Indonesia sama-sama memperoleh kemerdekaannya melalui perjuangan yang gigih, walaupun bangsa Venezuela sekitar satu seperempat abad lebih dulu menjadi bangsa yang merdeka. Kedua bangsa juga sama-sama anti penjajahan dan memegang teguh prinsip-prinsip hidup berdampingan secara damai, sating menghormati kedaulatan, saling tidak mencampuri urusan dalam negeri dan sating bekerja sama untuk tujuan-tujuan konstruktif.

 

Simon Bolivar

Sebelumnya Senin pagi, Presiden Soeharto meletakkan karangan bunga di Makam Simon Bolivar (Panteon Nasional), dengan didampingi oleh Menteri Dalam Negeri Venezuela Alejandro Izaguire.

Makam ini merupakan bangunan monumental yang juga merupakan makam­makam pahlawan Venezuela lainnya. Berbagai patung pahlawan berdiri di bangunan itu, sementara atapnya di bagian dalam dihiasi lukisan-lukisan sejarah Venezuela.

Petijenazah Simon Bolivar diletakan pada tempat yang tinggi di bagian ujung di dalam gedung itu. Di atasnya lampu kristal yang besar memayunginya. Upacara peletakan karangan bunga ini berlangsung khidmat.

 

 

Sumber : SUARA PEMBARUAN (27/11/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 254-256.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.